Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 7. Satria Berbeda


__ADS_3

Satria sudah semakin berani mengutarakan perasaannya, padahal kamu baru berkomunikasi selama satu minggu via chat.


"Aku ngerasa makin kesini obrolan kita makin banyak, kalo aku pribadi sih aku seneng, jadi banyak hal yang kita bahas, entah yaa itu cuma perasaan aku aja atau kamu juga ngerasain hal yang sama haha. Walaupun kadang - kadang jujur aja aku masih terlalu berhati - hati dalam memulai suatu obrolan sama kamu, kenapa aku terlalu berhati - hati? Karena aku takut aja obrolannya jadi nyebelin, bisa - bisa ilfeel lagi nanti haha. Dan aku sih selalu berharap obrolan kita gak pernah jadi obrolan yang menyebalkan. Terimakasih buat obrolannya hari ini, good night." 


Kata - kata yang dia utarakan saat itu membuatku terdiam dan ah dia berbeda sekali dengan mantan - mantanku. Tidak ada yang seperti Satria yang pandai bicara seperti ini, menghargai pendapatku, menerima keluhanku sehari - hari. Bagaimana aku tidak merasa diistimewakan saat itu? Sampai - sampai membuatku selalu tersenyum setiap hari jika berkomunikasi dengannya. 


"Ri.." Panggil Wina saat aku sedang asik mengulang membaca isi chat dari Satria. 


"Eh apasihh.. Ngagetin aja deh Lo.." Jawabku sembari menoleh kearahnya.


"Ciee kenapasih? Si Kakak kelas itu ya? Coba dong yang mana sih orangnya? Kan lo belum kasih tau fotonya jelas sama gue." Jawab Wina berbisik.


"Ihhh iya sebentar.. Ini ada di instagramnya yaa gue kasih tau." Aku pun langsung mencari foto Satria.


"Manaa.. Lama deh." Jawab Wina tidak sabar.


"Ihh sabar. Ini.." Jawabku lalu memberikan ponselku ke Wina.


"Eh manis Riii manis. Orang Jawa lagi kan. Udahlah acc gue mah..." Jawab Wina meledek.


"Suaranya bagus Winn.. Asli deh. Baru kali ini gue ketemu cowok bisa nyanyii ih.. Jago main piano sama gitar lagi Win.." 


"Lo tuh kenal dia dari kapan sih?"


"Yaa kira - kira semingguanlah."


"Ah baru seminggu kayak udah kenal lama lo berdua." 


"Iyaaa makanya gue juga bingung deh kayak asik aja gitu kita ngobrol, bahkan non stop. Bener - bener stopnya tuh kalo gue sama dia tidur. Gokil banget kan?"


"Dia anak tunggal juga ya Ri?"


"Iyaaa sama - sama tunggal. Hahaha bisa gitu yaa.."


"Ih jodoh kali ya.."

__ADS_1


"Hahaha gak tau deh."


"Ih gue juga mau dong cowok.."


"Lah lo kan banyak yang deket yaa Win."


"Deket doang, jadian juga gak." Jawab Wina kesal,


"Hahahaha yeee. Lo nya sih terlalu pemilih.." 


"Susah Ri nyari yang kayak bokap gue."


"Yaa susah lah Winn kalo lo nyari yang persis kayak almarhum Bokap lo."


Wina terdiam dan memajukan bibirnya ke depan. 


Yaa.. Wina sudah setuju dengan Satria. Tapi aku belum bercerita soal Satria ke Mama dan Bapak. Aku belum siap. Karena Mama sepertinya masih terluka dengan sikap keluarga Adi dulu. Tapi Mama masih berharap Adi mau kembali denganku. Tapi tidak. Karena saat itu Mama belum tau dan aku belum bercerita jika Adi adalah gay. 


***


"Tau gak.. Kalau dalam pendekatan itu ada 6 fase, fase pertama itu apresiasi, fase kedua itu ketertarikan, fase ketiga itu kekaguman, fase keempat itu suka, fase kelima itu sayang, fase keenam jatuh cinta. Pada dasarnya untuk mencapai dari fase pertama sampai fase keempat itu mudah, tapi tingkat kesulitan makin bertambah kalau udah di tahap dari fase keempat sampai fase keenam. Dan aku udah sampai di fase keempat, tapi suka disini dalam konteks luas loh ya, bukan dalam konteks yang sempit. Jadi jangan salah persepsi. Aku habis ngetik kayak gini jadi laper, aku makan dulu ya." 


Dan sejak saat itu aku memanggilnya dengan sebutan 'Mas' bukan lagi memanggil dia dengan sebutan Ka. Tidak ada sedetik pun dia menghilang, dia selalu mengirimkan pesan untukku. Bahkan saat keesokan harinya aku jaga malam di hari libur lebaran kedua dia menanyakanku besok mau makan apa karena dia akan mengirimkanku makanan melalu Ka Galia. Yang Satria ceritakan, Ka Galia adalah sahabatnya dari jaman Sekolah Menengah Pertama. Sampai akhirnya mereka satu sekolah di Sekolah Menengah Atas. 


"Kamu besok mau makan apa? Atau mau ngemil apa?" 


Dia selalu mengkhawatirkanku jika aku makan terlambat, karena itu sudah bukan bulan Puasa lagi jadi dia akan selalu menanyakan aku sudah makan atau belum. Atau biasanya dia bertanya mau dibawakan makanan apa.


"Riri mau makan apa? Serius coba jawabnya." 


"Mau Makan...."


"Dahar nopo?"


"Makan apa aja yang bisa di makan."

__ADS_1


"Makan terserah berarti ya.." 


"Yang penting kan bisa di makan."


"Yaudah tunggu dulu. Sebentar yaa.."


"Sebentar apanya? Nanti mau cari makan kalo udah operasi."


"Sebentar telpon kurir. Lah gimana sih?"


"Hahaha jangaaan.."


"Kamu mau keluar makan sendiri?"


"Gak usah gak usaahh Mas Satria..." 


"Apa gimana?"


"Iyaa nanti kalo sempet keluar... Hahaha. Jangan jangannnn.."


"Atau delivery aja."


"Sudah... Sudah..."


"Aku delivery in abang go food. Si Galia juga belum bangun nih kauaknya, di telpon gak diangkat." 


"Gak usah Mas Satria. Nanti aku beli sendiri yaaa yaa... Sudah sudah makan ketupat dulu sana.." 


"Bener? Repot gak beli sendiri?"


"Gakk.. Kan nanti kalo keluar sekalian."


"Yaudah kalo repot bilang ya."


"Iyaa Mas Satria."

__ADS_1


Aku selalu merasa tidak enak jika Satria mengirimkanku makanan untukku. 


__ADS_2