
Semalaman aku terus tersenyum tersenyum karena bunga dari Satria. Dia benar - benar romantis luar biasa. Padahal dulu aku paling tidak suka laki - laki romantis seperti itu, kasih bunga ataupun cokelat. Tapi beda dengan Satria, aku malah luluh dan salah tingkah.
"Dok.. Udah istirahat aja. Amanlah.." Sahut salah satu perawat di IGD.
"Ih Aa jangan ngomong ah.. Udah aku mau melek dulu sebentar. Tadi habis makan soalnya, tunggu turun." Jawabku sembari mengusap perut.
"Okee Dok, saya masuk ke ruangan yaa.."
"Okee A..."
Aku pun masih asik menjawab chat dari Satria malam itu sampai akhirnya Satria menelponku karena aku bilang sendirian di IGD, semua perawat sudah beristirahat dan dokter jaga di kamarnya.
"Halo Assalamualaikum.." Jawabku berbisik.
"Walaikumsalam... Aku lagi di kelas sayang, jadi bales chat aja ya.." Balas Satria lewat chat.
"Ih. Emang gapapa?"
"Tenang.. Aku pake earphone kok. Gak ketauan, tapi aku sambil cuekkin kamu yaa.. Yang penting aku temenin lewat telpon."
"Hmm iyaa Sayang.. Makasih yaa.. Semangat kuliahnya Sayang.."
"Terima kasih yaa sayang.."
Selama jaga sampai subuh, Satria menemaniku lewat telpon. Aku merasa dia ada di sampingku selalu saat dia menelponku. Sejak aku dan Satria LDR, setiap malam aku mau tidur telpon selalu nyala sampai besok paginya. Sampai membuat ponselku panas. Aku jadi ketergantungan dengan telpon dari Satria, begitupun dengannya. Terkadang hanya dengan telpon menyala saja, yang penting Satria menemaniku dan begitupun sebaliknya walaupun kami tidak saling bicara di telpon. Memang sungguh aneh saat itu hubunganku dengan Satria semakin bucin.
***
Saat tiba saatnya pukul 10:00 WIB pagi hari. Aku selesai menyelesaikan tugas jaga malamku di hari Sabtu ke hari minggu pagi. Saatnya pergantian dengan dokter muda selanjutnya. Aku pun segera berlari ke mess dan bersiap - siap untuk pulang. Dan lebih senangnya lagi aku di jemput dengan Mama dan Bapak. Yeay.. Mereka menjemputku dan kita langsung mencari makan siang karena waktu sudah hampir siang.
"Bunga dari Satria?" Tanya Mama saat aku membawa bunga dari kamar.
"Iyaa biasa, sok romantis." Jawabku senyum.
"Cakep nih bunganya." Sahut Bapak.
"Iyaaa tau nih nemu aja, padahal orangnya lagi di Belanda." Jawabku.
"Yaudah masuk mobil, udah gak ada yang ketinggalan?" Tanya Mama.
__ADS_1
"Udah InsyaAllah Ma.." Aku pun masuk ke dalam mobil, begitupun Mama dan Bapak.
"Kamu tadi pagi sarapan?" Tanya Bapak.
"Makan roti sama minum susu aja Pak.." Jawabku singkat.
Ya memang aku jarang sarapan bahkan sebenarnya aku tidak bisa sarapan, perutku seperti kurang menerima. Jika aku paksa makan pasti sakit perut dan bergejolak. Jadi biasanya aku baru makan berat jam 10 pagi, lalu siangnya jam 1 atau jam 2 makan berat lagi.
"Kita mau belanja apa?" Tanya Mama.
"Iyaa masak aja yaaa di rumah lebih hemat.." Jawab Bapak.
"Okee.." Jawabku lalu tidur di jalan.
"Tapi aku capek Pak, beli aja deh. Beli makanan sampe malem.." Sahut Mama.
"Hahahaha... Yaa si Mama.." Jawabku yang tiba - tiba terbangun mendengar mama bicara sperti itu.
"Yaudah beli aja makanan, tapi belanja aja buat besok sahur." Jawab Bapak.
"Iyaa besok kan hari Senin, puasa Maaa.."
Sepanjang perjalanan aku tidur dan Satria pun juga tidur karena di Belanda saat itu sudah malam mau Subuh. Sesampainya di rumah, aku pun segera mandi dan mengganti baju. Telpon dari Satria masih menyala, tapi aku tinggal di charger. Sebelum aku meninggalkan ponsel yang di charger, aku mengabari Satria lewat chat bahwa aku akan keluar ke ruang TV dan sedang mengisi baterai ponsel. Sebaiknya jangan ditiru yaaa sikapku ini, mengisi baterai HP sembari telpon menyala. Itu akan membuat HP jadi panas dan berbahaya. Tapi saat aku sedang bucin dengan Satria itu tidak memikirkan jauh kesana.
