Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 48. Support System


__ADS_3

Aku bingung harus berbuat apa lagi, dalam keadaan aku yang harus fokus belajar karena aku masuk di bagian farmasi saat itu. Banyak sekali hafalan obat - obatan dan segala macam indikasi dan kontraindikasinya. Tapi aku tidak pernah fokus untuk belajar selama Satria belum sembuh. 


"Lo gak boleh blank Ri.. Ini tuh kalo lo gak bisa jawab lo gak bisa lulus bagian ini lohh.." Kata Ka Rina menasihatiku.


"Iya Ka.. Aku uga bingung kenapa gini. Aku mau berusaha fokus tapi gak bisa. Atau aku resign aja yaa di stase ini?" Jawabku pesimis. 


"Eh nanggung Ri... Lo kan udah bayar stase ini, masa lo mau resign. Udah ayok kita belajar." 


Aku pun mengangguk dan berusaha belajar walaupun pikiran rasanya ke Satria terus. Ah sialan.. Otak terasa bodoh saat itu, seperti tidak bisa belajar sama sekali. 


Setelah pulang dari kegiatan, aku langsung pulang ke rumah. Untungnya kegiatan di stase farmasi tidak sampai sore Siang hari sudah pulang hari itu. Sesampai di rumah aku bersih - bersih lalu langsung tidur. Ya.. Jika aku sedang sedih atau stress aku pergunakan waktuku untuk tidur supaya aku tidak menangis terus menerus. 


Tak lama HPku bergetar, ternyata ada pesan masuk dari Ka Gaida. 

__ADS_1


"Ri.. Dimana?" Tanya Ka Gaida. 


"Di rumah Ka.. Kenapa?" Balasku cepat. 


"Oh aku kira masih di kampus. Tadinya mau ngajak nonton nanti sore pas aku balik dari kerja. Yaowis kalo gitu Ri.."


"Besok aku mau ujian Ka.. Jadi kayaknya gak bisa juga kalo nonton."


"Oh besok udah ujian ya? Yaudah gapapa kalo gitu aku nonton sendiri aja."


Kali ini aku tidak seperti biasanya chat dengan Ka Gaida dengan singkat, biasanya aku balas dengan tawa dan canda. Dan sepertinya Ka Gaida tau kalau aku tidak baik - baik saja.


"Kamu kenapa Ri? Masih kepikiran Satria? Jangan kayak gitu terus Ri, hidup harus terus berjalan. Moso kamu jadi gak mau ngapa - ngapain gitu kasarannya."

__ADS_1


"Ya wajar gak sih Ka kalo aku kayak gini? Aku juga udah berusaha kok Ka.."


"Yaa tapi aku liat kamu masih terus kayak gini Ri, kamu juga kan punya kehidupan sendiri. Pikirin Mama dama Bapak kamu."


"Hmm.. Iya kaa... Terima kasih yaa Ka udah support aku terus."


"Iyaa sama - sama Ri, semoga besok ujiannya lancar yaaa.." 


"Amiiinn.. Iya Ka.. Makanya ini mau belajar dulu yaa.. Maaf gak bisa nemenin nonton dulu." 


"Iyaa Ri gapapa, kalo ada apa - apa jangan sungkan cerita sama aku. Aku kan udah kayak kakak mu aja Ri."


"Iyaa Ka.."

__ADS_1


***


Seketia terkadang aku lupa bahwa aku sedang sedih jika banyak yang menghiburku. Tapi terkadang saat sepi aku mengingat kesedihanku tentang Satria. Aku berharap semua ini hanya mimpi dan saat aku terbangun aku sudah bersamanya lagi. Melihatnya sehat dan bahagia bersamaku. Berkumpul bersama keluarganya dan keluargaku, lalu bertemu dengan teman - temannya dan teman - temanku. Itu saja yang ku harapkan. Terkadang saat aku memikirkannya, kenapa aku seperti ini? Kenapa drama percintaanku tak pernah baik? Mungkinkah dosa - dosaku di masa lalu yang membuat hidup percintaanku seperti ini? Aku selalu merasa menyalahkan diri sendiri saat keadaan Satria seperti ini. Oh Tuhan.. Maafkan aku, aku manusia penuh dosa. Tolonglah Satria, sadarkan dan sehatkanlah dia. Dia baik dan dia masih banyak tanggung jawab yang harus dia selesaikan, jangan dulu ambil nyawanya. Biarkanlah dia hidup terus sampai nanti. Itu harapanku saat berhari - hari tidak ada progres dari Satria. 


__ADS_2