Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
40. Catur


__ADS_3


Catur



"Aiiyaah! Baiklah, sekarang kita sama-sama 1 poin. Sekarang bermainlah dengan serius Jin'er, Guru akan bermain lebih serius sekarang," ujar Tang Zhou dengan nada serius.


Hyunjin mengangguk dan menyusun kembali anak caturnya seperti semula. Ini sudah ke 2 kalinya Tang Zhou kalah bermain catur dengan Hyunjin. Awalnya Tang Zhou mengira Hyunjin akan sangat muda dikalahkan karena umurnya yang masih muda. Tapi ternyata sudah 2 kali mereka bermain, selalu Tang Zhou yang kalah.


Hyunjin menggerakkan anak caturnya dengan santai, lalu diam menunggu pergerakan dari Tang Zhou. Terlihat Tang Zhou sangat serius kali ini, berbeda dengan sebelumnya yang sempat bersenda gurau. Namun sekarang hanya suara geseran catur yang terdengar.


2 jam kemudian ....


"Masih ingin bermain Guru?" tanya Hyunjin pelan seraya kembali menyusun anak caturnya. Tang Zhou kalah lagi dari Hyunjin.


Ekspresi lembut dan kalem Tang Zhou berubah, sejak awal dia masih sulit menerima kekalahannya dalam bermain catur. Selama ini Tang Zhou tidak pernah kalah bermain catur dari siapapun terkecuali Sakura.


"Sekali lagi!" seru Tang Zhou sambil kembali menyusun anak caturnya.


'Ini sebenarnya aku yang mengajari dia? Apa dia yang mengajari aku?'


Tang Zhou menampakkan raut wajah kesal dan malu. Dia malu kalah bermain catur dari anak usia 7 tahun, sedangkan umurnya sudah menginjak usia 30 tahunan.


2 jam kemudian hasilnya tetap sama, skor menjadi 4-0. 4 untuk Hyunjin, dan 0 untuk Tang Zhou. Tang Zhou berdecak kesal pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa kalah dari muridnya yang beda setahun dengan usia anaknya. Bukankah ini memalukan untuk kaum senior sepertinya? Apalagi jika semua penghuni Kekaisaran Tang mengetahui sang senior catur kalah bermain dengan anak berusia 7 tahun.


Hyunjin tersenyum kecil melihat kekesalan Gurunya, kembali lagi Hyunjin menyusun anak caturnya namun terhenti karena Tang Zhou langsung mengatakan sudah tidak ingin bermain catur lagi.


"Ahh ... baiklah Guru." Hyunjin membereskan semua anak catur dan memasukkannya kembali ke dalam kotak catur. Sekarang hati Hyunjin sudah membaik, tenyata bermain catur membuat Hyunjin melupakan penyerangan tadi.


Tang Zhou melirik kegiatan Hyunjin yang membereskan catur. Tang Zhou mengukir senyum karena Hyunjin mengingatkannya kepada seseorang yang pernah mengalahkannya bermain catur.


"Jin'er bukankah kau bilang kau tidak bisa bermain catur? Lalu ini apa? Sebenarnya aku yang mengajarimu atau aku yang belajar darimu?"

__ADS_1


Hyunjin langsung terdiam kaku. Terlalu asik bermain catur dengan Tang Zhou, Hyunjin sampai lupa bahwa awalnya dia mengaku bodoh dan ingin belajar dari Tang Zhou. Sekarang terlihat seperti kebalikannya.


'Kenapa aku bisa lupa!?'


"Kau murid yang berbakat Jin'er. Guru mengaku kalah bermain darimu, tidak banyak anak seusiamu yang bisa melakukan hal sepertimu."


Tang Zhou menatap Hyunjin sambil tersenyum, Tang Zhou mengakui kehebatan serta kecerdasan Hyunjin yang tak sebanding dengan usianya. Bukankah usia 7 tahun masih sibuk dengan dunia bermain?


Hyunjin tidak hanya tampan, kuat, namun juga berbakat dalam bermain catur. Catur juga termasuk dalam satu permainan atur startegi, jika kamu pintar bermain catur, tidak akan salah lagi kamu juga akan pintar mengatur strategi. Sangat jarang ditemukan anak kecil usia 7 tahun mampu menguasai permain catur sebaik sang profesional catur.


