Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 27. Satria Curhat


__ADS_3

Setelah aku, Mama dan Bapak berbincang - bincang. Kami pun jalan keluar cari makan diuar. Aku sangat senang sekali seperti ada power untuk koas disini karena ada Mama dan Bapak


"Kamu tau makanan enak disini?" Tanya Mama.


"Tau dong, aku udah lumayan keliling disini dan tanya koas - koas sebelunya Ma... Soalnya makanan disini kurang Ma.." 


"Ini Bapak kan perutnya masih gak enak soalnya, jadi harus cari makanan yang cocok yaa Nak.." 


"Iya Ma.." 


Setelah aku, Mama dan Bapak selesai makan. Kami pun langsung ke mess. Aku segera mengambil pakaian untuk esok hari dan Mama sempa melihat ke kamarku dan bertemu dengan Ria, Ka Rina, Koko dan Lina. Hilda tdak ikut tidur di mes bersama kami, dia ngekost di tempat lain. 


"Enak yaa rame - rame gini.." Kata Mama bicara dengan teman - temanku.


"Iyaa tante.." Jawab mereka serempak dan tersenyum.


"Yaudah Riri ikut tante sama Om dulu yaa... Om di bawah gak enak katanya naik banyak cewek - cewek juga." Kata Mama lalu pamit.


"Iyaaa Tante hati - hati.. Dah kakak.." Kata Ria sembari melambaikan tangan.


Aku, Mama dan Bapak pun kembali ke hotel untuk istriahat karena Bapak juga yang kurang enak badan jadi harus langsung istirahat dan tidak jalan - jalan lagi. Apalagi besok aku harus berangkat pagi - pagi. 


"Si Satria lagi ngapain di Belanda?" Tanya Bapak. 


"Kalo jam segini biasanya dia kerja, terus langsung ke tempat kerja." Jawabku. 


"Si Satria kerja apa Nak?" Tanya Mama.


"Gak tau deh, karena dia udah ada gelar S2nya. Tapi karena belum ada pengalaman kerja jadinya  masih karyawan biasa."


"Apa? Kayak cari - cari benda bersejarah?"

__ADS_1


"Iya deh kayaknya ituu, kemarin sih kayaknya dia bilang gitu cari kerjaannya."


"Mandiri banget dia ya, udah kuliah S3 nyambi kerja." Kata Mama seperti senang. 


Aku senang kedua orang tuaku respect dengan Satria dan aku jadi semakin kuat akan bertahan dengan Satria walaupun terkadang aku harus drama dengannya. 


***


"Ka, hari ini lo tidur lagi di hotel?" Tanya Ria. 


"Iyaa.. Soalnya hari ini terakhir bokap nyokap gue disini. Jadi harus quality time dong.."


"Yaah aku tidur sendirian lagi deh. Sedih."


"Sudahlah Ria ini, biarin Riri sama Mama dan Papanya." Sahut Ka Rina.


"Tau nihhh, lo kangen bobo sama gueee??" Ledekku.


"Duhhh kamu yaaa co cweeeet bangeeetsiii." Ledekku sembari mencubit pipi Ria. 


"Ahhh Ria suka lebay emang..." Sahut Lina. 


Setelah aku selesai kegiatan di rumah sakit, aku pun langsung bergegas ke hotel. Mama dan Bapak sudah rapih seperti ingin mengajakku makan. 


"Makan ke tempat yang kamu kasih tau itu yuk, habis itu kita jalan - jalan ke alun - alun. Bapak mau sholat di masjid raya nya." Kata Bapak. 


"Oke Pak."


Selama ada Mama dan Bapak di Magelang, aku dan Satria hanya chat saja tanpa telpon. Hanya saja aku banyak chat dengan Ka Gaida saat itu karena dia cerita menemani atasannya ke Semarang. 


"Om sama Tante kapan pulangnya Ri?" Tanya Ka Gaida di WA.

__ADS_1


"Besok subuh Ka, supaya sampai Jakarta gak terlalu siang. Karena sorenya Bapak mau praktek." Balasku cepat.


"Om gapapa tuh lagi gak enak badan gitu nyetir sampai Jakarta?" 


