
Keesokan harinya aku di jemput Mama karena kondisiku yang belum benar - benar berani menyetir motor sendiri. Karena kejadian kecelakaan waktu itu, lebaran ke - 3 aku post jaga ingin segera cepat sampai rumah karena Bapak sudah berjanji akan engajakku jalan ke Bandung. Ke rumah saudara yang di bandung. Saat aku sedang menyetir dan buru - buru dalam keadaan masih agak mengantuk, aku terjungkal saat aku ngerem mendadak. Tapi aku masih bisa bangkit lagi dan menjalankan motorku, ponselku sempat terlempar, begitu juga jam tanganku yang sedikit retak. Tanganku penuh luka dan saat aku bangkit lagi membawa motor, rasanya gemetar, lemas dan ingin menangis. Untungnya aku pulang pagi di saat semua orang masih berisitirahat dan juga banyak yang pulang mudik.
"Ri.. Ini bunga dari siapa?" Tanya Mama penasaran.
"Dari temenku.." Jawabku pelan.
"Siapa?"
"Duh nanti aja deh maa di rumah ceritanya. Ngantuk nih mau tidur habis jaga malam.."
Akhirnya Mama pun tidak melanjutkan pertanyaan, tetapi saat di jalan Mama melanjutkan pertanyaan.
"Dari Satria ya?" Tanya Mama langsung ke arah yang tepat.
"Hmm.." Jawabku bergumam.
"Apaa?? Gak jelas.." Sahut Mama.
Karena kita naik motor jadi bicara pun harus berteriak.
"Iyaaa Ma..." Jawabku.
"Kamu tuh fokus aja deh sama koas kamu.. Kemarin kan saat kamu di pre klinik agak lama Ri.. Apalagi kamu juga baru gak jadi nikah sama Adi. Udah lah..."
"Hm iya Ma..." Jawabku singkat karena tidak mau memperpanjang pembahasan Mama.
Lagi lagi Mama membahas Adi. Aku kesal jika Mama masih membahas Adi, aku dan Adi sudah tutup buku. Bahkan Adi saja sudah menghilang entah kemana.
***
Seminggu kemudian, akhirnya yang aku tunggu - tunggu. Satria akan datang ke Jakarta. Yeay. Aku senang sekali bisa bertemu dengan Satria, setelah sekian lama kita berkomunikasi hanya dari chat dan telpon. Kali ini aku bertatap muka dengannya.
"Kamu lagi apa Ri?" Tanya Satria di chat whatsapp.
"Lagi istirahat ini Mas. Kamu lagi apa?" Balasku cepat.
"Aku lagi packing nih, besok kan mau ke Jakarta.. Yeay akhirnya ketemu yaa kita.."
"Hahaha iya yaa.. Ciee.. Seneng nih yee.."
"Seneng lah.. emang kamu gak seneng?"
"Seneng gak yaaa... Hehehe seneng dong.."
"Huuu dasar... kamu pulang jam berapa nanti?"
"Mudah - mudahan pulang jam 4 ya.. Dan gak ada bimbingan. Kamu naik kereta?"
"Amiiin.. Iyaa.. Enak naik kereta bisa lihat pemandangan.."
"Iyaa sih lebih enak hahaha... Jam berapa?"
""Besok pagi nih, makanya aku udah packing nih dari sekarang. Supaya gak buru - buru besok. Lagi niat haha.. Biasanya mah males aku, mama yang packingin."
"Dasar yaa kamuuu..."
"Aku nih manja tau sama Mama.."
"Anak cowok tunggal tuh emang lebih manja yaa daripada anak cewek tunggal.."
"Iya ya?"
"Survey dari beberapa temen - temen aku sih gitu Mas. Rata - rata yang anak cowok tunggal tuh lebih manja daripada yang cewek. Yang cewek malah lebih strong, mandiri."
"Haha gitu ya?"
"Iyaa.. Eh iyaa aku mau masuk poli dulu yaa Mas.. Nanti kalo udah selesai aku kabarin."
"Okee.. Semangat yaaa Ri."
***
Satria memang akan berencana ke Jakarta akhir Juni, karena dia akan ada pekerjaan untuk foto prewedding di daerah sentul. Dia bersama Ka Razi ke Jakarta. Hati ku rasanya berdebar - debar saat mau bertemu dengannya.
