Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 17. Bertengkar


__ADS_3

Hubungan jarak jauh antara Indonesia dan Belanda dengan Satria kurang lebih sudah hampir satu bulan, hubungan kami baik - baik saja. Bahkan hampir setiap hari kami telponan walaupun masih dengan speaker hp Satria yang rusak. Tapi aku tetap senang bisa terus berkomunikasi dengannya.


Tapi kali ini aku dan Satria bertengkar karena masalah ponsel. Karena aku sedang lelah saat itu.


"Mau sampai kapan sih HP kamu gini terus Mas?"


"Sabar dong. Aku kan belum sempet ke tempat service... dari kemarin kan aku kerja terus kuliah juga, tugas juga. Mana sempet."


"Ya capek juga sih aku kalo komunikasi kayak gini, kamu minta telpon terus tapi aku gak denger suara kamu. Gak adil dong kamu denger suara aku, aku gak denger suara kamu."

__ADS_1


"Yaudah aku matiin dulu telponnya. Aku mau keluar sebentar." Balas Satria yang langsung mematikan telpon.


"Mau kemana???"


Satria tidak membalasanya, padahal saat itu dia sedang lelah tapi dia keluar dan ke service HP. Terkadang aku panik juga saat Satria langsung mengiyakan permintaanku di saat yang tidak tepat. Dan itu lah yang membuat pertengakaran Aku dan Satria menjadi drama.


Setelah kurang lebih 30 menit, Satria membalas chat ku.


"Tunggu dulu. Kamu jangan marah - marah dulu. Aku lagi cari - cari tempat service hp nih disini, aku kan belum sempet jalan - jalan disini... Jadi aku masih agak buta. Kamu tuh sabar makanya."

__ADS_1


Terkadang aku yang salah saat aku hanya ingin menjadi normal. Rasanya kesal sekali. Mungkin hanya aku saja perempuan yang mau mengangkat telpon dari pacarnya tapi gak denger suaranya. Aneh kan? Beberapa kali teman - temanku melihat aku telpon tapi tidak dengan biasa, tapi seperti bicara sendiri. Aku rasa orang yang tidak mengenalku bisa mengataiku dalam hatinya kalau aku ini orang gila.


"Terserah kamu deh aku udah capek ngomongnya. Kalo gak bisa yaudah. Gak usah di paksa deh..."


Setelah menghilang 2 jam, Satria mengabariku.


"Kamu tuh kenapa sih marah - marah terus? Aku ini lagi usaha loh, kan kamu tau sendiri dari kemarin selama aku Jakarta gak sempet sama sekali ke tukang service HP, terus sampe sini banyak yang harus aku urus. Ini aku belum ketemu tempat servicenya, masih muter - muter."


Saking kesalnya, aku hanya membaca chatnya saja. Karena aku memang sudah dari kemarin mengingatkan dia untuk segera service. Apakah sesibuk itu sampai benar - benar tidak sempat membenarkan speaker HP yang tidak ada gunanya itu. Kenapa sih dia tidak mau berusaha untuk telponan secara normal denganku??? Banyak sekali pikiran dan pertanyaan yang ada di kepalaku saat itu, ditambah aku banyak tugas dan kegiatan di Staseku ini yang membuatku semakin lelah saja menghadapi Satria saat itu. Aku merasa hubunganku dan Sartria mulai toxic saat itu, mungkin karena aku dan dia sama - sama anak tunggal. Jadi ego kami sangat tinggi dan tidak ada yang mau mengalah dan di salahkan. Sampai akhirnya Satria tidak jadi service HP karena tidak ada yang buka katanya disana. Aku juga bingung kenapa tidak ada tempat service HP yang buka? Dia mau service yang di tunggu bukan yang di tinggal. Karena alasannya adalah tidak mau tidak berkomunikasi denganku sama sekali. Sangat menyebalkan. Lebih baik menunggu HP kembali benar, lalu setelah itu bisa berkomunikasi secara normal daripada aku harus terus seperti orang bodoh yang menelpon tapi membaca chat. Rasanya mau meledak.

__ADS_1


__ADS_2