
"Ri, dimana?" Tanya Ka Gaida saat aku jalan menuju rumah.
"Masih di jalan Ka. Kenapa?"
"Ini Satria tadi chat aku katanya suruh jemput kamu, karena katanya supir lagi nganterin Papanya."
"Gak usah Ka, aku udah di jalan pulang. Ini naik ojek online..."
"Lah.. Kamu udah pesen ojek online? Kenapa gak ngasih tau? Padahal biar sekalian nonton kita."
"Lagi gak mood sebenarnya Ka. Pengen pulang aja..."
"Kenapa? Gara - gara Satria? Tadi dia cerita loh sama aku, dia pengen banget sebenarnya ketemu Kamu. Cuma karena dia masih harus banyak istirahat jadi Mama Ayu gak ngebolehin pergi."
"Iya Ka gapapa kok. Tapi aku emang gak mood aja... Mau istirahat. Besok juga pagi dan ada tugas."
"Bener?"
"Iya Ka."
"Yaudah, kalo gitu aku nanti gak ke rumah ya Ri. Tadinya aku disuruh Satria ke rumah anterin makanan, aku kirim aja pake ojek online."
"Lah kenapa Ka? Ya kalo mau main sekalian main aja. Mama juga lagi sendiri di rumah. Bapak gak pulang sampai besok."
"Gapapa?"
"Hahaha ya kenapa? Emang kakak ada salah apa sampe gak jadi ke rumah?"
"Ya gak.. Aku gak enak aja karena kamu kayak bete juga gara - gara Satria."
"Ya gak ada hubungannya lah Ka. Tapi kalo kakak mau main mending main aja deh, tapi gak usah bawain makanan dari Satria."
"Ya aku gak enak lah Ri, Satria udah suruh aku bawain soalnya dia gak enak sama kamu dan sebagai rasa bersalah dia karena gak jadi jemput kamu. Kamu udah lumayan nunggu lama katanya."
"Hahaha ya aku juga paham sih Ka, Satria kan lagi lupa sama aku. Masa aku mau maksa - maksa dia sih. Apalagi kesehatannya belum bener - bener membaik."
"Yaudah, nanti aku ke rumah agak maleman ya. Aku ke rumah bulek dulu terus mau nonton sama, baru beli makanan pesenan Satria terus ke rumah kamu."
"Sekalian nginep di rumah aja Ka kalo malem. Besok kan masuk kerja."
"Iya juga ya... Daripada aku balik lagi ke rumah bulek. Yaudah deh nanti sekalian deh bawa baji kerja."
__ADS_1
***
Setelah Ka Gaida selesai menonton, dia langsung ke rumahku dan membawakan beberapa makanan yang diminta Satria untukku. Ternyata sifat Satria tidak berubah akan hal itu, selalu memberikan sesuatu jika meminta maaf atau jika aku kesal dan bete.
"Assalamualaikum." Sahut Ka Gaida yang masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam.... Asikkk rame deh rumah. Dari tadi tante sendirian sepi banget. Ini juga Riri dateng tadi langsung tidur. Katanya capek." Jawab Mama.
"Iya ini tadi sama Riri disuruh nginep aja sekalian." Jawab Ka Gaida.
Aku pun segera mengunci pintu rumah.
"Ri... Ini buat kamu kata Satria." Kata Ka Gaida sembari menyodorkan satu tas besar.
"Ini mah belanjaan namanya Ka." Jawabku.
"Yaah gaktau Ri, aku mah cuma disuruh sama Satria." Jawab Ka Gaida sembari menaikkan kedua bahu.
"Ya Allah si Satria yaa... Masih belum bener - bener pulih masih aja kasih ini ke Riri." Sahut Mama.
"Pas masih sehat sama amnesia masih sama ya Tan." Kata Ka Gaida.
"Ya kalo sifat kan gak bisa berubah kalo amnesia gitu, yang berubah cuma ingatan." Sahutku sembari meletakkan tas belanjaan di meja makan.
"Besok aja deh Ka, udah malem ini. Udah ngantuk aku sebenarnya. Ini deh aku makan ini aja..." Jawabku lalu sembari ambil roti satu.
"Oh.. Yaudah." Jawab Ka Gaida bingung.
Lalu aku langsung siap - siap untuk tidur dan Satria chat aku.
"Gaida udah kasih cemilan - cemilan?"
"Udah kok. Makasih ya." Balasku singkat.
"Iya sama - sama. Semoga kamu suka ya... Aku minta maaf ya tadi gak jadi ketemu."
"Iya gapapa Mas. InsyaAllah suka kok."
"Kamu lagi apa?"
"Mau tidur ini, aku tidur duluan ya. Ngantuk, besok aku pagi - pagi soalnya."
__ADS_1
"Yaudah kalo gitu.. Selamat istirahat yaa Ri."
Setelah itu aku tidak lagi membalas chat Satria dan langsung tidur. Jujur aku masih agak kesal, tapi dia masih sakit. Jadi aku agak serba salah, di sisi lain merasa kesal selalu gagal bertemu. Tapi di sisi lain aku harus mengerti keadaan dia sekarang.
***
Keesokan paginya, aku bersiap untuk berangkat. Disini aku akan bercerita, bagaimana hatiku terketuk untuk menutup auratku. Saat setelah mandi, tiba - tiba aku memilih baju yang serba panjang. Dan tiba - tiba saja aku mengambil kerudung dan aku memakainya. Lalu aku berkaca berulang kali dan merasa kalau aku cocok memakainya. Setelah aku rapih, aku keluar dari kamar.
Ka Gaida terdiam melihatku beberapa detik. Lalu, "Ri?"
Mama menoleh ke arahku sembari mengaduk susu untuk aku minum.
"Cemilanku semalem mana ya Ma?" Tanyaku.
"MasyaAllah... Ini anak Mama? Riri udah yakin berhijab? Satria ya yang minta Riri pake hijab?"
"InsyaAllah Ma... Udah niat. Gak tau rasanya udah pengen aja pake hijab. Gak lah Ma, bukan karena Satria kok. Ya aku udah ngerasa siap aja pakai hijab." Jawabku pelan.
"Kalau Bapak tau pasti seneng." Jawab Mama.
"Kesambet ya Ri?" Tanya Ka Gaida.
"Astaghfirullah. Ini beneran loh Ka... Mau pake hijab. Mau belajar baik. Bener - bener..."
"Kok bisa? Pastikan ada alasannya kenapa mau pake hijab tiba - tiba." Tanya Ka Gaida.
"Ya gak ada alasannya Ka. Memang kan dari agama Islam mewajibkan wanita berhijab, jadi ya aku mikir aja. Dan aku udah siap tutup aurat." Jawabku yakin.
"Kalo aku sih belum siap. Nanti ajalah." Jawab Ka Gaida.
"Ya kan aku gak suruh kakak berhijab juga kayak aku. Ini aku... Yaa aku merasa udah waktunya berhijab."
"Yaudah, yang penting bener - bener ya Nak. Jangan buka tutup." Sahut Mama.
"InsyaAllah Ma... Aku udah bener - bener niat dan siap."
"Alhamdulillah." Jawab Mama.
"Ini pasti di kampus heboh kamu pake hijab." Kata Ka Gaida.
"Yaa udah pasti Ka." Jawabku tersenyum kecil.
__ADS_1
Ya benar saja, sampai di kampus semua berisik dan kaget melihatku berhijab dan seperti tidak menyangka.