Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 40. Libur


__ADS_3

Aku segera mempersiapkan baju - baju yang akan di cuci, karena baju kotor sudah menumpuk. Di sela itu juga aku sudah menyisihkan baju pergiku jika Mama dan Bapak datang. Karena kemungkinan Mama dan Bapak datang menjemputku dan kami akan jalan ke Solo. Rasanya senang sekali. 


"Ri.. Besok kita jalan kesana yaa... Doain semoga perjalanannya lancar." Kata Mama di WA.


"Iyaa Ma.. Hati - hati yaa ma... Bismillah."


"Iyaa Nak."


Setelah itu aku langsung berkomunikasi dengan Ka Gaida.


"Rii.. Besok aku kesana sama Mama, Bapak dan Pakdemu. Mama mu udah bilang sama kamu belum?" Tanya Ka Gaida di chat.


"Iyaa udah kok Ka... Hati - hati yaa Ka.."


"Iyaa.. Si Satria ribet nih, banyak maunya. Nanti aku harus service orang tua, pakde dan kamu nih. Pokoknya kata Satria, Bapak gak boleh nyetir. Cuma nanti pas balik aku turun di Solo. Aku kayaknya tahun baru di Solo terus ke Pemalang."


"Hahaha yaelah Satria mah bawel Ka. Oh iyaa Ka.. Oke oke.. Mama sama Bapak udah tau tapi kan?"


"Tau. Pacarmu bawel banget. Udah kok.. Tadi aku bilang sama tante." 


"Okee deh Ka.."


"Nanti aku kasih tau tempat - tempat makanan enak kalo di Solo." 


"Okay Ka.." 


***


Sampai akhirnya hari esok pun tiba, Mama, Bapak, Pakde Dimas dan Ka Gaida pun berangkat dari jam 7 malam. Karena mereka menunggu Ka Gaida.


"Nak, Ini kita udah jalan yaa.." Kata Mama lewat chat WA.


"Oke Maa.. Hati - hati yaa.." 


"Iyaa.. Kamu besok masih masuk ya?" Tanya Mama.


"Iyaa.. Liburnya 24 sama 25 aja Ma..."


"Yaudah nanti sampai sana mungkin subuh, Mama ke rumah sodara Mama dulu yaa.. Kan Kamu pasti masih kegiatan sampai sore."


"Aku cuma sampai jam 1 kok Ma biasanya. Yaa jam 2 lah paling lama."


"Oh yaudah kalo gitu.."


"Mudah - mudahan gak macet Ya Ma.."


"Insya Allah gak macet. Kata Ka Gaida sih kayaknya gak macet Nak."


"Amiinn.. Yaudah aku mau makan dulu yaa Ma..." 


"Makan apa Nak?"


"Ini Ka Livia beliin makanan Ma..."


"Alhamdulillah... Makan rame - rame ya?"


"Iyaa Ma..."


"Yaudah kalo gitu, Mama mau bobo dulu ah."


"Hahahah selalu Mama mah kalo di jalan *****. Yang duduk di depan siapa?"


"Pakde Dimas duduk di depan Nak. Dia kan gak tidur biasanya.."


"Oh yaudah Ma.."


"Iya."


 Setelah pukul 9 malam, aku sepertinya sudah mulai mengantuk. Tapi aku masih terus berkomunikasi dengan Satria.


"Sayang.. Aku udah ngantuk lagi."


"Yaudah Aku telpon kamu ya.." 


"Iyaa Sayang.." 


Tak lama, Satria pun langsung menelponku.


"Sayang, aku sambil ngecharger HP yaa.. HPku udah mulai bocor nih kayaknya." Jawabku saat Satria baru menelponku.


"Salam dulu dong. Assalamualaikum."


"Hahahaa ya Allah iyaa.. Walaikumsalam." 

__ADS_1


"Yaudah sambil di charger yaa Sayang."


"Maaf yaa.. HP aku ini kayaknya udah mulai error deh Sayang. Aku masih nabung mau ganti HP, nanti kalo kita batasin telponan gimana? Emang ini tuh semenjak sering telponan nonstop jadi sering panas sayang."


"Gak mau. Aku gak bisa kalo gak lama telponan sama kamu.."


"Yaah mau gimana.."


"Aku beliin HP baru ya Sayang. Uang tabungan kamu simpen aja.."


"Eh apasih Mas. Jangan."


"Gapapa."


Disini Aku dan Satria telponan masih seperti biasa, aku yang menjawab dengan bicara di telpon. Satria masih menjawab lewat chat.


