
Hyunjin memacu kudanya dengan cepat, membuat Yun Shu memeluk erat di pinggangnya. Setelah berhasil menyelamatkan Yun Shu dan bangsawan lainnya. Sedangkan para penduduk desa Batah Putih sudah hangus di dalam kobaran api.
Hyunjin sempat berpamitan dengan Jenshen dan Kaguya. Jenshen dan bangsawan lainnya sangat-sangat berterimakasih kepada Hyunjin, tapi berbeda dengan Kaguya. Kaguya hanya diam sambil memberikan kepalan tos kepada Hyunjin, Kaguya menganggap Hyunjin menjadi patner yang cocok diajak kerjasama. Kaguya mengakui bahwa Hyunjin lebih hebat dan lebih cerdas darinya.
Bangsawan lainnya juga pamitan bersama Hyunjin dan Yun Shu, mereka juga akan pulang ke keluarga bangsawan mereka. Sebenarnya banyaknya datang bangsawan muda ke desa Bata Putih karena mereka ingin berliburan, apalagi desa Bata Putih terkenal tempat wisata yang amat bagus untuk dikunjungi. Tapi mereka lebih tertarik dengan pemandian air panas belerang.
Yang paling banyak berpamitan dengan Hyunjin adalah bangsawan kaum gadis, mereka mengambil kesempatan memeluk Hyunjin sebagai bentuk ucapan terimakasih. Padahal Hyunjin sudah mengatakan untuk tidak memeluk seperti itu. Tapi karena mereka sangat menyukai ketampanan Hyunjin serta Hyunjin telah menyelamatkannya, maka makin menjadilah mereka memuji serta menjilat Hyunjin.
Yun Shu sedikit kesal serta geram melihat mereka memeluk Hyunjin satu persatu, mereka berusaha memikat hati Hyunjin dengan pelukan mereka. Tapi sayangnya Hyunjin hanya tersenyum kikuk tidak terpengaruh oleh jilatan gadis bangsawan itu.
Hyunjin dan Yun Shu memiliki arah pulang yang berbeda dengan para bangsawan lain. Jadi perjalanan nanti Hyunjin mengajak Yun Shu untuk bersama-sama ke Kaisaran karena dia juga ingin pergi ke sana. Sedangkan bangsawan lainnya mereka pergi ke arah barat berbeda dengan Hyunjin dan Yun Shu yang ke arah timur.
'Hyunjin, kenapa kau begitu baik? Padahal kau bisa jalan sendiri meninggalkanku.'
Yun Shu memeluk pinggang Hyunjin begitu erat karena kuda tunggangannya berpacu sangat kencang. Kini tubuh Hyunjin lebih kekar dari sebelumnya membuat Yun Shu berkecamuk malu saat memeluk Hyunjin. Apalagi yang paling Yun Shu suka dari Hyunjin adalah bola matanya yang berwarna merah dan biru. Bola mata yang sangat indah dan sangat jarang ditemukan. Tapi tetap saja Yun Shu lebih menyukai Hyunjin yang baik hati tanpa membedakan siapa pun saat membantu.
******
"Putri jika kau lelah tidurlah dipundakku, aku rasa kita tidak perlu menghentikan perjalanan." Hyunjin menatap Yun Shu yang sudah mulai lelah.
"Apa tidak masalah aku bersandar?" Yun Shu menatap Hyunjin seraya menepuk-nepuk pelan punggung lebar Hyunjin.
"Tidak masalah," balas Hyunjin seraya kembali fokus ke depan.
Yun Shu tersenyum kecil. "Baiklah," ujarnya pelan seraya menyandarkan kepalanya di punggung Hyunjin.
Hari sudah gelap, andaikan bulan tidak bersinar terang dan juga penglihatannya yang semakin tajam. Hyunjin tidak akan bisa melanjutkan perjalanan.
"Mexs, berlari sekuat yang kau bisa. Bawa aku dan putri menuju ke Kaisaran Tang." Hyunjin mengelus kepala kuda hitamnya yang bernama Mexs.
