
Tidak perlu waktu lama, 3 hari ini Kabar kejadian perang di laut biru membuat orang-orang bertanya dan bingung sekaligus bahagia. Mereka bahagia karena Dewi Kematian dan Dewi Penguasa Laut Biru telah gugur dalam perkelahian mereka sendiri, para nelayan dan pelayar tidak perlu gusar lagi jika ingin ke laut. Begitu para bangsawan menjadi gembira atas kabarnya kematian Clarisa, mereka pun bersiasat untuk menyerang kerajaan Zero, karena mereka tahu kekuatan terbesar kerajaan Zero ialah si Monster Clarisa, sedangkan raja Arthur sudah memasuki usia senja.
Begitu juga Kerajaan Tang Yhun yang terus berduka atas kematian putri Yhun Eunha, walaupun kematian ratu Tang Shun juga mengembirakan tapi tetap saja tidak bisa menutupi berita duka putri Yhun Eunha. Sedangkan Hyunjin? Tidak ada yang tahu tentangnya, mereka hanya tahu tentang kematian ratu Tang Shun, putri Clarisa Zero, dan putri Yhun Eunha. Bahkan mungkin mereka tidak mengenal siapa itu Hyunjin? Atau tidak tahu bahwa ada sosok lain yang ikut tewas.
Hari ini adalah hari ke 5 raja Arthur melepaskan lampion ke udara untuk mengenang putri Clarisa dan ratu Celsi. Arthur sangat terpukul mendengar kematian putri semata wayangnya, baru saja 1 tahun yang lalu Celsi sang ratu pergi dan sekarang putrinya lagi yang menyusul, ini sangat membuat raja Arthur terpuruk.
"Putriku Clarisa, ayah ... ayah bahkan belum minta maaf padamu. Ayah bahkan belum bisa menjadi orang tua yang baik untukmu. Ayah kecewa pada diri ayah sendiri!" Arthur menatap lampion yang dipegangnya seraya menangisinya.
"Jika kau diizinkan untuk hidup sekali lagi, ayah janji akan menceritakan semua yang kau mau tahu putriku, ayah janji!"
Nyatanya itu semua percuma! Penyesalan memang selalu datang di akhir. Raja bukan penyihir yang mampu menghidupkan orang yang telah meninggal, jangankan mau menghidupkan melihat jasad putrinya saja tidak bisa! Bagaimana ingin menghidupkannya kembali? Itulah yang membuat Arthur sangat terpukul, dia ingin memakamkan anaknya dengan layak di samping makam istrinya. Tapi nyatanya raja terkuat hanya mampu menitihkan air matanya saja.
Mata sendu Arthur menatap langit malam yang diterangi banyak lampion, kini 2 lampion ada di tangannya. "Untukmu istriku yang tercinta." Satu lampion terbang meninggi. "Dan ini untuk putri kesayanganku." Lampion ke 2 pun malambung tinggi ke langit.
Arthur tak kuasa bertahan lama menatap 2 lampion itu, kambali lagi menitih butiran kerisatal di pelupuk matanya. Arthur kembali masuk ke kerajaan dan tetap membiarkan air matanya mengalir.
Banyak penghuni istana yang melihat raja mereka menangis, dan ketahuilah ini pertama kalinya mereka melihat kejadian itu. Arthur biasa selalu menyembunyikan kesedihannya karena ia seorang raja yang harus terkenal tegar dan tegas, tapi kali ini dia tak memperdulikannya lagi. Arthur hanya ingin menumpahkan semua penyesalan hatinya pada dirinya.
"Jika raja tidak makan raja bisa jatuh sakit, kalau raja sakit siapa yang akan memberikan perintah?" Jhonsen selaku duke di kerajaan memberi nasihat pada Arthur. Ini sudah hari ke 5 Arthur tidak pernah makan ataupun minum, dia selalu mengurung dirinya di kamar dan menyesali semua kebodohannya.
"Tidak Jhon! Bagaimana aku bisa makan kalau putriku saja belum ditemukan?" Arthur membalas dengan suara parau.
