
Hingga pagi tiba, dari Subuh Mama sudah menelponku. Aku langsung mengangkatnya karena aku baru saja selesai sholat subuh.
"Halo Assalamualaikum Ma..." Jawabku dari telpon.
"Walaikumsalam... Semarang hujan gak Nak?" Tanya Mama pelan.
"Iyaa hujan ini sampai pagi juga masih rintik - rintik. Di rumah gimana Ma?"
"Banjir Nak, Ka Gaida juga kena banjir rumah buleknya."
Iya Ka Gaida sudah di Bekasi, padahal rencana awal dia akan tahun baru di Solo dan besoknya ke Pemalang. Mamanya berasal dari Solo sedangkan Papanya berasal dari PEmalang. Tapi makam kedua orang tuanya di Pemalang, biasanya memang Ka Gaida setahun sekali ke Pemalang untuk nyekar ke makam orang tuanya. Ka Gaida tidak jadi tahun baru di Solo karena dia takut sekali ketahuan oleh bosnya kalau dia bolos. Dia bilang dengan bosnya kalau dia izin sakit, sehingga tidak bisa masuk kerja. Karena bosnya seperti mau datang ke rumahnya akhirnya dia buru - buru pulang ke Bekasi, rumah buleknya.
"Kenapa dia gak ke rumah kita aja Ma? Bulek, omnya sama Ica kan gak di rumah. Pada balik ke Pemalang."
"Iyaa makanya, semalem dia juga udah chat - chat-an sama Mama. Kasihan, tadinya mau kesini. Tapi gak jadi karena hujan terus."
"Oalah kasihan... Tadi dia juga chat aku katanya sedih gak bisa tahun baruan di Solo dan ke Pemalang. Padahal ternyata bosnya gak kesitu."
"Tuhkan.."
"Iyaa aku udah bilang Ma kemarin mending gak usah balik, tapi dia takut bosnya dateng. Ternyata bener deh feeling aku bosnya cuma ngeledek aja itu."
"Ini kalo udah surut Mama suruh main ke rumah aja.. Bapak kan gak di rumah."
"Iya Ma kasihan dia sendirian itu di Bekasi."
"Yaudah deh, Mama telpon Ka Gaida dulu yaa Nak."
"Iyaa Ma..."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah menutup telpon Mama, Satria langsung menelponku.
"Halo.. Assalamualaikum." Jawabku dari telpon.
"Walaikumsalam, kok lama banget sih? Kamu lagi ngapain? Aku dari tadi telponin kamu." Balas Satria masih dari chat.
"Sabar dong Mas, tadi kan aku udah chat Mas pas Mas telponin aku. Sebentar aku bilang kan." Jawabku dengan lembut dan sabar.
__ADS_1
"Ya kenapa sebentarnya? Kamu kan libur, gak masuk. Kenapa sih? Lagi sibuk telpon yang lain ya?" Satria menuduh.
"Astaghfirullah Mas, kenapa deh kamu? Aku tuh tadi lagi telponan sama Mama. Aku gak bisa jelasin di chat karena hpku lemot Mas kalo telpon sambil ngetik. Kebiasaan banget kamu nuduh kayak gitu..." Jawabku kesal.
"Ya kan aku gak tau kamu lagi telpon Mama, kalo kamu ngomong di chat kan enak. Ini kamu cuma bilang sebentar."
"Tadi kan aku bilang kalo ngetik panjang lagi telpon hp aku lemot Mas. Ya Allah..."
"Yaudah yaudah kalo gitu.. Ngobrol apa sama Mama? Ngomongin aku ya?"
"Dih geer amat kamu.. Aku ngomongin Ka Gaida."
"Kenapa Gaida?"
"Mama cerita dia kan balik ke Bekasi yaa.. Padahal harusnya dia di Solo pas tahun baru, tapi malah balik ke Bekasi gara - gara bosnya."
"Iyaa itu dia juga cerita sama aku..Yaa mau gimana lagi, kalo tiba - tiba beneran dateng bosnya gimana?"
"Tapi aku udah feeling gak bakalan dateng. Eh bener kan gak dateng hahahah.."
"Iyasih, tapi yaudah mau gimana lagi hahahaha... Tapi kasihan juga dia sekarang sendirian di Bekasi."
"Nah itu tadi yang aku omongin sama Mama, tadinya mama tuh suruh dia ke rumah tahun baruan. Daripada sendirian di rumah bulek. Karena Mama juga sendirian di rumah, Bapak kan gak pulang karena praktek."
"Iyaa sayang hahaha tapi banjir di bekasi, jadi Mama pun juga gak bisa kemana - mana. Di rumah buleknya Ka Gaida uga banjir katanya."
"Iyaa katanya di Jakarta sama Bekasi banjir ya? Hujannya deras banget tahun baruan kemarin."
"Iyaa sayang.. Alhamdulillah Semarang aman ini. Hujan sih semalaman tapi gak sampai banjir."
"Alhamdulillah."
"Kamu gimana di Paris?"
"Enak, rame banget disini kalo tahun baru. Ini aku kebangun habis Tahajjud, terus aku telpon kamu aja. Karena aku tau Indonesia udah pagi ini. Mama Papa di kamar sebelah.... Aku sama Mama Papa nginep di hotel terus pesen kamar yang ada connecting roomnya."
"Iyaa pasti di luar negeri lebih rame gak sih sayang? Hahaha aku kira kamu bobo sama Mama dan Papa."
"Gak laah, aku udah gede gini masa masih tidur sama Mama Papa."
"Ya kan kali aja Sayang, Ka Gaida tuh udah gede masih tidur sama Mama Papanya dulu."
__ADS_1
"Ih iyaa tau tuh dia anak kesayangan Mama Papanya banget, kemana - mana sama Mama Papanya. Gak malu tapi dia.. Keren."
"Ya masa malu sih, aku mah juga gak bakal malu kemana - mana sama Mama dan Bapak Mas, apalagi aku juga anak tunggal. Ngapain malu hahaha.."
"Aku juga anak tunggal weee.."
"Ikut ikut."
"Dih, yang lahir duluan siapa?"
"Kamu sih ahahah.."
"Jadi siapa yang ngikut - ngikut?"
"Kamu.."
"Enak ajaa woo.. Sayang, aku masih ngantuk. Mau lanjut tidur... Temenin aku yaa.."
"Iyaa sayang.. Selamat bobo, aku sebentar lagi mau cari sarapan sama Ria dan Ka Livia yaa sayang."
"Tapi jangan di matiin yaa telponnya."
"Iyaa Sayang.. Selamat bobo."
"Love You."
"Lve you too Mas.."
Setelah itu HP terus menyala selama 5 jam, dan tiba - tiba telponnya mati dan yang pasti bukan aku yang memencet tombol mati. Mungkin Satria yang tidak sengaja memencet saat dia tidur atau mungkin HPnya low.
***
Dari siang aku dan Ka Gaida tersu berkomunikasi, entah membahas tahun baru ataupun membahas Satria yang sedang liburan ke Paris.
"Gaya banget si Satria sekarang di Paris. Biasa makan gudeg sama pecel, eh disana makannya pasta - pasta sama keju. Idih.."
"Hahahaha iya yaa? Mana mukanya dia jawa banget kan Ka.. Jadinya gak cocok."
"Parah hahaha iya lagi."
"Tapi katanya dingin banget disana, dia sampe gak kuat."
__ADS_1
"Norak banget."
Semakin hari aku semakin sering berkomunikasi dengan Ka Gaida. Dan rasanya aku semakin nyaman.