Untungnya saat terjadi serangan mendadak Mexs bisa selamat dari para prajurit Naga Hitam. Mexs berlari menuju hutan agar para prajurit Naga Hitam tidak bisa menangkapnya, dan Hyunjin bisa mengetahui hal itu karena Hyunjin bisa merasakan kehadiran Mexs yang tak jauh darinya. Dan benar saja, saat Hyunjin bersiul memanggil Mexs, Mexs datang berlari begitu cepat ke arah Hyunjin, seolah Hyunjin itu adalah ibunya.
"Kyiaa!" Hyunjin berseru seraya menghentakkan tali kudanya, menyuruh agar Mexs mempercepat larinya.
Beruntunglah kuda yang dimiliki Hyunjin adalah kuda spesial, kenapa demikian? Karena Mexs bisa berlari 2 hari 2 malam tanpa berhenti. Itulah kelebihan kuda Berlian Hitam, tapi kekurangannya ialah tidak semua orang bisa menunggangi kuda seperti Mexs, jika tidak memiliki daya tarik besar kepada si kuda, maka kuda Berlian Hitam tidak akan mau ditunggangi.
Malam semakin larut, bulan pun semakin bersinar. Mexs tiada lelahnya terus berlari menyusuri jalan setapak. Samar-samar ke dua bola mata Hyunjin melihat dari kejahuan sekelompok berpakaian hitam seperti ninja, dan masing-masing dari mereka memegang samurai.
Bola mata Hyunjin bersinar karena pantulan cahaya bulan, membuat ke dua matanya tampak seperti mata hewan buas.
__ADS_1
Ketik sudah tidak jauh, Hyunjin menghentikan kudanya dan menatap 10 perampok di depan yang tak jauh darinya. Hyunjin menengok ke belakang, tampaknya Yun Shu tengah terlelap tidur di punggungnya. Seandainya Hyunjin tidak mengikat Yun Shu dengan kain di pinggangnya, mungkin saja Yun Shu sudah terjatuh ke tanah.
Hyunjin melepaskan tali pengikat di pinggangnya, lalu turun sambil menggendong tubuh Yun Shu yang tengah tertidur. Hyunjin menyandarkan Yun Shu di pohon besar di dekatnya. Setelahnya Hyunjin menatap para perampok yang tak jauh darinya seraya berjalan mendekati para perampok itu.
10 perampok itu menatap Hyunjin bingung, sepertinya tebakan mereka salah sebelumnya.
"Aku pikir dia adalah pengawal putri Yun Shu ternyata kita salah," ujar salah satu perampok pelan sambil menatap kawannya yang lain.
Hyunjin menaikkan sebelah alisnya seraya menatap 10 perampok berbaju hitam seperti ninja. "Ada urusan apa kalian dengan putri Yun Shu?"tanya Hyunjin datar tak berekspresi.
10 perampok itu menatap Hyunjin secara bersamaan, ternyata Hyunjin bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Padahal jarak mereka lumayan jauh beberapa meter, dan juga mereka berbisik pelan saat sedang berbicara.
"Tidak ada urusannya denganmu! Sekarang jika kau ingin lewat dengan selamat serahkan semua harta bendamu!"
"Menyerahkan? Jika aku tidak mau?"
10 perampok itu saling bertatapan, beberapa dari mereka tertawa mendengar ucapan Hyunjin seperti menantang mereka.
"Kau akan mati," jawab 10 perampok itu bersamaan.
"Hahaha ... jangan membuatku tertawa! Justru kalian yang akan mati jika berurusan denganku, jadi kusarankan segera pergi sejauh mungkin sebelum kuhitung sampai 5." Hyunjin menatap dingin ke arah 10 perampok itu setelah dia tertawa dengan lantang.
"1."
"Dia menghitung, apa dia tidak sedang bercanda?" Salah satu dari mereka manjadi sedikit gentar, melihat anak muda di depannya tampak serius dengan apa yang barusan dia katakan.
"Dia hanya membuat kita takut bodoh!" Salah satu mereka segera menimpali kawannya.
"2."
"Apa kau yakin? Aku lihat dia serius dengan ucapannya, bisa jadi dia pendekar kelas tinggi."
"3."