"Aku berangkat yaa..." Satria pamit denganku lewat chat whatsapp.
"Iyaa.. Hati - hati yaa Mas..." Balasku.
"Iyaa.. Sampai ketemu yaa nanti. Kalo aku udah sampe aku kabarin yaa."
"Iyaaa Mas.."
Setelah Satria sampai Jakarta, dia langsung menghubungiku. Dia langsung sibuk untuk kerja di Sentul dan tidak sabar untuk besok karena akan bertemu denganku. Begitupun juga denganku, sangat tidak sabar.
Keesokan harinya pun Aku dan Satria akhirnya bertemu! Ya.. Satria pun tidak sabar bertemu denganku.
"Ih Ka.. Lo udah mandi belum habis jaga?" Tanya Ria.
"Duh males banget gue mandi segala.. Nanti aja deh di rumah.." Jawabku.
"Ihh kan lo mau ketemu sama Mas lo Ri..." Ledek Ka Nia.
"Hahahaha Ka Nia nih, nanti aku pake parfum aja.. Lagian semalem kan wangi yaa Kaaa gak ada pasien. Aman lah kalo gak mandi gak bau pasti..." Jawabku.
"Yaa lo sih gak bau yaa Ri... Tapi setidaknya biar totalitas gitu ketemu sama gebetan..." Kata Ka Nia.
"Hahaha yaaa Satria gak tau ini Ka.." Jawabku tertawa lepas.
"Minimal rambut lo gue catok sini deh..." Kata Ka Nia dengan perhatian.
"Eh iya bener Ka.. Aku ada nih catokan..." Sahut Ria.
"Iya lah Riii, agak cantik sedikit lah walaupun gak mandi..." Ledek Lisa.
"Hmm okee deh.." Akhirnya aku mau di dandani Ka Nia, Lisa dan Ria.
Aku benar - benar di catok sampai rambutku rapih dan bagus. Bahkan aku harus dandan dengan memakai bedak dan lipstik.
"Ka.. Kasih lah dikit mukanya sama bedak. Terus bibir lo itu di merahin dikit lah.." Sahut Ria.
"Ih centil banget gue pake merah merah Riaa.." Jawabku.
"Eh gapapa dek.. Dikit aja..." Sahut Ka Nia.
"Yaudah deh aku pake dikit yaaa.." Jawabku sembari menari lipstik di pouch make up ku.
Setelah aku selesan di dandani sedikit dengan Ka Nia, Ria dan Lisa. Aku pun di chat dengan Satria, dia mengabariku.
"Aku udah mau sampai Rumah Sakit nih..."
__ADS_1
Hatiku pun berdebar dengan keras saat Satria mengirimkan pesan itu. Bahkan aku sampai bingung saat pertama kali bertemu, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana jika aku dan dia jadi kaku, berbeda saat di chat dan di telpon... Aku benar - benar tidak bisa bernafas dengan lega. Lalu sampai akhirnya dia datang, aku pun segera turun bersama Ka Nia, Ria dan Lisa. Karena Satria menungguku di kantin bersama Ka Gaida, Ka Razi dan Ka Gian. Sebelum turun, Ka Gaida mengirimkan pesan lewat whatsapp.
"Ri.. KIta udah sampai yaa di kantin. Ini si Satria teganbanget sampe dia gak bisa bales lagi chat kamu.. Buruan kesini."
Karena sebelumnya Satria sempat ingin membatalkan untuk bertemu, karena keberangkatan keretanya menuju Jogja sangat mepet jika harus bertemu dulu denganku. Tapi akhirnya dia menyempatkan walaupun hanya sebentar. Aku pun segera menghampirinya ke kantin.
"Pokoknya lo harus stay cool ya Ri.. Jangan nunjukkin lo jadi perempuan yang kesenengan ketemu sama dia. Jaga image dikit.." Celetuk Ka Nia.
"Iyaa Ka..." Jawabku gemetar.
"Ihh lo kenapa Ri?" Sahut Lisa.
"Yaa deg - deggan lah ini mah pasti... Udah kaa rileks aja..." Kata Ria sembari merangkulku.