"Gak.. Apasih kamu. Aku mau tabung, tapi kamu harus sabar."


"Aku gak bisa, makanya aku mau beliin HP. Kamu mau HP apa?"


"Aku udah punya plan mau beli HP yang bagus. Udah deh.."


"Yaudah aku beliin Sayang."


"Udah ah bahas yang lain aja. Kamu lagi dimana ini Sayang?"


"Aku lagi siap - siap mau balik nih, ke kampus. Masih di tempat kerja sayang.. Kamu katanya mau bobo, bobo gih."


"Iyaa ini sambil dengerin cover kamu lama - lama juga merem."


"Hahaha bisa gitu yaa. Aku kalo denger suara kamu bisa ngantuk. Kamu kalo denger cover aku juga."


"Tau nih.." Jawabku sembari pelan - pelan memejamkan mata.


"Selamat bobo sayang aku.. Love You.."


"Hmm Love you too sayang."


Saat aku sudah mulai memejamka mata, terkadang aku mengintip sedikit Satria membalas apa. yah begitulah repotnya telponan tidak normal. Membuat mata sakit, telinga juga sakit. Tidur saja menempel dengan ponsel. Padahal itu sangat berbahaya sekali, apalagi aku semakin sering telpon sembari mengisi baterai.


***


Keesokan harinya pun aku terbangun dengan penuh semangat, karena hari ini Mama dan Bapak sudah tiba di Semarang. Anak mana yang tidak senang jika di kunjungi kedua orang tuanya saat sedang koas di luar kota. 


"Ri. Mama ke rumah sepupu Mama dulu yaa.. Ini lagi di ajak sarapan." Kata mama di WA.


"Oke.." 


"Nanti lo pergi dong Ka?" Tanya Ria saat aku sedang berdandan.


"Iya deh kayaknya, soalnya mumpung pada kesini kan.." Jawabku sembari membereskan isi tas. 


"Jadi nanti malem kamu gak tidur disini Ri?" Tanya Ka Livia.


"Gak Ka..Soalnya kemarin sih bilangnya aku mau di jemput. Terus jalan ke Solo.." Jawabku.


"Oh yaudah.. Kamu keep contact aja pokoknya yaa Ri."


"Siap Ka.."


Rasanya pagi itu cerah sekali, aku merasa senang sekali menunggu nanti siang. Belajar pun jadi semakin semangat. 


"Sayang.. Mama sama Bapak udah sampe ya?" Tanya Satria di chat.


"Iyaa Sayang.." 


"Ciee seneng deh.. Oh iyaa besok aku kacangin kamu dulu yaa. Besok aku ada tugas dari kampus buat penelitian gitu. Nanti aku minta temenin Melly kayaknya deh."


"Iyaa gapapa sayang. Lagian kan ada Mama, Bapak, Pakde Dimas dan Ka Gaida. Nanti juga pasti aku asik ajaa sendiri sama mereka."


"Duh sombong deh pasti nih kalo udah gitu. Aku di cuekkin.."


"Hahahah ya gak lah sayang."


"Yaudah aku mau siap - siap dulu yaa.. Tadi aku habis Sholat Subuh. Mau masak ah.."


"Cieelah masak, yaudah sayang. Aku juga udah ada dokternya nih. Dah sayang.."


"Jangan Dah.. kesannya kayak perpisahan banget."


"Hahaha yaudah love you masku sayang."


"Love you too. Aku sayang banget sama Riri."

__ADS_1


Siang hari pun tiba, aku segera kembali ke tempat persinggahan koas forensik. Karena ternyata Mama, Bapak, Pakde Dimas dan Ka Gaida sudah di depan rumah. Saat aku berjalan, aku melihat sosok laki - laki tidak terlalu tinggi dan tidak juga kecil. Kumisnya yang tebal dan khasnya mengantongi tangan ke saku celana. Aku pun langsung datang menghampirinya dan tersenyum.


"Alhamdulillah.. Udah pulang." Bapak pun menoleh langsung kearahku dan memelukku dengan erat.


"Capek Nak?" Tanya Mama yang langsung turun dari mobil.


"Gak kok, di forensik ini mah santai Ma.. Gak terlalu capek." Jawabku sembari salim tangan ke Mama dan Pakde Dimas.


"Kamu udah makan Nak?" Tanya Pakde Dimas.


"Tadi sih udah jam 10. Masih kenyang Pakde.." Jawabku sembari mengelus perut.


Dari belakang tampak ada Ka Livia dan Ria.


"Eh ini Ria yaa.." Sahut Mama.


