Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 19. Ka Gaida Menginap di Rumahku


__ADS_3

Entah kapan pertama kali Ka Gaida menignap di rumahku, yang pasti saat itu karena hari sudah terlalu malam. Bapak tidak membolehkan Ka Gaida pulang, tapi Ka Gaida tidak membawa baju ganti saat itu jadi harus pulang terlebih dahulu ke rumah sepupunya yang ada di daerah Kranji. Karena besok dia pagi - pagi sekali harus berangkat ke tempat kerja. Ka Gaida bekerja di koperasi polda di Jakarta. Jadi dia banyak kenal dengan polisi - polisi saat itu, karena beberapa polisi - polisi daerah pun kenal dengan almarhum ayahnya. Sedikit ku ceritakan tentang Ka Gaida saat aku mengenalnya dan mulai dekat, dia adalah anak bontot dari 2 bersaudara. Ayahnya seorang pensiunan angkatan darat dan ibunya dulu seorang pelawak terkenal. Tapi pada tahun 2017, Ayahnya meninggal karena sakit diabetes yang di deritanya. Menyusul ibunya meninggal di tahun 2018. Selama kedua orang tuanya masih ada, dia tinggal di Solo tempat kelahirannya. Tapi saat kedua orang tuanya sudah meninggal dia merantau ke Jakarta dan bekerja disini. Dia punya seorang Kakak kandung, tapi kakaknya sudah berkeluarga dan menetap di Jawa bersama istri dan anaknya. Dan sepertinya dia kurang akrab dengan Masnya. Tapi Ayahnya sudah pernah menikah sebelumnya dan juga dengan ibunya, jadi Ka Gaida punya banyak Kakak - kakak dari suami dan istri dari Ibu dan Ayahnya. Tapi sepertinya dia lebih dekat dengan Kakak - kakaknya yang berbeda ibu dan ayahnya. Dan disini dia tinggal di daerah Bekasi di rumah Buleknya, adik dari Ayahnya. Setiap hari saat awal dia bekerja, dia naik kereta dari stasiun bekasi. Tapi semenjak pertengahan tahun 2019 dia naik mobil pinjam mobil dari buleknya. Jadi kemana - mana dia naik mengendarai mobil itu. Nah, kali ini dia menginap di rumahku. Mama dan Bapak izin ke Bulek dan Omnya untuk mengajaknya menginap di rumahku saat itu untuk beberapa hari karena untuk menemaniku. Yaa 3 hari lah. Karena Bapak kasihan kalau dia harus bolak - balik mengantarkan makanan dari Satria lalu balik lagi pulang ke Bekasi. 


"Maaf yaa Pak Bu, saya bawa dulu ponakannya." Kata Mama saat itu. 


Bapak tidak bisa ikut karena kebetulan Bapak sedang praktek jaga. Sejak aku mulai sibuk koas, bapak juga semakin sibuk jaga untuk biaya aku kuliah. Karena di koas ini biayaku semakin banyak, padahal aku juga sama dengan bapak. Hanay bedanya aku dokter muda yang masih harus di tuntun dengan dokter senior, tapi aku sudah bisa pegang pasien untuk di periksa dan di saran terapi pada pasien. Yah itulah dokter muda itu tanggung, lelah bekerja tapi tidak dapat gaji. 


Setelah Ka Gaida kami ajak menginap di rumahku, aku semakin dekat dengannya. Bahkan sebelum tidur kami selalu bercanda membahas Satria yang tingkahnya sangat lucu. Tapi jika aku senang saat ada Ka Gaida aku jadi tidak terlalu memikirkan Satria, karena Satria juga pasti paham jika ada Ka Gaida dia tidak sering menghubungiku. Dia seperti memberikan quality time untuk bergaul dengan yang lainnya. Tanpa harus terus - terussan berkomunikasi dengannya. 


"Ri.. Mau makan apa nih?" Tanya Ka Gaida sembari melihat - lihat menu di aplikasi online. 


"Aku apa aja deh." Jawabku singkat.


"Ihh jangan apa aja.. Nanti aku diomelin sama Satria kalo kamu gak makan." 


"Ih lebay banget. Dia tuh yang harusnya aku omelin kalo gak makan, nanti maagnya kambuh terus." Jawabku sembari memainkan remote TV.


"Buruan mau apa? Ayam? Pizza? Atau burger?" 

__ADS_1


"Apasih Ka... Jangan aneh - aneh udah malem. Kenyang nanti gak bisa tidur kalo kekenyangan aku." 


"Yaudah apa?"


"Ya snack snack aja.."


"Aku harus makan nasi, gak bisa gak makan nasi nih."


"Yaampun orang Indonesia banget sih. Aku gak mau nasi."


"Laah gak ah. Kenyaang Ka.." 


"Yaudah apa kek nih yang gak pake nasi."


Setelah perdebatan panjang antara aku dan Ka Gaida, akhirnya Ka Gaida memilih pesan ayam cepat saji. Dia memilih memakai nasi sedangkan aku kentang goreng. Dia selalu memesan banyak sekali, bahkan terkadang aku sudah tidak mau tapi dia selalu memaksa. Alasannya pasti karena disuruh Satria. Se loyal itu kah Satria? Aku tidak pernah punya pacar yang seperti ini, apapun harus dibelikan supaya aku senang dan kenyang. Sedangkan jika aku mau membelikannya dia selalu menolak. Padahal pasangan kan harus ada take and gift. 


"Mau pesen apa lagi Ri?" Tanya Ka Gaida.

__ADS_1


"Hah?" Aku hanya bisa terkejut saat dia bertanya seperti itu.


"Kaa udah ah kenyang.." Sahut Mama. 


"Hahahaha ayo dong pesen lagi gitu." Ledek Ka Gaida.


"Suka bercanda nih orang. Gak ah... Udahhh.." Jawabku sembari mengelus perut yang sudah kekenyangan. 


"Masa udah kenyang sih?" Tanya Ka Gaida tersenyum.


"Emang kakak belum kenyang? Gila kali." Jawab ku sembari mendelik.


"Hahaha ya gak lah udah kenyang.." Jawab Ka Gaida tertawa.


"Emang orangnya suka bercanda, sama kayak temennya tuh.." Jawabku. 


Mama tertawa lepas saat melihat aku dan Ka Gaida saling meledek. Mama merasa seperti punya 2 anak saat itu, yang biasanya di rumah sepi hanya ada aku dan Mama jika Bapak sedang jaga malam. Kali ini rumah jadi ramai. Aku senang jadi seperti punya Kakak saat itu, aku merasa keluargaku akan lengkap jika memang aku akan jadi dengan Satria dan Ka Gaida menjadi Kakakku.

__ADS_1


__ADS_2