"Gue berusaha tenang ini, tapi gak bisa.. Udah keringet dingin tanganku rasanya.." Jawabku sembari berjalan pelan dan mencari - cari dimana Satria dan teman - temannya saat itu di kantin rumah sakit.
"Ka... Kita pesen makan yaa.." Sahut Ria.
"Iyaa..." Jawabku sembari duduk dan melihat Satria dari kejauhan.
"Eh lo puasa ya?" Tanya Lisa.
"Iya.." Jawabku singkat.
"Jangan di samperin sebelum dia liat dan samperin lo duluan." Bisik Lisa.
"Iyaaaa Saaa..." Jawabku pelan.
Ka Nia, Ria dan Lisa memesan Mie Ayam kesukaan kami saat itu di rumah sakit Bekasi. Aku tidak fokus sama sekali melihat mereka makan, fokusku hanya melihat kearah Satria saat itu.
"Ri.. Kok si Satria diem aja sih gak nyamperin lo?" Tanya Lisa sembari berbisik.
"Gak tau gue.. Malu kali karena ada kalian.." Jawabku pelan.
"Ya kali Ka.. Harusnya dia langsung kesini dong Ka samperin lo. Kan lo lagi pendekatan sama dia.. Ih aneh banget.." Sahut Ria.
"Udah pokoknya lo diem aja disini, jangan lo yang samperin dia kesana yaa Dek.." Celetuk Ka Nia.
"Iyaa Ka.." Jawabku sembari mengangguk.
Lalu aku terus menatap kearahnya dan tiba - tiba Satria menoleh kearahku dan tersenyum. Aku tertunduk malu dan dada ini rasanya bergetar.
"Eh dek... dek.. Dia kesini." Bisik Ka Nia sembari mengunyah bakso yang dia makan.
Aku pun menoleh kearahnya dan Satria terus melangkah kearahku.
"Duduk disitu yuk.." Kata Satria tanpa basa basi.
Aku pun mengangguk.
"Udah sana.." Kata Ka Nia.
Tapi Satria langsung pergi saat itu tidak menungguku, bahkan dia tidak sempat di kenalkan dengan Lisa, Ria dan Ka Nia saat itu. Lalu aku langsung duduk di sebelahnya.
"Geser dong Sat.." Sahut Ka Gaida.
Satria pun menggeser tempat duduknya.
"Cieee... Eh Ri.. Ini kenalin namanya Razi. Yang ini Gian.. Ini si Gian dulu satu angkatan sama gue dan Satria juga.. Senior lo. Inget gak?" Kata Ka Galia menjelaskan.
Aku pun berjabat tangan dengan Ka Gian dan Ka Razi.
"Bayar kuliah kedokteran berapa?" Tanya Satria saat itu.
Aku terheran - heran saat dia menanyakan hal seperti itu. Aku pun tertawa.
"Hahaha terus kenapa emangnya?" Ceplosku.
"Yaa gapapa aku nanya aja..." Jawab Satria polos.
Akhirnya aku menjelaskan ke Satria saat itu, padahal saat kami chattingan Satria sudah pernah menanyakan hal itu kepadaku. Bahkan sesekali Satria menggombal dan dia memberikan cokelat untukku.
"Ini buat kamu.. Nanti bagi - bagi yaa sama temen - temen kamu. Eh temen - temen kamu gak disuruh gabung aja kesini?" Kata Satria sembari menoleh kearah Ka Nia ,Ria dan Lisa.
"Udah pada pergi mereka, soalnya udah mau pulang juga Mas.." Jawabku pelan.
"Oh gitu.." Jawab Satria mengangguk dan terus salah tingkah.
Setelah kurang lebih hampir satu jam kami berbincang - bincang dan di temani oleh sahabat - sahabatnya. Satria pun izin akan pulang karena keretanya 6 jam lagi. Satria sangat terburu - buru saat itu.
"Yaudah aku anterin.." Jawabku sembari berdiri.
Aku, Satria, Ka Gaida, Ka Gian dan Ka Razi pun berjalan menuju parkiran mobil. Satria terus bercanda dan melucu saat itu. Setelah sampai di mobil, Ka Gaida menyuruh kami untuk berfoto. Akhirnya kami pun selfie ber 5 lalu Aku dan Satia foto berdua. Satria tampak salah tingkah dan panik saat itu.
