Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
2. Gaya mereka berbeda denganku.


__ADS_3

Kakiku masih asik melangkah, mataku melihat kiri dan kanan. Semua serba canggi.


'Inikah yang di namakan masa depan? Seperti ramal petua itu.'


Kulihat ada sebuah bangunan lumayan besar bergambar kue yang bergitu besar di atas pintunya, kutatap di dalamnya tidak begitu ramai. Aku pun masuk ke dalam lalu berhenti di depan sebuah lemari kaca besar. Mata merahku tertuju pada sebuah kue yang besar berhiaskan anekah coklat.


'Sepertinya enak?'


Langsung saja tanganku mencuil kue itu dan memakannya. Namun ada serang wanita paruh baya yang melarangku. "Nona jika kau ingin makan kue ini silakan duduk di sana."


Awalnya aku bingung, tapi aku menurut. Duduk di kursi ukiran kayu dekat jendela. Kulihat bunga sakura berguguran di depan banguan aneh ini.


'Sebenarnya aku tidak paham dengan tempat ini! Tapi aku bisa tahu ini adalah dunia yang diceritakan si peramal bangka itu.'


Tak lama menunggu, kue yang sama persis dengan kue tadi datang.


'Kue ini tidak pernah kutemui di Kerajaan.'


Lalu kugunakan pisau, garpu, dan sendok yang sudah disediakan. Makan ala kerajaan memang sudah motoku, secara aku adalah putri kerajaan Zero. Saat aku asik makan, tiba-tiba 3 orang wanita dan 1 pria datang menghampiriku.


"Wah ada Cosplay rupanya," ujar salah satu gadis itu yang terkagum-kagum melihatku.


Aku menengok kearah mereka, aku bingung dengan yang mereka sebut 'Cosplay'.


'Siapa Cosplay? Dan di mana yang mereka sebut Cosplay?'


"Lihatlah, baju ala putri kerajaan, lihat pedangnya pun asli! Aku baru nemu Cosplay seperti ini?" ujar gadis itu lagi.


'Apa yang mereka maksud Cosplay adalah aku?'


"Mbak bisa foto bareng gak?"

__ADS_1


"Foto?" tanyaku bingung.


"Iya, Rel fotoin ya." Ketiga gadis itu berdiri di dekatku, dan satu pria itu berdiri di depanku sambil memegang 1 kotak kecil yang bergantung di lehernya.


Setelah selesai ketiga gadis dan pria itu pamit pergi. Aku kembali melanjutkan makanku yang tertunda, pedangku kuletakkan di samping kiriku. Setelah usai makan segera kudatangi pemilik bangunan ini.


"Makanannya enak, belum pernah aku makan makanan seperti ini." Pujiku pada wanita paruh baya pemilik gedung ini.


"Memang makanan di sini enak, lain kali jika mau makan kue lagi beli saja di sini."


"Tolong bungkuskan aku satu keu yang seperti tadi." Pesanku lagi. Maka segera wanita itu membungkuskanku 1 kue dalam kotak berukuran sedang. Setelah selesai wanita itupun memberikanku kue itu dalam satu kantung tas berwarna coklat.


"Berapa?"


"2 $."


"2 $? Aku tidak punya 2 $," balasku seraya melihatnya. Kulihat dia menatap aku seperti ingin marah.


"Lalu kenapa Nona makan di sini jika tidak punya uang?" Wanita itu meninggikan suaranya seraya melotot padaku.


Kulihat mata wanita itu langsung membulat tidak percaya. Aku tidak ingin berbicara lagi, serega kupergi dari hadapan wanita itu.


*****


Siang pun berganti malam, seperti yang kuduga kota ini sangat luas. Aku sudah capek berjalan mengelilingi kota ini. Di sini tidak ada kuda, sangat menyebalkan. Seandainya ada kuda maka ini tidak akan mempersulitku bergerak cepat.


Aku terus berjalan sampai suatu jalan yang lumayan sepi. Kulihat 3 pria di depanku berjalan mendekatiku. Masing-masing dari mereka membawa pisau dan parang.


'Apa mereka ingin mencari masalah denganku?'


"Nona! Jika ingin lewat serahkan uangmu!" Salah satu pria berbadan besar mulai menggertakku.

__ADS_1


Sejenak aku terdiam, dan menatap tidak suka pada mereka. "Jadi kalian perampok?"


"Iya! Bisa dikatakan seperti itu! Sekarang lebih baik serahkan uangmu, maka kau akan selamat Nona." Salah satu dari menjawab pertanyaanku dengan berteriak kasar.


Aku meludah jijik pada 3 pria ini. "Kalian salah orang untuk merampok?!" ujarku pelan. Aku ingin memberi mereka sedikit pilihan, saat ini aku tidak ingin membunuh.


"Nona jangan banyak bicara langsung saja berikan uangmu!" Pria baju hitam membentakku.


"Lihat gadis ini, lumayan bukan?" Pria baju merah gelap memperhatikan bentuk tubuhku seraya mengelus dagunya.


Prakk....


Langsung kutampar wajahnya dengan pedangku.


'Beraninya dia memperhatikan tubuhku?'


Pria itu terlempar lumayan jauh, 2 temannya menatapku marah dan langsung menyerangku. Hanya memakai 1 tangan tanpa bergerak dari tempat aku melawan mereka.


"Lemah! Kalian sangat lemah!"


Salah satu mereka berdecak kesal lalu mengeluarkan sesuatu benda dari saku bajunya dan menekannya. Suara seperti letupan menggema di lorong jalan sepi itu. Sesuatu seperti besi kecil mengenai perutku. Bajuku warna hitam tapi tak menutupi perutku, dan rok hitam menjuntai ke tanah. Darah mengalir dari perutku, tapi tidak ada rada sakit sama sekali. Aku tersenyum miris lalu mengeluarkan benda kecil itu dari perutku.


"Dia manusia atau hantu?" Pria baju putih mulai merinding melihatku malah tertawa dengan luka tembakkan mereka.


Kubuka sarung pedangku, sambil tertawa menakutkan yang menggelegar. Suara seretan pedangku menggema di tanah keras ini.


"Darah dibayar dengan darah," ujarku dingin menakutkan.


3 detik membunuh 3 pria ini lumayan cepat bukan? 1 detik untuk 1 orang. Lagi-lagi pedang kesayangangku ini meminum darah segar. Ketiga kepala pria itu terputus. Aku puas, sangat puas! Setelah membunuh mereka, kulanjutkan perjalananku melewati jalan sepi ini. Di ujung jalan seorang anak kecil terdiam melihatku.


'Sepertinya dia melihatku membunuh 3 pria itu? Dia bisa saja melaporkanku pada orang lain, akan kulenyapkan dia!'

__ADS_1


Kepala boneka bersampingan dengan kepala anak kecil berumur 8 tahun. Malang sekali hidupmu? Seandainya kamu tidak melihatku maka aku tidak akan membunuhmu! Dia anak gadis kecil berkepang 2. Imut, lucu dan manis, tapi sayangnya umurmu tak panjang.


Dukung Author donk 😆😆


__ADS_2