
Rencana Satria bersekolah di Belanda sekitar 2 tahun, dan planing dia selesai bulan Agustus 2021. Cukup lama untukku tidak bertemu dengannya nanti. Banyak rencana yang hancur berantakan. Dan kali ini gagal lagi rencanaku bisa datang ke Jogja untuk menghadiri wisudanya, karena yang harusnya aku ke Semarang untuk stase berikutnya adalah Forensik. Tapi akhir harus di tukar ke stase Kedokteran Keluarga terlebih dahulu selama 5 minggu. Aku belum tentu bisa izin untuk melihatnya di wisuda S2 saat itu. Aku sedih sekali saat tau tidak bisa datang, padahal kami sudah banyak rencana jika aku ke Semarang dan datang ke acara wisuda S2nya.
"Aku sedih banget gak bisa lihat kamu wisuda. Aku bener - bener lemes Mas.." Jawabku di chat.
"Yaah mau gimana lagi Sayang.. Kan koas kamu yang lebih utama. Nanti aku kirimin foto - fotonya sama Kamu yaa.." Balas Satria menenangkan hatiku.
Walaupun aku kecewa dan sedih karena tidak bisa melihat dia wisuda, tapi mau bagaimana lagi. Urusan koasku yang utama saat itu. Padahal saat itu aku sedang bentrok dengan mantan pacarnya Satria yang tiba - tiba menghubungiku lewat direct message dengan fake account. Yaa namanya dr. Widi, dia adalah mantan kekasih Satria yang sudah membatalkan pernikahan H- seminggu. Lucu sekali dia datang tiba - tiba menghubungiku dan mengancamku untuk tidak berpacaran dengan Satria saat itu. Kurang lebih seperti ini isi pesannya;
"Siapanya Satria? Dokter ternyata. Dari FK mana nih?"
Aku pun membalasnya dengan ketus, "Kenapa? SIapa?"
"Gak perlu tau siapa, tinggal di jawab, Angkatan berapa?"
__ADS_1
"Kok lo boleh nanya ke gue tapi gue gak boleh tau siapa lo ya? Hahaha lucu."
"Milih kamu jawab atau saya cari tau sendiri?"
Aku pun segera menghubungi Satria, aku sudah merasa bahwa ini adalah Widi mantan pacar Satria saat itu. Satria sudah melarangku untuk membalas pesannya, tapi aku sudah terlanjur tersulut emosi untuk merespon pesannya yang sangat tidak sopan dan tidak menunjukkan dia adalah seorang dokter.
"Kamu mantannya SAtria ya? Kenapa? Kok pengen tau banget? Nih yaa aku kasih tau. Aku pacarnya.. Udah?"
"Baru pacar kan? Bangga banget. Baru pacar aja bangga."
"Hahahaha gak jadi? Tunggu aja, nantinya akan jadi."
"Tanya dulu sana sama Satrianya mau gak? Dok, dari kemarin nyari dia kan? Buat apa cariin saya dok? Takut ya?"
__ADS_1
"Jadi saingan saya cuma kayak gini aja nih, masih sekolah aja sombong."
"Mbak, maaf yaa saya gak pernah ngusik kamu. Kenapa yaa kok kamu ngusik saya? Iyaa dok saya masih koas."
"Yang berhubungan sama Satria itu pasti jadi urusan saya. Anak koas ternyata hahaha.."
"Mbaknya siapanya Satria?? Tunggu tunggu saya mau ngakak dulu boleh?"
"Jangan sampai yaa kamu koas daoet di rumah sakit tempat saya, berdoa aja."
"Iyaa amiin Mbak, saya juga gak mau ketemu sama Mbak. Tenang aja."
"Saya cari tau kamu siapa."
__ADS_1
Sampai akhirnya Satria meminta aku untuk benar - benar stop membalas pesannya saat itu. Aku pun menurutinya. Terakhir aku hanya membaca pesan dari Widi tanpa membalas. Tapi lagi - lagi dia membuat ku emosi dengan menjelaskan aku siapa dan sedang berada di stase apa. Aku benar - benar sangat kesal sekali saat itu, rasanya aku ingin mencarinya dan menyelesaikannya secara langsung tanpa harus menerorku lewat sosial media, dan aku tidak takut karena aku tidak salah. Bahkan aku punya power karena kedua orang tuaku alumni dari kampusku juga. Dan tidak disangka Satria bercerita, Widi datang ke Wisudanya dan mengajaknya makan siang saat itu tapi Satria tidak menggubris dan beralasan dia akan makan bersama keluarga. Aku lega sekali Satria menolaknya. Aku merasa ini seperti drama yang tidak karuan, rencana selalu gagal dan orang - orang baru selalu ada yang tiba - tiba saja mengancamku. Aku tidak tau, aku merasa ujian hubunganku dengan Satria saat itu benar - benar hebat sekali. Bertubi - tubi. Bahkan aku selalu di kecewakan oleh waktu dan ekspektasiku sendiri. Apalagi Satria semenjak sudah berpacaran denganku, untuk telponan denganku saja aku tidak bisa mendengar suaranya karena dia beralasan speaker HPnya sedang bermasalah, sehingga tidak bisa digunakan. Aku bahkan berharap sebelum Satria ke Belanda, kami masih bisa bertemu terlebih dahulu walaupun hanya sebentar saja. Karena akan menjadi waktu yang panjang untukku dan Dia tidak bertemu selama 2 tahun dengan jarak waktu yang berbeda. Aku merasa sangat sedih saat itu, walaupun aku harus bilang senang dengannya karena dia bisa menlajutkan S3. Aku menahan, walaupun sebenarnya aku tidak mau dia pergi ke Belanda. Tapi aku tetap mendukungnya untuk sekolah disana. Yaa sembari aku menyelesaikan koasku, mungkin setelah dia selesai study di Belanda dan aku selesai dan di sumpah menjadi dokter lalu kami baru bisa ke jenjang yang lebih serius setelah itu.