
Hari ini aku kembali ke rumah, aku sudah tidak sabar untuk bertemu para peliharaanku seperti ayam dan kucing. Dan juga pastinya bertemu Mama dan Bapak. Sesampai di rumah Bapak langsung mengajakku makan di luar bersama dengan Mama juga. Kami memang selalu begitu, romantis dan harmonis kami memang beda dan spesial menurutku. Tidak selalu di hari uang tahunku, Mama atau Bapak jika kita pergi makan keluar. Tapi Bapak selalu buat momentnya sendiri.
"Alhamdulillah anak Mama pulang ke Jakarta.." Sambut Mama saat keluar dari Bandara.
Aku pun langsung salim Mama dan Bapak. Yaa aku kurang suka langsung memeluk orang tua. Karena memang aku tidak mau dianggap anak kecil terus. Apalagi aku anak tunggal, pasti mereka akan selalu menganggapku anak kecil.
Satria pun langsung menelponku.
"Assalamualaikum.. Kamu udah sampai Jakarta ya?" Tanya Satria lewat chat yaah seperti biasa.
"Walaikumsalam, Alhamdulillah udah sampai Mas. Ini mau pulang dulu, nanti sore mau makan sama Mama dan Bapak keluar." Jawabku di telpon.
"Ih asiknya... Aku jadi kangen sama Mama dan Papa." Balas Satria.
"Jangan sedih yaa Sayang.. Yaudah sana kamu telpon mereka gih.." Jawabku lagi dengan nada lembut sekali.
"Iyaa nanti aku telpon mereka. Aku kangen banget sama kamu.. Aku mau dengerin suara kamu dulu yaa.. Ini aku baru bangun."
"baru bangun yang di telpon langsung aku hahaha..."
"IYa dong itu wajib..."
"Aku sambil aktifitas yaaa Mas, soalnya nanti sore aku langsung ke RS lagi, pengarahan buat stase berikutnya lagi."
"Yaampun tega amat kamu baru pulang juga."
"Yaa gak bisa di bilang tega sih, namanya kedokteran kayak gini Sayang. Ini tuh Bedah, pasti lebih banyak lagi tugas dan kegiatannya."
"Gitu ya? Semangat yaa sayang...."
"Iya Mas terima kasih ya.. Yaudah aku mau mandi dulu. Tapi jangan di mattin yaa telponnya."
__ADS_1
"Iyaa.. Yaudah sana mandi."
"Okee tunggu sebentar."
Aku pun sembari menyiapkan baju untuk nanti sore dan terdengar suara gemercik air dari ponselku. Aku mendengar suara dari Satria yang sedang mandi, padahal dia bilang speakernya masih rusak, tapi ini tiba - tiba aku mendengar suara dari telponnya. Aneh sekali, apa dia bohong? Alasan saja. Tapi kenapa?
Tak lama, Satria selesai mandi dia langsung mengirimkan pesan di saat telpon masih menyala.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Satria masih lewat chat.
"Lagi baca - baca materi nih, takut banget nanti ditanya - tanya sama asisten dokternya."
"Yaampun belum mulai udah menegangkan yaa.."
"Iyaa.. Kamu udah sarapan?"
"Iyaa ini aku mau sarapan sayang... Mau cari makanan diluar. Lagi males masak aku."
"Yaudah aku matiin dulu yaa HP yang ini. Mau aku charger soalnya, komunikasi lewat HPku satu lagi yaa sayang."
"Hmm oke."
"Yaudah.. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Hati - hati."
"Iya sayang.."
Iyaa Satria memang punya dua HP katanya, tapi aku juga bingung kenapa dia sulit sekali telpon bersuara. Untuk HP satunya aku mungkin memaklumi yaitu speakernya rusak, tapi satunya dia tidak pernah telpon lewat ponsel itu. Ah sudahlah, aku merasa Satria mulai aneh. Diawal aku merasa dia terbuka, tapi aku merasa banyak yang dia tutupi.
***
__ADS_1
"Aku nanti naik angkot aja Ma.." Jawabku sembari merapihkan tas.
"Nanti malem pulangnya?" Tanya Mama.
"Iyaa pastinya Ma.. Gak mungkin pulang cepet."
"YaAllah semangat ya Nak.."
"Iya Ma.. Namanya mau jadi dokter yaa gini Ma.. Harus capek banget."
"Iyaa Nak.. Yaudah Mama siap - siap dulu anterin kamu sampe depan yaa naik motor. Baru kamu naik angkot."
"Okee."
"Nanti malem Mama minta tolong Pakde aja yaa buat jemput kamu."
"Yaa liat nanti lah. Aku naik angkot juga gapapa Ma.."
"Jangan, kalo sampe malem banget jangan nekat naik angkot. Nanti di jemput Mama sama Pakde."
"Yaudah nanti aku kabar - kabarin Mama aja... Mudah - mudahan aja di pulangin."
"Emang bisa gak di pulangin?"
"Hahahah Stase terkejam tuh Bedah kalo di kampusku Ma.."
"Ya Allah mama jadi kepikiran."
"Jangan di pikirin Maa.. Di doain ajaa... Yaudah ayo.. Aku udah siap."
"Iyaa sebentar Mama tinggal ganti baju."
__ADS_1
Kuliah di kedokteran memang tak kenal kata lelah dan kapan pulang, bahkan teradang aku sendiri yang anaknya homey banget harus terus bertahan di Rumah Sakit berhari - hari. Apalagi aku anak tunggal, terkadang jika Bapak tidak pulang karena harus jaga malam di klinik aku sering terpikirkan keadaan Mama di rumah bagaimana sendirian. Karena Mamaku adalah tipe orang yang senang isi rumah ramai, tidak suka kesepian. Aku berharap Stase Bedahku ini segera berlalu dan berakhir.