"Tenang raja, saya sudah mengerahkan para prajurit untuk mencari tuan putri hingga ketemu."
Arthur menarik senyum pahit. "Percuma Jhon, putriku mungkin sudah hancur lebur karena ledakan itu. Kau tahukan ledakan itu sangat besar hingga kerajaan Rain sendiri mendengarnya!"
'Apa ini? Apa raja sudah menyerah akan kehidupannya?'
"Sebelum ada bukti kuat, bisa saja putri masih hidup raja. Kita semua tahu bagaimana kuatnya tuan putri Clarisa."
"Jika memang sudah takdir, kita bisa apa Jhon?" Arthur mengusap wajahnya sedih, dia merasa gagal menjadi ayah seperti yang diinginkan Clesi.
'Raja Arthur, belum pernah saya melihat anda sesedih ini! Saya pastikan prajurit bisa menemukan putri walau hanya sebagian tububnya.'
*****
"Bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencanaku ayahanda? Ini kesempatan emas kita untuk membalas, selagi raja Arthur tengah melemah kita bisa melumpuhkan kerajaan dengan kempauan kita sekarang! Lagipula pelindung terkuat mereka sudah tewas karena ulahnya sendiri!" Hwang Jhin memberi saran.
Hwang Xhin manggut-manggut sedikit setuju dengan ide licik anaknya. "Kalau seperti itu kapan kita menyerangnya? Kerajaan Maxhi juga sudah lama tidak membalaskan dendam pada mereka! Ini bisa jadi kesempatan emas melenyapkan 1 kerajaan."
Semua di dalam ruang diskusi menyingrai licik, ternyata raja mereka setuju untuk membalaskan dendam mereka yang belum terbalaskan. Hwang Jhin mengepalkan tangannya ke udara merasa mereka sudah berada di atas angin bisa mengalakan kerajaan Zero.
"Tunggu apa lagi!? Besok pagi Ayah, kita harus melenyapkan secepatnya!"
__ADS_1
"Tapi perjalanan ke sana memakan 1 minggu." Yung Fang selaku Duke kerajaan angkat bicara.
"Tidak, kita akan menyerang mereka dengan kekuatan terbaik kita! Kita tidak perlu membawa prajurit, kita pasti mampu melawan mereka! Mereka bukan apa-apa tanpa Clarisa! Kita hanya perlu mengerahkan semua para kesatria kelas 1, panglima, jendral, dan bla bla bla ...."
Semua mendengarkan Hwang Jhin dengan antusiasa, yang direncanakan Hwang Jhin memang sedikit berbahaya dan gila! Menyerang tanpa prajurit bukannya itu sama aja bunuh diri? Tapi mereka yakin dengan kekuatan mereka sekarang, terlebih kerajaan Zero sedang melemah mereka sangat yakin.
Akhirnya mereka semua setuju prajurit tinggal di istana bersama raja, ratu dan duke. Sisahnya pergi menyerang kerajaan Zero. Pemimpin perang ini dipegang kendali oleh pangeran Hwang Jhin selaku anak raja, tidak hanya jahat dia juga licik dan pintar mengatur strategi.
Karena yang dikerahkan adalah pejuang-pejuang hebat, mereka hanya perlu menempu perjalanan lebih cepat sekitar 3 atau 4 hari dengan terbang dengan hewan perang mereka. Elang Capter adalah hewan perang terbaik mereka, tidak hanya ganas mereka juga cepat dan lincah. Dan juga jumlah yang menyerang tidak terlalu banyak jadi dengan jumlah Elang Capter mereka bisa menghantar perjalanan mereka.
"Aku memang tidak bisa membalaskan dendamku pada putri sialan itu, tapi paling tidak aku bisa membalasnya dengan kehancuran kerajaannya dengan tanganku!" Hwang Jhin sangat bersemangat hingga dia tidak bisa tidur, Hwang Jhin terus mengasah panah terbaiknya.
