
"Pak.. Bu.. Maaf Saya gak bisa lama - lama karena Bapak dan Ibu saya sudah perjalanan pulang sekarang." Kata Satria lembut.
"Gak mau ngobrol dulu sebentar?" Tanya Bapak.
"Lain kali yaa Pak, ini sudah di telpon Bapak saya.." Jawab Satria ketakutan.
Bapak sepertinya masih mau banyak ngobrol dengan Satria, tapi terkesannya Satria tidak mau berlama - lama bicara dengan Aku, Bapak dan Mama. Dan tampak Ka Gada hanya diam saja.
"Yaudah kalo gitu hati - hati yaa Sat... Terimakasih sudah mampir." Jawab Bapak sambil menepuk - nepuk pundak Satria.
"Iya Pak.. Sami - sami.." Jawab Satria sembari salim Bapak.
"Eh foto dulu Ri.." Bisik Ka Gaida.
"Oh iyaa.. Foto dulu Mas." Jawabku berbisik ke Satria.
"Oh iyaa.." Jawab Satria menurut.
Akhirnya Aku dan Satria foto berdua, lalu setelah itu Satria meminta foto juga dengan Mama dan Bapak. Setelah foto - foto, Satria pun pamit untuk pulang dan Mama sudah menitipkan banyak pesanan dari Bude Tari untuk Satria dan Mama juga membawakan sesuatu untuk Satria.
"Terima kasih banyak yaa Bu... Matur suwun sanget. Saya nda enak ini Bu... Malah di bawain banyak gini." Jawab Satria santun.
"Gapapa.... Kan Mas juga sudah baik sekali dengan Riri, Om dan Tante. Sehat - sehat yaa Nak." Jawab Mma sembari mengusap pundak Satria.
"Nggih Bu... Pamit ya Bu.. Pak.." Kata Satria lalu pamit ke Ka Amel juga.
__ADS_1
Aku dan Ka Gaida pun mengantarkan Satria ke parkiran. Saat aku lihat dia naik motor butut yang knalpotnya berisik dan cara mengendarainya seperti ugal - ugalan. Dan aku lebih terkejut lagi, dia memegang rokok. Karena setauku Satria tidak merokok, masa sih faktor amnesia jadi begitu? Ah lucu.
***
Setelah Satria pulang Aku dan Ka Gaida masuk ke dalam hotel lagi, dan Ka Gaida agak menjelaskan kalau Satria tidak merokok.
"Kamu pasti kaget yaa dia ngerokok?" Tanya Ka Gaida.
"Hmm yaa.. Mungkin dia lagi stress Ka.." Jawabku pelan.
"Iyaa kayaknya, wajar dia kan lagi berusaha inget - inget kamu Ri."
"Iyaa Ka.."
Saat aku tiba di lantai kamar hotel, Mama dan Bapak masih menunggu di depan pintu kamar bersama Ka Amel. Lalu Bapak pun mengajakku dan Ka Gaida mengbrol di balkon hotel.
Ka Gaida hanya diam dan menggeleng - gelengkan kepala. Ka Amel tertawa kecil dan Mama bingung.
"Tapi gayanya aneh yaa Pak." Sahutku.
"Ini kayaknya Satria lagi ngerjain kita ya? Om tau ini Gaida tau soal Satria, kamu mata - matanya Satria kan?" Bapak sembari tersenyum kecil dan menatap Ka Gaida.
"Saya gak tau apa - apa Om. Kalau masalah dia operasi dan sampai amnesia itu bener Om, gak mungkinlah dia bohong masalah itu." Jawab Ka Gaida yakin.
Tapi aku merasa mata Ka Gaida seperti tidak fokus dan kemana - mana.
__ADS_1
Dan setelah satu jam kita semua membicarakan Satria dan Ka Gaida seperti tidak mau jujur sama sekali akhirnya kami pun menyudahi pembicaraan. Karena besok pagi - pagi kami akan pulang ke Jakarta.
Setelah itu aku, Ka Amel, Ka Gaida, Mama dan Bapak masuk ke kamar dan beristirahat. Tapi saat aku mau tidur Satria mengirimkan pesan untukku.
"Maaf.. Aku gak bisa nepatin janji aku tadi. Harusnya kita bisa ngobrol lebih lama. Aku nyesel banget tadi masih mengiyakan temen - temenku untuk pergi."
"Gapapa kok Mas. Kan masih ada lain waktu, kamu gak usah ngerasa gak enak gitu. Tadi kamu juga bawa motornya bahaya banget.." Balasku.
"Itu bukan motor aku, tapi temen aku. Itu juga rokok aku cuma sekali kali aja kok ngerokok, dan itu baru banget aku ngerokok. Karena aku rasanya lagi stress banget akhir - akhir ini."
"Hmm iya gapapa kok Mas, aku paham. Tapi jangan terlalu sering ya, yaudah sana istirahat ya."
"Maaf."
"Udah gak usah minta maaf, aku mau tidur nih. Kamu tidur juga yaa.. Terima kasih tadi udah sempetin dateng ke hotel yaa Mas."
"Iyaa sama - sama.. Itu Mama kamu malah bawain aku banyak banget. Aku yang terima kasih harusnya. Oh iya aku mau dong foto - foto tadi, ini aku lagi buka - buka foto - foto yang di nikahan tadi. Nanti aku kirim nih ke kamu."
"Iyaa ini aku kirim ya.. Iyaa Mas.."
Setelah itu aku tidur dan besok paginya aku, Mama, Bapak dan Ka Gaida ke Jakarta. Sebelum kami pulang ke Jakarta, kami mengantarkan Ka Amel ke tempat persinggahan dia selama ini di Jogja. Setelah itu baru kami pulang ke Jakarta. Selama di perjalanan kami tidak banyak bicara, bahkan aku merasa Ka Gaida agak kaku saat itu.
"Ka, nanti kamu tidur di rumah aja loh. Gak usah ke kostan." Sahut Mama.
"Iya Tante." Jawab Ka Gaida singkat.
__ADS_1
Sore harinya pun kami sampai di Jakarta. Setelah itu kami semua beristirahat. Dan aku masih tetap berkomunikasi dengan Satria. Bahkan sepertinya Satria jadi semakin intens lagi berkomunikasi denganku. Bahkan Satria mau benar - benar serius untuk berobat supaya ingatannya cepat pulih. Dan aku terus memaklumi dia selama proses pengobatan tapi kali ini perasaanku berbeda, aku seperti merasa ada yang tidak beres. Jadi terkadang saat Satria menceritakan sesuatu aku jadi tidak bisa langsung percaya. Aku tidak tau perasaanku jadi seperti itu.