"Yaudah aku jalan yaa Ri..." Kata Satria pamit.
"Okee dahh hati - hati yaa di jalan." Jawabku sembari melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah sakit lagi.
"Halo.. Lo masih denger Win?" Tanyaku di telpon yang masih menyala dari tadi.
"Iyaa gue masih dengerin ini... Hahaha gue ngakak mulu tau Ri daritadi dengerin kalian ngbrol. Ih parahhhh.." Ledek Wina.
"Iyaa gue...tuh juga kaget itu dia kelakuannya kayak gitu.."
"Mau di temenin?" Tiba - tiba ada seseorang yang ada di belakangku dan aku menoleh kearahnya.
"Astaghfirullah.. Kaget.. Ih apasih Mas tiba - tiba dateng gitu?? Kok gak balik?? Udah sanaa.. Nanti ketinggalan kereta lohhh.." Jawabku langsung menyimpah ponselku agar Satria tidak tau aku sedang menyalakan telpon.
"Gapapa aku temenin kamu sampe dalem..." Jawab Satria tersenyum.
"Ohh hahaha makasih yaa.. Tapi nanti kamu baliknya jauh loh, ruanganku di dalem." Jawabku tertawa.
"Gapapa... Aku tinggal ikutin jalan ini lagi kan?" Kata Adi tersenyum.
Sepanjang perjalanan Adi terus tersenyum dan memandangku.
"Ada yang mau diomong?" Tanyaku.
"Hmm apa yaa?? Hmm..." Jawab Satria terus bergumam.
"Cepet. Mau ngomong apa?"
"Bingung..." Jawab Satria sembari menggaruk - garuk kepalanya yang di tutupi dengan topi.
"Hahahaha kalo bingung pegangan.." Jawabku dengan candaan.
"Kayak gini ya?" Kata Satria sembari menggandeng tanganku.
"Ih ih Mas malu tau ini di rumah sakit, kan aku juga lagi pake snelli ini, nanti kalo ada dokter konsulen liatin gak enak tauu.. Ih ada orang - orang ngeliatin..." Jawabku malu sembari perlahan melepaskan rangkulan tangannya dari lenganku.
__ADS_1
"Gapapa... Permisi Pak.." Kata Satria sembari menyapa orang sekitar.
Rasanya aku malu sekali saat itu melihat tingkah konyolnya, karena aku masih di area rumah sakit dan mereka tau aku adalah dokter muda saat itu karena aku mengenakan jas putih dokter atau yang disebut dengan snelli.
Tak lama aku sudah sampai di dekat ruangan koas. Aku pun berhenti melangkah.
"Udah Mas.. Sampai sini aja.. Ruanganku masuk ke dalem, gak boleh da orang luar masuk ke dalam." Jawabku.
"Oh yaudah..." Jawab Satria singkat.
"Mau ada yang diomongin gak??" Tanyaku lagi.
"Nanti aja deh.." Jawab Satria malu.
"Bener? Yaudah jangan nyesel yaa.. Daahhh.. Tau jalan balik kan?" Tanyaku dan langsung berlalu meninggalkan Satria yang masih mematung.
Aku pun bergegas masuk ke dalam ruangan koas. Dan bersiap - siap untuk pulang.
"Ri... buru - buru banget.." Saat aku mau pulang aku berpapasan dengan Ka Rina.
"Hehehe iya Ka. Aku mau buka puasa di rumah Ka.. Hari ini aku puasa syawal soalnya.." Jawabku.
"Oh masih puasa? Kan udah lebaran Ri.." Jawab Ka Rina bingung.
Ka Rina memang berbeda agama denganku, jadi kurang paham soal itu. Aku pun menjelaskannya kepada Ka Rina saat itu.
"Oh gitu.. eh udah ketemu sama Satria?" Tanya Ka Rina.
"Hahaha udah Ka.." Jawabku malu.
"Okee berarti besok lo harus cerita ya sama kita - kita.." Ledek Ka Rina.
"Okee Kaa.. Daahh Kaa.. Semangat jaga malamnya.." Pamitku ke Ka Rina.