"Iyaa Tante.." Jawab Ria lalu salim dengan Mama, Bapak dan Pakde Dimas.


"Ini namanya Ka Livia Ma.. Pak.." Jawabku sembari memperkenalkan Ka Livia Ke Mama dan Bapak.


"Oh iyaa.. Makasih ya Ka udah ingetin Riri makan disini." Kata Mama.


"Iyaa sama - sama tante.." Jawab Ka Livia. 


"Masuk dulu yaa Om, Tante.." Sahut Ria. 


Aku melihat Ka Gaida masih sibuk memainkan ponselnya walaupun sudah melihatku dan teman - temanku. Mungkin dia malu. 


Mama dan Bapak pun masuk ke dalam rumah dimana aku tinggal selama 1 bulan ini. 


"Oh iyaa ini tadi ada titipan Satria Ri buat makan disini.." Sahut Ka Gaida tiba - tiba.


"Oh iya untung Ka Gaida inget." Kata Mama.


"Apa ini? Oh lunpia Semarang. Makasih yaaa Ka.." Jawabku tersenyum.


"Ih bukan dari Aku, ini Satria yang suruh aku beliin katanya buat kamu."


"Kebiasaan emang tuh anak." 


Setelah aku simpan oleh - oleh yang diberikan dari Satria, aku pun langsung bersiap - siap berangkat ikut ke Solo dengan Mama, Bapak dan Pakde Dimas. 


"Makasih yaa Ka.. lumayan ada cemilan." Sahut Ria dengan wajah senang.


"Ini banyak loh Ria.. Jangan kamu habisin semua. Riri kan 2 hari pergi.." Ledek Ka Livia.


"Iyaa Kaa tenang ajaaa hehehe.." Jawab Ria. terkekeh.


***


Selama di perjalanan aku bersenandung dengan Ka Gaida, rasanya happy sekali saat itu. Apalagi aku seperti bertemu sosok kakak. 


"Pokoknya nanti aku kasih tau tempat makan yang enak - enak deh." Sahut Ka Gaida dengan wajah senang.


Sampai di Solo kami asik mencari kuliner, sampai akhirnya ada perdebatan hotel. Karena biasanya Ka Gaida selalu sudah booking hotel sebelum perjalanan. Tapi kali ini tidak, karena Bapak dan Mama yang melarang. Nanti saja saat sudah sampai disana. Ternyata benar saja, karena hari libur. Semua hotel full, sampai akhirnya kami dapat hotel yang mahal tapi kenyamanannya kurang. Dan Satria rela membayar semua selama kami jalan. Bahkan Mama dan Bapak tidak mengeluarkan uang sepeserpun saat itu. Bensin, makan, penginapan semua di bayar Satria. Yang aku tau. 


"Rumahnya Satria di Solo juga ada kan Ka?" Tanyaku saat perjalanan.


"Hmm? Iya. Tapi rumah mbahnya Ri." Jawab Ka Gaida santai.


"Oh gitu.. Dimana Ka?" Tanyaku penasaran.


"Nanti deh aku kasih tau." Kata Ka Gaida sembari melihat kiri dan kanan.


Sampai kita sudah berkeliling, Ka Gaida pun lupa untuk memberitahu rumah eyangnya Satria.


"Duh aku lupa lagi jalan ke rumah eyangnya Satria Ri." Jawab Ka Gaida polos.


"Lah tadi katanya tau Ka.."


"Iyaa aku lupa jalannya yang mana... Rumahnya tuh besar banget Ri yang aku inget. Cuma emang jalannya agak masuk ke dalem. Jadi aku lupa."


"Oh gitu.."


Aku percaya saja. 


Keesokan harinya aku, Mama, Bapak, Pakde Dimas dan Ka Gaida pun ke keraton solo. Ka Gaida lagi - lagi bilang kalau Satria ada keturunan keraton solo. 


"Dia tuh kenapa ambil antropolgi, yaa karena ini Ri... Mamanya tuh masih ada keturunan darah biru. Papanya jugaa, keraton jogja." Jelas Ka Gaida seperti membanggakan Satria sekali.


"Oh iya Ka? Sama dong kayak eyang kung aku juga masih ada keturunan keraton Solo." Jawabku.


"Oh iya? Bisa gitu ya?"

__ADS_1


"Iyaa Ka.."


Selama aku menikmati liburan dengan Mama, Bapak, Pakde Dimas dan Ka Gaida, Satria sangat menghargai kebersamaanku dengan mereka. Jadi kami hanya chat dan tidak telponan saat mau tidur. 


__ADS_2