"Ri.. Makan dulu." Ajak Bapak yang sejak tadi duduk di meja makan.
"Iya Pak.. Wuih mantep banget nih rawonnya.." Jawabku sembari membuka tudung meja makan.
Setelah selesai makan, aku Sholat Dzuhur lalu tidur siang. Karena sudah mengantuk sekali habis jaga malam. Saat kulihat ponsel, ternyata telpon dari Satria sudah mati. Satria pasti belum bangun dan HPnya low batt.
Saat aku mulai tidur, tiba - tiba ponselku berbunyi tanda chat masuk. Ternyata Satria yang mengirimkan pesan.
"Aku sayang banget sama kamu." Kata Satria di chat.
"Hahaha kenapa sih sayang? Kamu nih suka tiba - tiba ngomong gitu deh." Balasku.
Ternyata Satria tidak membalas lagi chatku dengan cepat, akhirnya aku melanjutkan tidur sampai sore hari.
Saat itu sampai malam, aku dan Satria masih aman. Kami masih asik ngobrol di chat, tapi saat paginya hubunganku dengan Satria tiba - tiba drama lagi. Lagi - lagi masalahku dan Satria karena telpon.
__ADS_1
"Kamu tuh HPnya masih rusak yaa emang?" Tanyaku di telpon saat sedang istirahat.
"Speakernya masih agak error. Jadi masih suka kresek - kresek, kan kamu denger sendiri." Jawab Satria di chat.
"Pusing banget aku baaca chat, kamu mah enak tinggal denger aja lewat earphone. Lah aku kan harus buka chat, belum HPku jadi cepet panas dan low. Masalahnya kan aku juga banyak grup yaa di HP. Grup koas nih berita - berita semua dari sini. Jadi kamu jangan protes kalo aku tiba - tiba gak bisa angkat telpon kamu. Jangan maunya di ngertiin terus dong, emang gak pusing apa.."
"Yaa mau gimana, service speaker kan mahal Ri. Aku juga disini kan harus hemat - hemat, gak enak aku kalo harus minta uang sama Papa di Indonesia. Makanya kan aku kerja buat kebutuhan aku disini. Kamu tuh juga harus ngerti, kan masih bisa komunikasi yang penting." Balas Satria lagi.
"Iyaa aku tau mahal, tapi kenapa sih masalahnya di speaker terus. Aku tuh bener - bener merasa kayak orang gak normal tau nanggepin kamu kayak gini. Dari awal kita pacaran kamu aneh banget, diajak video call gak mau alasannya gak suka lah. Telponan gak ada suara, aku udah kayak ngomong sama hantu."
"Yaudah kalo kamu gak mau aku telpon, aku matiin aja deh. Assalamualaikum." Lalu Satria langsung mematikan telponnya.
Yaa kebiasaan Satria, pasti tidak mau mendengarkan. Hanya mau di dengarkan. Yaa dimana - mana orang pacaran normal kalo LDR tuh minimal cowoknya pasti akan usaha untuk video call dan telpon. Apalagi sekarang sudah canggih, bisa lewat aplikasi apapun untuk videocall.
***
Setelah siang hari, Satria menghilang tidak ada kabar. Sampai akhirnya aku menanyakan kabar Satria lewat Robert.
"Robert, Apakah Satria sedang bersama kamu?" Tanyaku lewat chat dengan bahasa baku. Yaa Robert bisa bahasa Indonesia dan dia yang minta untuk bicara bahsa Indonesia saja.
"Ri.. Sorry. You're boyfriend..." Balas Robert.
"Hah? Why?"
Robert pun lama membalas chatku.
"Ri.. Tadi Satria kecelakaan kecil. Saat dia ingin menyebrang dengan sepeda, dia melamun. Tidak lihat lampu merah, akhirnya dia di senggol oleh mobil. Tapi sekarang dia sudah di tangani di rumah sakit kok."
"What? Ya Allah. Kok bisa sih? Kenapa dia bisa seperti itu Robert?"
"Saya juga tidak tau persis, saat aku tanya dia hanya menyebut nama kamu terus."
"Duh Satria nih kenapa lagi sih diaaa? Yaudah tolong titip Satria yaa Robert.. Thankyou.."
"It's ok Riri... He is my friend. You're Welcome."
"Tolong kabar - kabari perekembangan dia yaa.. Karena aku menghubungi dia tapi belum ada respon dari tadi."
"Okay."
__ADS_1
Aku yakin sekali Satria celaka karena drama tadi pagi. Saat aku dan Satria ribut dan drama, pasti Satria sakit. Entah tidak mau makan atau yaa kali ini kecelakaan. Aku merasa hubunganku semakin kacau saja. Jadi membuatku takut jika marah dengannya. Dan mungkin aku harus terus mengalah.