Jika kalian tahu, sebenarnya Hwang Jhin adalah pria pertama yang menyatakan perasaannya pada Clarisa. Tapi Clarisa menolaknya dengan alasan Hwang Jhin ini lemah darinya. Dulu kerajaan Maxhi dan Zero adalah kerajaan bersahabat yang paling terkenal. Ke dua kerajaan ini selalu melakukan kerjasama dalam politik ataupun ekonomi. Tak jarang ke dua kerajaan ini selalu menang dalam peperangan karena kerjasamanya. Tapi kerjasama itu tak bertahan lama karena Clarisa pernah memotong kaki Hwan Jhin, tentunys Clarisa ada alasan dalam melakukan itu.
Kejadian setahun yang lalu, Clarisa memotong kaki Hyunijin dengan tangannya sendiri. Itu adalah kejadian yang paling dikenang Hwang Jhin seumur hidupnya, sebab cintanya ditolak Hwang Jhin ingin melecehkan Clarisa karena kesal.
"Putri, aku Hwang Jhin ingin menyatakan perasaanku padamu." Hwang Jhin menunduk seraya memberikan bunga Clovers bunga tercantik dan terharum di dunia. Bunga yang hanya bisa ditemukan di bukit Naga yang sangat tinggi dan berbahaya karena dihuni oleh 5 ekor naga berbeda.
Clarisa menatap Hwan Jhin risi, ini sudah yang ke 5 kalinya Hwang Jhin menyatakan perasaannya. "Sudah kubilang aku tidak ingin memikirkan soal cinta saat ini pangeran Hwang Jhin! Kita masih terlalu muda untuk memikirkan hal seperti itu." Lagi-lagi Clarisa menolak dengan ucapan yang sama.
"Tapi putri, saya sangat menyukai putri."
Clarisa berdecak kesal, dia bingung harus menolak Hwang Jhin ini dengan cara apa lagi. Tiba-tiba terlintas di benaknya ide untuk menolak secara baik. Karena Clarisa tidak ingin persahabatan kerajaannya dengan kerajaan Maxhi hancur.
Hwang Jhin mengangkat kepalanya bahagia, sebuah senyum kemangan menghiasi wajahnya. "Benarkah putri?" tanya Hwang Jhin dengan suara bergetar.
"Iya. Tapi ada syaratnya."
"Syarat? Syarat apa putri? Aku kulakukan demi memperjuangkan cintaku padamu."
Clarisa merasa jijik mendengar ungkapan Hyunjin. "Hhmm ... kau harus bisa mengalahkanku dalam pertarungan. Jika kau bisa maka aku siap menerimamu, tapi jika kau kalah maka jangan pernah mengungkapkan lagi perasaanmu padaku."
Hwang Jhin terkejut mendengar syarat dari putri. Tentu saja ia tidak ingin melukai wanita yang dia cintai. "Tapi putri, saya tidak ingin melukai putri," balas Hwang Jhin lembut.
"Hei! Beraninya kau meremehkanku! Bahkan kau tidak tahu aku sekuat apa?" Clarisa menunjuk kesal pada Hwang Jhin. Kalimat Hwang Jhin barusan seperti meremehkan dirinya dan ini adalah sebuah penghinaan baginya.
"Bu-bukan seperti itu putri. Saya hanya tidak mau melukai putri bukan menganggap putri lemah." Hwang Jhin menjawab dengan gelagapan.
"Tenang saja, aku tidak akan terluka sedikitpun. Aku tak yakin jika kau mampu melukai diriku?" Sebuah senyum merendahkan terbinar di wajah cantik Clarisa.
'Tidak ada cara lain. Terpaksa aku harus meladeni syarat putri.'
"Baiklah putri. Tapi putri jangan sungkan untuk menyerah jika saya sudah terlalu banyak melukai dirimu."
__ADS_1
'Sialan! Kau pikir aku lemah apa?! Oke akan kutunjukkan kekuatanku padamu wahai pangeran lemah.'
