Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 9. Mama dan Bapak Tau


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu aku dekat dengan Satria saat itu dan aku belum berani memberitahu Mama dan Bapak saat itu. Karena aku tidak pernah pacaran diam - diam. Hanya dengan Dhito saja dulu aku berpacaran secara diam - diam dari mereka. Tapi untuk dengan mantan yang lainnya aku selalu bilang dengan Mama dan Bapak. Ah tapi aku kan masih pendekatan dengan Satria belum berpacaran, mungkin lebih baik aku akan mengunci rapat - rapat tentang Satria. 


"Ri.. Kamu nanti gak jaga kan?" Tanya Mama.


"Gak kok Ma.. Kenapa?" Tanyaku sembari merapihkan isi tas.


"Pulangnya gak tau yaa jam berapa?" 


"Tidak pernah pasti kan Ma.."


"Yaudah deh, tapi nanti kalo pulangnya cepet kamu WA mama ya.." 


"Okee siap.." 


Aku pun pamit berangkat ke Rumah Sakit dengan Mama. Bapak hari itu tidak di rumah karena belum pulang dari praktek. 


Mama memang sampai aku Koas pun masih sering bertanya aku pulang cepat atau tidak, padahal sudah jelas aku tidak pernah pulang cepat sejak masuk koas. 


***


Sesampainya di rumah sakit, seperti biasa Satria pasti mengirimkanku pesan. Terkadang aku bingung, Satria seperti selalu ada waktu walaupun dia sedang sibuk mengurus ujiannya untuk tesis. 


"Kamu udah sampai Rumah Sakit?" Tanya Satria lewat chat di LINE.


"Udah kok Mas, ini baru aja sampe. Kamu udah sarapan?" Balasku.


"Kamu udah sarapan? Aku mau cari sarapan nih."


"Aku udah minum susu kok Mas, nanti aku mau beli roti disini. Mau cari sarapan apa Mas?"


"Emang kenyang ya? Kayaknya aku pengen makan bubur deh."


"Aku kan gak biasa sarapan Mas. Yaudah sana gih cari dullu buburnya.. Aku mau beli roti dulu yaa.. Habis itu sibuk mau operasi nih." 

__ADS_1


"Oh iya yaa.. Kalo aku kan gak bisa, harus sarapan. Yaudah kamu semangat yaa. Nanti kalo udah senggang kabarin yaa Ri..." 


Aku pun fokus untuk menyiapkan segala operasi dan mengabaikan pesan dari Satria saat itu. 


"Ri.. Lo mau pasien yang mana?" Tanya Lisa.


"Gue pasien yang itu aja deh Lis." Jawabku sembari menunjuk status pasien.


"Yaudah gue yang ini ya.." Tunjuk Lisa.


"Udah deh bebas kakak - kakak mau yang mana. Aku sisanya aja.." Sahut Ria.


"Oh iyaa memang harusnya begitu. Kalo junior sudah harus mengalah dengan senior." Jawab Lisa bercanda.


"Iyaa kakakkuuu yang lucuuu.." Jawab Ria sembari mencubit Pipi Ria.


"Eh udah dateng itu pasiennya.. Mending lo liat dulu deh itu siapa yang udah di ruang pre operasi." Sahutku.


"Oke Ka.." Ria dengan senang berjalan cepat ke arah ruangan pre operasi. 


"Ka.. Ini kita di pulangin cepet gak ya?" Tanya Ria saat kita sedang makan di kantin. 


"Yaa mana gue tau Ria.. Gue bukan asisten dokternya kalii.." Sahut Lisa.


"Hahahha ih Kakak nih, maksudnya aku nanya yaa kayak kira - kira kita bakal di pulangin cepet atau gak gitu." Jawab Ria dengan tertawa terbahak - bahak.


"Mudah - mudahan yaa.." Sahutku.


Mama dan Bapak akan menjemputku nanti, aku senang sekali. Karena kebetulan aku habis kecelakaan saat itu, jadi aku tidak di perbolehkan membawa motor dulu. 


***


Ternyata pukul 4 sore kami sudah di pulangkan karena tidak ada bimbingan, aku pun langsung segera mengabari Bapak. Dan tidak lama Bapak dan Mama datang menjemputku. 

__ADS_1


"Alhamdulillah ya nak pulangnya gak sampai malam.." Sahut Mama saat aku naik ke dalam mobil. 


"Iyaa Ma.. Karena minggu depan udah mau ujian. Jadi cepet pulangnya. Nanti bimbingan di akhir - akhir pasti.." Jawabku.


"Oh gitu.. Yaudah kamu laper kan? KIta makan pempek dulu yaa. Deket sini kan ada yang enak.." Jawab Mama.


"Yang ngajak yang traktir yaa." Sahut Bapak meledek.


"Ih Bapak nih.." Jawab Mama sembari mencubit manja lengan Bapak.


Betapa bahagianya aku melihat kedua orang tuaku bahagia sekali saat itu. Bahkan mereka sudah lupa dengan kekacauan tahun 2018 saat aku batal menikah. Aku lega rasanya. 


***


Saat sampai di resto, aku dan Bapak langsung duduk di tempat. Mama memesan makanan ke depan kasir. Ya pastinya Mama yang memilih pempeknya, aku hanya makan saja hehehe...


"Pak.. Aku lagi deket sama cowok." Tiba - tiba saja aku ingin menceritakan Satria ke Bapak. 


"Siapa?" Tanya Bapak penasaran.


"Mama sudah tau, tapi kayaknya Mama kurang suka kalau aku deket lagi sama cowok." Jawabku pelan.


"Ada fotonya?" Tanya Bapak.


Aku pun memberikan foto Satria dan menjelaskan siapa Satria saat itu ke Bapak. 


"Alhamdulillah sama orang Jawa." Jawab Bapak tersenyum.


"Hayo ngomongin apa?" Tanya Mama yang tiba - tiba datang membawa tekwan dan pempek. 


"Ihhh enak ini Ma.." Jawabku langsung mengalihkan pembicaraan.


"Pasti bahas Satria ya? Cepet banget langsung kasih tau Bapak. Tumben. Pasti karena orang Jawa nih." Ledek Mama.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan langsung menyantap tekwan yang mama bawa. 


Aku senang respon Bapak kala itu, wajahnya sangat berbinar - binar saat tau anaknya dekat dengan laki - laki jawa. Karena selama ini aku punya pacar selalu beda suku, mungkin Bapak trauma dengan kasusku dan Adi dulu karena kami yang berbeda suku jadi mungkin Bapak lebih senang jika aku bisa dengan orang yang satu suku. Saat itu aku berharap ke depannya aku dan Satria akan bertemu dan kenal dengan kedua orang tuaku. 


__ADS_2