"Mudah - mudahan gapapa Ka, ini udah enakan sih." 


"Kalo gak kuat kabarin aku yaa, siapa tau aku bisa susulin kesana."


"Iya Ka... Makasih yaa Ka."


Ka Gaida sangat perhatian sekali denganku dan keluargaku. Aku benar - benar seperti punya kakak. 


***


"Si Gaida di Semarang yaa katanya?" Tanya Satria di chat. 


"Iya Mas, dia nemenin bosnya. Dia cerita sama kamu ya?"


"Iya sayang. Dia tuh khawatir tau sama Bapak dan Mama. Kemarin pas aku minta supir aku yang anterin Mama dan Bapak ke Magelang dia ngelarang loh. Malah dia yang mau anterin. Dia tuh kepikiran."


"Iyaa makanya pas Mama dan Bapak sampai sini juga dia WA mama juga Mas nanya posisi dimana."


"Iya kan. Dulu tuh pas dia masih ada Mama sama Papanya yaa. Kemana mana tuh Mama Papanya di bawa. Bahkan nongkrong sama kita juga loh di bawa."


"Sampai gitu ya dia? Makanya dia nanyain keadaan Mama sama Bapak terus." 


"Iyaa mungkin udah anggep Mama sama Bapak itu kayaak orang tua dia juga."


Aku teringat saat perdebatan tentang orang tua Satria curhat soal Ka Gaida yang tak ku sangka. Dia anak yang sangat berbakti sekali dengan orang tuanya. 


"Gak juga sih, tergantung bapaknya juga sih. Aku bilang gak tuh liat dari Gaida, Gaida kalo aku perhatiin sama Papanya deketnya bukan main dan dia cerita sama kita. Kita emang jauh lebih deket sama Papanya bahkan sampai wafatnya, dari pada sama Mamanya. Aku salut deh sama anak itu, dia itu dari mulai SMA jadi mata untuk Papanya, Papanya kan sakit diabetes larinya ke mata, gak bisa lihat. Suka kagum aja sama Gaida, dia gak malu bawa Papanya, malah bangga sampai mandiin Papanya, suapin Papanya makan, Pakein pampers, baju, semua dia loh. Luar biasa gak tuh. Selesai Gaida kuliah S1 tuh kita udah janjian mau lanjuin S2 di kampus yang sama bareng. Tapi Gaida memutskan untuk gak ngelanjutin S2, gak cari kejrja cuma buat apa coba? Cuma buat ngerawat kedua orangtuanya, jadi dia tuh rela gak bergaul kemana - mana, gak jalan sama temen - temennya, kerjaannya cuma di rumah, ngerawat ornag tuanya, kalo jalan - jalan keluar pasti orang tuanya di bawa. Pokoknya bener - bener gak mikirin diri dia sendiri deh. Sampai nikah terlambat, karena gak bergaul sama siapa - siapa, singlenya sama kayak aku, aku dari selesai kuliah S1. Kalo aku sekarang udah ada kamu ketauan, Gaida belum. Makanya aku bertiga nih bener - bener gak mau ninggalin Gaida banget, kita support dia. Bahkan doain dia juga biar dapet pasangan yang baik karena dia juga baik. Aku yakin juga gak banyak cewek kayak dia. Dulu yaa kalo pas ngumpul sama kita nih dia selalu bawa Papanya, kalo pas makan juga dia suapin Papanya dulu baru dia yang makan. Semoga surga balasannya untuk Gaida. Jadi salah kalo kamu bilang gadis deket sama Bapaknya itu saru, salah, tinggal niatnya aja gimana." 

__ADS_1


Aku pernah memperdebatkan soal kedekatanku dengan Bapak saat itu, karena memang aku selalu menjaga diri yang tidak bisa sangat menempel dengan Bapak. Tapi kalau melihat atau membahas tentang Bapak pasti hatiku sangat tersentuh, karena aku selalu ingin punya sosok laki - laki seperti Bapak dari dulu. Bahkan seperti yang diceritakan Satria, Satria selalu mengulang - ngulang bahwa Ka Gaida baik. Yaa memang baik saat aku mengenalnya saat itu. 


__ADS_2