"Sore nanti! Di padang rumput kita berjumpa, jangan lupa kerahkan semua tenagamu untuk melawanku! Aku tidak akan memberimu belas kasih! Ingat hanya kita berdua." Clarisa beranjak pergi meninggalkan Hwang Jhin.
Sebuah senyum terukir lagi di wajah Hwang Jhin. Dia sangat yakin kali ini putri akan menjadi miliknya. Hanya tidak memberi sedikit kekerasan padanya maka ia akan lunak sendirinya.
"Pangeran." Tiba-tiba Yanju datang menghentikan lamunan Hwang Jhin.
"Ada apa!?" Hwang Jhin melempar tatapan dingin pada Yanju karena membuatnya kaget.
"Pengerang disuruh istirahat untuk besok," jawabnya sembari memberi hormat.
"Pergilah! Aku akan istirahat setelah selesai mengasah panahku!"
"Baik pangeran." Yanju pergi meninggalkan Hwang Jhin setelah memberi hormat lagi.
*****
Keesokan paginya rombongan pasukan Hwang Jhin sudah siap sedia di atas tunggangan mereka masing-masing. Setelah mendapat pentunjuk baru dari raja, mereka pun langsung lepas landas dengan cepat menuju kerajaan Zero.
Di kerajaan Zero penghuni di sana semua tidak tahu bahwa mereka akan kedatangan tamu yang berniat menghancurkan mereka.
Selama perjalanan tanpa jedah ataupun istirahat tidak diduga hanya memakan 1 hari perjalanan. Hwang Jhin memerintahkan pasukannya untuk mendirikan tenda tempat peristirahatan mereka. Pasukan kerajaan Maxhi mendirikan tenda yang tidak jauh dari kerajaan Zero, malam itu mereka mengatur siasat untuk penyerangan mendadak besok pagi.
Hwang Jhin berbaring menatap langit yang gelap tanpa bintang ataupun bulan, sepertinya cuaca sedang mendung. Hwang Jhin kembali mengingat masa lalunya asal mula kakinya sekarang memakai kaki boneka bantuan.
"Kau tahu putri? Kaki ini tidak akan pernah berhenti untuk melangkah membalaskan dendam! Sekalipun kau memutong kedua kakiku."
Di padang rumput hijau nan indah, angin semilir menghembus nyaman di kulit dan rambut Clarisa. Mata merah cantik itu menatap datar pada Hwang Jhin, sedangkan Hwang Jhin hanya melempar senyum manis padanya.
'Sialan! Senyum jelekmu itu akan kuganti dengan wajah masam dan kesal! Kau tidak akan mudah mengalahkanku!'
Hwang Jhin menepati janjinya pergi tanpa membawa siapapun, begitupun dengan Clarisa pergi sendiri sudah jadi bagian hidupnya. Toh Clarisa selalu dijahui dan ditakuti oleh penghuni kerajaan Zero. Dan ini sekian lamanya Clarisa menyendiri ada seseorang yang tertarik padanya.
"Putri bisa menyerangku terlebih dahulu, karena saya tidak akan tegah melawan putri." Hwang Jhin terlalu meremehkan Clarisa si monster Zero.
"Ck! Sepertinya kau terlalu percaya diri. Kau keluarkan semua tenagamu agar kau tidak menyesal!"
"Putri, sepertinya kabar tentang anda memang benar," balas Hwang Jhin seraya mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang.
Clarisa memasang senyum kecil, "Rupanya kau sudah mengetahuiku sekarang?" Clarisa juga mulai mengeluarkan dua pisau kecil. Dia tidak akan mengeluarkan pedang Shiki untuk perlawanan yang kenak-kanakan seperti ini.
"Tentu, kabar tentang putri yang keras kepala dan sombong."
__ADS_1
"Apa!" Clarisa tak terima, Clarisa pikir Hwang Jhin telah mengenal dirinya yang sebenarnya sangat kuat dan sadis. "Rupanya dia belum mengetahuinya," gumam Clarisa pelan.