"Guru terlalu memuji, murid masih butuh belajar lagi dari Guru. Sebenarnya murid hanya melihat cara Guru bermain dan mengikutinya." Hyunjin merendahkan diri dan berbohong lagi.


"Tidak Jin'er, kau memang berbakat. Kau adalah orang ke 2 yang mengalahkanku, setelah Sakura, ibu Clarisa. Sebenarnya dari awal Guru belum ada mengajarimu apapun? Guru sudah melihat dari setiap susunan caturmu, ternyata kau saingan yang lumayan. Tadi Guru masih belum serius."


Tang Zhou tertawa memecahkan heningnya ruangan kurang cahaya. Hyunjin hanya terkekeh pelan melihat Gurunya masih belum mau mengaku kalah sepenuhnya.


"Tapi, Sakura sudah tenang di surga." sambung Tang Zhou lagi menghentikan tawanya yang terdengar hambar, sambil tersenyum melirik ke arah lukisan yang paling besar. Lukisan yang terpapang jelas di belakang meja kerja Tang Zhou.


Hyunjin terdiam lalu beralih menatap lukisan wanita cantik itu. Wanita yang tidak jauh berbeda dari usia Hyunjin yang seharusnya 32 tahun.


"Dia wanita yang hebat. Bahkan putrinya pun sama hebatnya dengan dirinya." sambung Tang Zhou lagi.


Hima Sakura


Hima Sakura, wanita berambut panjang hitam dengan kulit putih seperti susu. Mata sayu yang dan parasnha, membuatnya terlihat seperti dewi kecantikan. Sakura lumayan tinggi, dan memiliki leher jenjang yang menawan. Parasnya yang lembut sudah pasti menjadikannya wanita impian para lelaki.


Hima Sakura tidak kalah cantik dari Yun Shu saat usia Yun Shu 30 tahunan. Sesuai dengan namanya Sakura, dia juga memiliki kecantikan yang sama seperti bunga Sakura.


Sayangnya Sakura meninggal 6 tahun yang lalu setelah melahirkan Clarisa. Karena Daimont pelaku utama matinya Sakura.


*****


Clarisa berdiam di hadapan batu nisan besar dekat bukit Hima Sakura. Nama bukit yang sama seperti nama sang pemilik nisan di hadapan Clarisa. Tatapan Clarisa kosong namun tersirat kesedihan dan kerinduan yang mendalam.

__ADS_1


"Ibu, aku tidak tahu harus mengatakan apalagi selain rindu ingin bertemu denganmu," ujar Clarisa sambil mengusap air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mata indahnya.


"Usiaku genab 7 tahun lusa nanti, tepat hari peringatan kematian ibu. Aku ingin ibu memberiku hadiah." Sambung Clarisa lagi sendu sambil menunduk.


Air mata Clarisa memang terus mengalir, namun tidak ada suara tangis yang keluar dari mulutnya. Dia tidak ingin menangis di hadapan ibunya, karena ayahnya pernah mengatakan bahwa ibunya tidak ingin melihat Clarisa menangis.


"Kuharap anda memberiku hadiah nanti. Aku akan menunggu hadiah itu sampai kapan pun."


Mungkin terdengar aneh meminta hadiah pada orang yang sudah mati, tapi menurut Clarisa inilah salah satu alasannya agar bisa melihat Ibunya, entah terkabul apa tidak? Tidak ada yang tahu.


Jika saja ada yang mendengarnya, mungkin mereka akan menganggap Clarisa tengah gila atau depresi berat.


Clarisa menghapus lagi air matanya dan langsung segera meninggalkan makam ibunya. Karena dia tahu sebentar lagi para prajurit akan datang untuk menghias makam ibunya. Tradisi ini selalu terjadi setiap setahun sekali untuk memperingati kematian pahlawan wanita Kekaisaran Tang.


Ada kisah romantis, action dan sad tentang Kaisar Tang dengan Hima Sakura yang tak akan pernah terlupakan.


.


.


.


.


.


.


.


Selalu dukung karya author ya dengan like, vote dan rate 🌟 lima :)


Terimakasih juga telah mendukung karya author sejauh ini ;)

__ADS_1


Selamat berlebaran ya, tetaolp ikuti protokol kesehatan, jaga jarak dari kerumunan. Mencegah lebih baik dari pada mengobati.


Jangan lupa untuk bahagia juga hari ini :)


__ADS_2