Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 44. Satria dan Robert Ingin ke Indonesia


__ADS_3

Selama di perjalanan, aku asik mendengarkan musik dan melihat jalan. Aku senang naik kereta api, bisa melihat pemandangan sawah, sungai dan pegunungan. Dibandingkan harus naik pesawat, aku kurang suka. Rasanya lebih menikmati perjalanan dari luar kota. 


"Ri.. Kalo kamu laper bilang ya.." Bisik Ka Gaida.


"Yakali ka laper lagi, makan paling nanti di rumah." Jawabku pelan.


"Hah? Ini kita perjalanannya lumayan loh Ri, belum lagi disini dingin. Pasti nanti laper loh, sarapan nanti kita beli makanan aja."


"Iyaa yaudah gampang, soalnya tadi kan kita udah ganjel perut Ka.."


"Aku sih pasti laper lagi nanti Ri."


Aku pun menggeleng - gelengkan kepalaku. Luar biasa sekali Ka Gaida ini makannya banyak, aku tidak bermaksud body shaming. Tapi aku pun tidak heran melihat badannya yang agak gemuk karena dia pun jago makan, bahkan saat kemarin ada Mama, Bapak dan Pakde Dimas. Dia yang selalu mengajak kami kuliner kemana pun. Makan makan dan makan..Dia tau tempat makanan yang enak. Benar - benar membuatku terkejut meihat makannya yang aku pun terkadang tidak bisa mengikuti cara makannya yang berlebihan. 


"Yaudah Ka.. Aku mau merem dulu sebentar yaa."


"Yaudah, aku gak tidur. Bahaya nanti kalo semuanya tidur. Ada barang - barang berharga soalnya."


"Okee.. Nanti gantian aja, kakak bangunin aku kalo udah ngantuk."


"Oke. Eh si Satria dimana dia?"


"Katanya sih masih di Belanda, paling baru besok dia flight ke Indonesia sama si Robert."


"Oh iyaa bawa si Robert ya?"


"Iyaa.."


"Si Wina seneng dong ada Robet?"


"Iyalah seneng banget, apalagi Bude Tari. Mamanya Wina seneng banget tuh tau anaknya di deketin sama bule.."


"Ih gak takut ya Wina?"


"Takut apa Ka?"


"Bule Belanda kan badannya gede, aku liat storynya si Satria aja waktu jalan sama temen - temennya Robert itu dia badannya gede - gede semua itu." 


"Hahaha yaa Wina senengnya badan gede gitu Ka.." 

__ADS_1


Selama di perjalanan pun kami membahas Satria dan Robert yang akan segera datang ke Indonesia. Yang pasti aku sudah tidak sabar sekali menunggu kedatangan Satria, begitupun dengan Wina. Dia juga sudah tidak sabar bertemu Robert. Sampai tak terasa kami sudah sampai di Jakarta. Aku dan Ka Gaida turun di stasiun bekasi, Mama dan Pakde Dimas yang menjemputku dan Ka Gaida. Karena Bapak hari itu tidak bisa menjemput karena praktek. 


"Alhamdulillah anak Mama udah pulang ke Jakarta.." Sambut Mama yang langsung memelukku dengan erat. 


Jangan heran, karena aku anak satu - satunya. Walaupun profesiku yang dokter, tetap saja hati ini home sick. Saat aku di Semarang, terkadang aku sering memikirkan rumah. Aku rasanya ingin cepat pulang ke Jakarta. 


"Ini aja kan ya Nak bawaanmu?" Tanya Pakde Dimas. 


"Iyaa Pakde." Jawabku mengangguk.


"Ini apa?" Tanya Mama.


"Oleh - oleh banyak banget kann.." Jawabku.


"Ya Allah.." Kata Mama dengan wajah terkejut.


"Ini Satria loh yang suruh tante, aku mah ikut aja suruhan dia." Jawab Ka Gaida santai.


"Makasih yaa Ka udah jemput Riri ke Semarang." Kata Mama tersenyum.


"Iyaa tante sama - sama. Itu juga kalo gak di kabarin Satria aku gak ke Semarang tante.." Jawab Ka Gaida.


"Eh. Itu namanya dia sayang sama kamu, perhatian sama kamu, khawatir kalo kamu kenapa - kenapa sendirian naik kereta." Jawab mama membela Satria. 


"Hmm iya.." Jawabku singkat.


Pakde Dimas sejak tadi sibuk memasukkan barang - barangku dan beberapa oleh - oleh.


"Udah yuk." Ajak Pakde Dimas. 


***


Setelah sampai di rumah, aku pun santai dulu duduk sembari merenggangkan pinggang dan kaki yang sejak subuh tadi di tekuk. Karena kaki ku yang panjang jadi sulit di luruskan untuk duduk di bangku kereta api. 


"Bapak gak pulang Ma?" Tanyaku. 


"Baru berangkat tadi pagi, besok sore baru pulang." Jawab Mama.


"Ka Gaida hari ini nginep aja di rumah. Besok masuk kerja kan?" Sahutku.

__ADS_1


"Aku gak bawa baju Ri.." jawab Ka Gaida.


"Yaudah nanti ambil baju ke rumah Bulek. Besok berangkat dari sini kan lebih deket Ka.." Sahut Mama. 


"Coba deh nanti yaa.." Kata Ka Gaida sembari menari ponselnya di tas.


Tiba - tiba ada chat dari Satria.


"Kamu dimana?" Tanya Satria di chat.


"Aku udah di rumah kok Mas. Ini sama Ka Gaida."


"Alhamdulillah.. Ini aku pesawatnya besok pagi yaa sayang. Si Robert ribet banget mau ketemu Wina di Indonesia aja bawaannya yaAllah banyak banget." 


"Iyaa sayang.. Hahaha emang dia bawa apa aja?"


"Tau.. Kayaknya isi rumahnya dia bawa semua deh."


"Hahaha ngakak.. Dia kok lucu juga yaa mas. Apa karena lagi jatuh cinta ya?"


"Iyaa kali gara - gara cinta jadi lebay gitu. Ih kesel aku liatnya..."


"Yaudah kamu juga kan pas lagi bucin - bucinan sama aku nyebelin." Ledekku.


"Gak tuh woo... Kamu udah sarapan sayang?" 


"Ini jam berapa Mas? Hahahaha.."


"Oh disana siang yaa hahaha lupa aku.. Yaudah makan siang gih."


"Iyaa sebentar lagi, masih selonjoran. Pegel di kereta, habis ini aku mandi."


"Yaudah kamu istirahat yaa sayang, si Gaida udah beliin semua pesenan aku kan?"


"Udah Sayang beres." 


"Yaudah bagus. Aku lanjutin packing dulu yaa sayang.."


"Oke sayangku."

__ADS_1


Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu Satria dan Robert datang ke rumahku dan Wina. Aku sudah membayangkan kami akan jadi satu keluarga yang menyenangkan, Satria jago nyanyi dan bermain alat musik. Robert pun juga jago sekali menyanyi. Aku terus membayangkannya ah indah sekali saat membayangkan itu semua. Dan aku berharap itu semua nyata.....


__ADS_2