Aku pun bergegas keluar dan ke parkiran motor, ah aku lupa kalau aku tidak baawa motor hari itu. Tiba - tiba Satria mengirimkanku chat.
"Kamu udah pulang?" Tanya Satria.
"Ini mau pulang..." Jawabku singkat.
"Naik apa? Kan kamu gak bawa motor.."
"Iya aku mau naik angkot kayaknya nih. Lagi mau cari ojek dulu buat ke kalimalang."
"Eh aku pesenin ojek online aja ya? Atau aku kirimin gopay biar kamu tinggal pesen sendiri."
"Gak usah Mas.."
"Udahh... Ini lagi aku kirim. Jangan pulang dulu.. Diem disitu.."
"Ih kamu tuh kebiasaan suka maksa.. Yaudah yaudah.."
Aku selalu selalu mengalah jika Satria memaksaku untuk membelikan sesuatu atau mengirimkan sesuatu. Kalau tidak dia akan terus meminta.
Akhirnya aku naik ojek online, sesampainya di rumah Satria tiba - tiba video call aku. Aku benar - benar terkejut saat itu, karena Satria paling tidak suka video call. Tapi kali ini dia mau menghubungiku dengan video call.
"Assalamualaikum.." Kata Satria dari kamera dan melambaikan tangan.
"Walaikumsalam.. Kamu ngapain video call? Aku baru sampai rumah.." Jawaku agak berbisik agar Mama tidak mendengarnya.
"Gapapa.. Emang gak boleh?"
"Yaa nanti aja.. Aku mau siap - siap buka puasa dulu nih. Kamu udah di jalan ya?"
"Oh yaudah.. Iyaa ini udah mau sampai stasiun. Mudah - mudahan pas sampai stasiun."
"Yaudah yaudah... Udah dulu yaaa daaann Assalamualaikum..." Aku melambaikan tangan dari kamera.
"Okee.. Walaikumsalam.." Jawab Satria tertawa.
Aku pun mematikan ponsel dan segera masuk ke dalam rumah.
***
"Udah sampe kamu Ri? Gak telpon Mama? Naik apa kamu Ri?" Mama memberikan banyak sekali pertanyaan.
"Aku naik ojek onlin Maa tadi.. Udah aku mau mandi dulu yaa terus siap - siap buka puasa." Jawabku sembari menaruh tas.
"Okee.. Mama udah beliin kamu ayam bakar yaa nak.." Jawab Mama.
"Oke Maa.. Makasiih Maa..."
Setelah aku mandi, aku pun buka puasa makan secukupnya. Setelah itu aku Sholat dan masuk ke dalam kamar untuk merebahkan badan sekedar beristirahat karena habis jaga malam. Tak lama Satria menelponku. Aku pun segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum...." Salam Satria.
"Walaikumsalam.. Kamu udah dimana?" Tanyaku lembut.
"Aku masih di perjalanan ini. Macet banget.."
"Udah lumayan lama loh di jalan Mas.. Ada kali 2 jam ya?" Tanyaku.
"Iyaa gila macet banget depan kampus kamu..." Ledek Satria.
"Lah emang kalo jam segini mah disitu macet Mas..."
"Iyaa nih.. Oh iya aku mau ngomong sama kamu.."
"Mau ngomong apa?
"Mau ngelanjutin soal tadi.."
"Apa?"
"Hmm gini... Hmmm kamu.. kamu mau gak jadi pendamping hidup aku?" Tanya Satria terbata - bata.
"Hah? Apa? Aku gak denger.. Ulangin?" Tanyaku dengan suara pelan di dalam kamar.
"Hahahaha gak ada pengulangan." Jawab Satria.
"Oh yaudah.. Gak bisa aku jawab dong.." Jawabku meledek.
"Yaampun...Oke oke aku ulang yaa.. Kamuu... Mau.. Gak.. Jadi.. Pendamping.. Hidup... Aku..." Kata Satria agak berteriak.
"Hahahahah... Mau Sayang.." Jawabku dengan cepat.
"Serius?" Tanya Satria seperti tidak percaya.
"Hmm.." Jawabku bergumam.
__ADS_1
Yaaa tangal 1 Juli 2019 hari jadiku dengan Satria saat itu, aku pun tidak menyangka bisa menerimanya dengan proses pendekatan dengan cepat.