Penguasa Dejavu

Penguasa Dejavu
42. Kemarahan Haci


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan likenya 😗


Komen penyemangatnya juga ya :)


Salam Hangat Jingege54 🌟😙


Selamat Membaca


______________________


"Huft! Aku tidak bisa membantu untuk saat ini," gumam Hyunjin pelan.


Hyunjin melihat seorang gadis yang tengah duduk diam dengan pikirannya sendiri. Sejak 1 jam yang lalu Hyunjin sudah melihatnya, dan hanya mampu memantaunya dari jendela kamarnya. Hyunjin tak berniat mengganggu kesendirian gadis itu, karena Hyunjin tahu bahwa gadis itu butuh waktu untuk sendiri.


Hari ini Kekaisaran Tang sedikit sibuk karena hari ini sibuk berduka dan mengirim do'a untuk makam Sakura. Sejak pagi hingga sore banyak masyarakat sekitar yang datang berkunjung ke makam Sakura untuk mendo'akan ketenangan Sakura di surga. Sebenarnya Hyunjin juga ingin berkunjung namun melihat banyak masyarakat yang terus berdatangan silih berganti tiap waktu, membuat Hyunjun sulit mengunjungi makam itu seorang diri.


Hyunjin penasaran pengorbanan apa yang Sakura pernah lakukan hingga membuat rakyatnya begitu menghormatinya. Namun rasa penasaran itu hanya Hyunjin pendam, toh pada siapa Hyunjin bertanya? Pada gurunya, Hyunjin takut mengingatkan masa lalu gurunya apalagi Sakura itu istri gurunya.


"Sebaiknya aku diam tidak mengusik kesedihan mereka." Sambung Hyunjin lagi dengan nada pasrah.


Baru saja Hyunjin berniat membalikkan badan, namun terhenti.


"Aarrggg!!!"


Hyunjin terkejut mendengar suara raungan singa yang besar. Mata Hyunjin mengedar begitu cepat mencari di mana asal suaranya, dan langsung tertuju pada Clarisa.


Terlihat Clarisa tengah meraung-raung sambil mencakar pohon dan batu di sekitarnya. Hyunjin lebih terkejut saat melihat ada 1 ekor putih keluar dari bongkong Clarisa, lalu seluru tubuh Clarisa mulai dialiri tenaga dalam besar.


"A-apa?! Ada apa dengan Clarisa?"


Clarisa terus meraung hingga membuat para prajurit dan kementerian Kekaisaran datang mengepungnya. Hyunjin yang tadi berniat menghampiri hendak membantu terhenti, karena Tang Zhou sudah datang. Hyunjin diam ingin menonton dari jendela kamarnya, dia penasaran apa yang terjadi. Pikirnya jika gurunya sudah datang maka semua akan beres.


"Aarrggg!!!"


Clarisa meraung sambil memegang kelapanya, Clarisa berusaha melawan amukan Haci tapi tenaga Clarisa tidak banyak. Haci malah semakin menjadi liar dan ganas.


"Cepat! Jangan biarkan dia berubah wujud sempurna! Bisa bahaya!" Yanghau berteriak menyeruhkan yang lain untuk menghadang perubahan Clarisa.

__ADS_1


'Jangan lagi! Aku tidak ingin menghancurkan apapun seperti waktu itu!'


Clarisa terus meraung tanpa kemauannya, itu adalah kemauan Haci yang ingin lepas kendali dari Clarisa. Clarisa terus menahan diri tapi percuma, dia kalah besar dari Haci yang kuat. Clarisa tidak tahu apa yang menyebabkan Haci menjadi tidak terkendali seperti ini. Tiba-tiba saja segel pengurung Haci lepas sendiri tanpa Clarisa lepas.


Para prajurit pun berlarian menuju Clarisa berniat untuk mengikat Clarisa dengan rantai besi agar tidak pergi ke mana-mana dan membuat onar atau bahkan memakan korban. Karena jika ekor 3 sudah keluar, Clarisa akan di luar kendalinya. Singa itu akan memakan manusia apa saja yang dia lihat.


Clarisa berjongkok masih dengan memegang kepalanya dengan kuat. Dia berusaha mengambil kendali tubuhnya tapi Haci semakin ganas membuat Clarisa sulit menenangkan Haci.


Para pendekar tingkat tinggi maupun Tang Zhou pun tidak bisa berdiam lebih lama lagi. Tang Zhou mengeluarkan rantai besi berbentuk jaring berwarna emas yang diberikan Biksu Tong untuk berjaga-jaga jika Clarisa mengamuk.


Tang Zhou memberikan 5 ujung rantai itu pada yang lain, dan memerintahkan mereka mengepung Clarisa mumpung Clarisa tengah celah untuk mereka. Tang Zhou tahu jika Clarisa berusaha menahan Haci. Ekor ke 2 pun keluar, tenaga dalam semakin menyelimuti Clarisa.


Tapi sebelum mereka mendekat, aurah yang dikeluarkan Haci membuat mereka terpental jauh bahkan beberapa dari mereka terpental ke tembok, membuat mereka terluka.