"Bodoh! Dia itu sendiri, buat apa takut?!" Kawan perampok itu geram dengan kawannya yang terlihat takut dengan anak muda di hadapan mereka. Jelas-jelas mereka unggul jumlah dibandingkan anak muda di depan mereka yang sendirian.
"4."
Hyunjin mulai melangkahkan kakinya pelan, membuat 10 perampok itu menjadi mundur dan waspada.
__ADS_1
"5."
"Sera-"
Sebelum perampok itu menyelesaikan ucapannya, Hyunjin sudah menyebut angka 5 dan langsung menghamtam kepala perampok itu hingga pecah tak beraturan.
Perampok lainnya menganga lebar melihat kawan mereka sudah tewas dengan cepat, bahkan mereka tidak bisa melihat apa yang membuat kepala kawan mereka pecah.
Mereka perlahan mundur menjaga jarak dengan anak muda di depan. Hyunjin hanya tersenyum kecil, entah kenapa semenjak Linfang sudah ada di dalam tubuhnya, Hyunjin mulai menyukai membunuh jiwa seseorang.
"Aku hanya membunuh seseorang yang akan membuat kekacauan di masa depan. Sudah kukatakan untuk segera pergi sejauh mungkin dalam hitungan 5 detik. Tapi kalian begitu keras kepala? Sekarang tidak ada waktunya meminta belas kasih atau ampunan, karena aku tidak memiliki ampunan untuk kalian semua."
Hyunjin melepaskan aurah pembunuhnya, membuat 9 perampok yang tersisah jatuh berlutut ke tanah. Entah kenapa tiba-tiba pundak mereka begitu terasa berat, dan bahkan mereka merasa begitu sesak untuk bernafas.
"Anak muda ini seorang pendekar tingkat tinggi!"
"Sudah kukatakan bukan? Kenapa kalian tidak percaya?" Kawan salah satu perampok menimpali temannya.
"Terlambat untuk menyesalinya! Kalian juga harus pergi menemani teman kalian di Neraka!"
Hyunjin bergerak cepat, mengahantam satu persatu kepala perampok itu dengan tangannya. Otak serta darah berceceran di tanah, membuat beberapa perampok menjadi bergetar hebat.
"Enyahlah!" Hyunjin menghantam kepala perampok terakhir dengan sekuat tenaga, membuat kepalanya hancur berkeping-keping. Otak serta darah terlempar ke segala arah.
Hyunjin mengibas tangannya yang berlumur darah, matanya menatap semua jasad perampok yang terbaring tanpa kepala. Hyunjin bergerak mundur hendak meninggali jasad perampok, tapi sejenak dia tertahan saat melihat ada beberapa hewan keluar dari sisi mulut jurang di dekat Hyunjin.
Hewan itu tidak memiliki mata, dia hanya memiliki hidung dan mulut yang lebar. Gigi hewan itu sangat tajam dan kuat. Tampaknya hewan itu tidak bisa melihat namun bisa merasakan bau darah. Sekitar 7 hewan keluar dari sisi jurang bergerak mengendus-ngendus seperti anjing.
"Hewan apa ini? Bulunya sangat indah. Tapi melihat giginya, dia pasti hewan pemakan daging yang berbahaya."
Hyunjin bergerak mundur secara pelan-pelan, dia tidak ingin mengganggu makan malam hewan di depannya. Apalagi hewan itu lumayan besar dari Hyunjin, sekitar 2 kali lebih besar dari tubuh manusia dewasa.
Hyunjin sedikit tertarik dengan bulu hewan itu yang begitu tebal dan indah, bulunya mengkilap seperti permata, dan warnanya keemasan seperti emas.
Hyunjin menggendong tubuh Yun Shu yang masih terlelap, dan segera naik ke kuda dan mengikatnya di pinggangnya. Hyunjin menyentakkan tali kudanya, membuat Mexs segera melesat pergi ke depan.
Mexs melompati hewan yang tengah asik memakan jasad manusia itu, lalu segera melenggang pergi secepat mungkin.
'Hutan ini lebih berbahaya daripada yang kudangar.'
__ADS_1
Terimakasih udah mendukung Auhtor sejauh ini☺