Tidak hanya itu, 2 ekor Clarisa juga mulai menyerang dengan bulu-bulu ekornya. Bulu itu membentuk seperti jarum namun lebih besar dan panjang. Bulu-bulu itu mulai berterbangan, memunusuk siapapun yang berusaha mendekat.


*****


"Hancurkan semuanya Haci! Hancurkan!"


Di dalam ruangan sepi, seorang pria tertawa lantang seperti orang gila. Dia terlihat begitu bahagia melihat apa yang dia lihat di cermin hitam miliknya.


"Hancurkan Haci! Maka tuan Daimont aku senang!"


Jing Kun terus berteriak seolah menyeruhkan agar Haci semakin mengganas. Jing Kun ingin melihat Kekaisaran Tang hancur karena Clarisa sendiri. Jing Kun 'lah yang membuka segel pengunci Haci dan membuat Haci menjadi liar. Sebenarnya Haci tidak jahat, namun segel pemberian Jing Kun yang melekat seperti tato di dahinya. Jing Kun sengaja mengaktifkan kembali segel agar Haci memberontak dan mengamuk.


"Haci! Jangan melawan perintahku! Apa kau ingin mati!" Jing Kun menatap cerminnya marah. Dia melihat Haci berusaha menahan kekuatan segel dari Jing Kun.


"Hacii! Rupanya kau ingin mati ya!" seru Jing Kun semakin marah.


Jika saja ada orang lain di dalam ruangan itu dan melihat tingkah Jing Kun yang aneh. Mereka pasti akan berpikir bahwa Jing Kun tengah gila atau depresi berat. Berteriak-teriak marah di depan cermin, seolah tengah memarahi bayangannya sendiri.


Jing Kun menggerakkan tangannya entah membetuk apa, yang jelas dia ingin menambah kekuatan segelnya. Mulutnya komat-kamit membaca mantra yang tidak jelas, setelah selesai Jing Kun langsung mengarahkan tangannya ke cermin hitamnya.


Dari cermin, terlihat Haci meraung lebih keras dari sebelum. Raungannya terdengar seperti kesakitan bukan raungan kemarahan.


Jing Kun menyeringai senang, dia senang melihat Haci terus meraung dan mengamuk. Terlihat banyak korban yang sudah dimakan Haci, bahkan terlihat Kaisar Tang sudah kewalahan menghadapi Clarisa. Semakin dilawan, semakin menjadi amukan Haci.

__ADS_1


Tapi belum lama Jung Kun tersenyum, terlihat dari cermin seorang pria melompat mendekati Clarisa dan mengunci pergerakan ekor Clarisa. Jing Kun tersedak melihat dari cerminnya Kaisar Tang menempelkan 2 kertas penyegel dengan mudahnya.


"Kaisar Tang sialan! Tidak bisa dibiarkan!"


Jing Kun merasa Kaisar Tang akan membuat rencananya akan gagal, segera Jing Kun melakukan jurus baru dengan pergerakan tangannya yang tidak bisa dimengerti. Yang jelas dia tangah memperkuat segel Haci agar Haci semakin memberontak.


Akhirnya ekor ke tiga pun keluar, sekarang Clarisa sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Haci. Tubuh Clarisa juga sudah berselimut aurah keemasan sepenuhnya, tidak ada celah untuk melukai kulit Clarisa. Karena aurah itu menutupi tubuh Clarisa sepenuhnya.


Jing Kun menatap Kaisar Tang dari cermin, walaupun tenaga dalam Kaisar Tang belum pulih sepenuhnya, tapi Jing Kun yakin Kaisar Tang masih kuat dan sanggup menyegel Haci.


"Kaisar sialan! Jangan pikir dengan kotak segel itu kau bisa menghancurkan rencanaku! Jangan harap!" umpat Jing Kun sambil menggengam ke dua sisi cermin begitu kuat.


Setelah melihat Kaisar Tang mengeluarkan segel kota Dewan Awan, membuat Jing Kun resah. Bagaimana jika Haci tersegel selamanya? Itu berarti Jing Kun hanya membuat masalah besar untuk aliansi Naga Hitam, bukannya membantu.


Jing Kun pun segera mengambil satu pil di dalam saku bajunya, lalu menelannya. Pil itu adalah pil kasiat penambah tenaga dalam. Jing Kun pun mengambil posisi duduk bersemedi, Jing Kun akan memperkuat segelnya agar Haci semakin memberontak.


Entah apa yang merasuki Jing Kun saat ini, dia begitu terobsesi ingin menghancurkan Kekaisaran Tang tanpa menunggu perintah lanjut dari Daimont. Yang hanya Jing Kun ingin ialah melihat Daimont bangga memiliki tangan kanan sepertinya.


Jing Kun menutup matanya dan berusaha fokus untuk terhubung dengan Haci antar jiwa.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung 🌟


Dukung karya author dengan like, rate dan vote.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya selama ini :)


__ADS_2