
Di kampus masih heboh dengan tampilanku yang berbeda, bahkan ada yang menertawakanku dan bahkan ada yang senang melihatku berhijab. Tapi jujur aku tidak peduli orang mau bilang apa soal tampilanki yanh baru, karena aku memakai hijab bukan ingin di puji atau di maki. Melainkan memang karena diriku sendiri. Ya mauku. Sudah niat.
"Ka, ini lo disuruh Bang Satria ya?" Tanya Ria.
"Gak lahhh, gue udah niat. Dan bukan gara - gara siapapun. Apalagi gara - gara pacar. Gak dong..." Jawabku tegas.
"Soalnya ya Ka, gue agak kaget aja lo berhijab gini." Jawab Ria.
"Ya gak cuma lo kok, nyokap gue aja kaget. Terus Ka Gaida... Ya Semua juga gak ada yang nyangka gue pake hijab kayak gini Ria. Yaudahhh masa buat kebaikan harus di pertanyakan terus sih? Gue juga mau berhijab ini bukan mau di pandang orang supaya keliatan baik kok. Hanya udah niat ajaa... Karena dalam agama gue sebenarnya perempuan itu di wajibkan menutup aurat. Terus gue mau sekarang, lo tau dulu dulu gue mah pake baju mini terus. Udah puas dan bosen aja rasanya."
"Eee Riri yaa sekarang sudah bisa berdakwah seperti ustadzah... Alhamdulillah..." Ledek Ka Rina.
Kami semua pun tertawa.
Setela kegiatan selesai, aku langsung pulang dan beristirahat. Dan kebetulan hari itu pulang lebih sore, rasanya lelah sekali. Sesampai di rumah Satria mengirimkan pesan untukku.
"Ri, Kamu lagi apa?" Tanya Satria di chat.
"Lagi istirahat Mas.. Tadi padat banget. Capek. Kamu?"
"Aku lagi tiduran aja ini. Capek juga tiduran terus... Oh iya aku mau nanya... Aku tuh suka nyanyiin kamu ya? Terus apa aja kegiatan kita selama chat-an?"
"Hmm iya Mas kamu tuh dulu suka banget nyanyiin lagu buat aku. Mana kamu niat banget lagi kalo cover tuh bener - bener rekaman. Jadi suaranya bening banget..."
"Hahaha iya ini aku tuh pas kamu lagi di kampus ya. Aku sibuk buka - buka chat kita. Dari awal kenal, deket. Sampai akhirnya pacaran.."
"Yah gitu deh, kita tuh bucin banget Mas."
"Ri. Aku boleh telpon kamu?"
"Ya boleh Mas."
__ADS_1
Kali ini berbeda, Satria menelponku dengan suara. Tapi... Bisik bisik. Aku juga kurang paham kenapa dia berbisik - bisik seperti itu. Tapi minimal ada kemajuan lah. Ada suara.
"Assalamualaikum." Salamku dan Satria serempak.
"Ih kok bareng sih...Hahaha.." Jawabku sembari tertawa.
Satria pun juga tertawa tapi dengan suara kecil.
"Yaudah ulang." Kata Satria.
"Oke. Aku dulu ya."
"Yaudah."
"Assalamualaikum." Sapaku.
"Walaikumsalam."
"Ada apa Mas mau telpon aku? Kok suara kamu bisik bisik gitu sih?" Tanyaku heran.
"Ohhhhh... Hahaha yaampun. Iyaa ini udah denger. Kamu udah makan belum Mas?"
"Udah tadi. Kamu?"
"Belum. Eh siang sih udah, malem belum. Nanti aja... Aku masih mau rebahan."
"Yaudah nanti makan tapi ya."
"Iya Mas pasti aku makan kok."
"Kemarin aku di chat sama salah satu temenku di belanda. Cuma aku kan gak inget ya... Katanya Sahabat aku yang disana namanya Robert lagi kena covid."
__ADS_1
Ya... Saat itu memang diluar negeri sudah pandemi. Covid-19, jadi semua banyak yang tertular. Dan penularannya yang sangat cepat karena melalui droplet.
"Oh ya? Waduh. Si Wina tau gak ya...."
"Wina?"
"Iya... Wina itu sepupu aku Mas. Nah Robert itu sahabat kamu disana. Terus kamu kenalin Wina sama dia. Dan mereka udah pacaran februari kemarin yang habis kalian kecelakaan."
"Kepala aku sakit." Jawab Satria seperti meringis kesakitan.
"Yaudah yaudah kamu istirahat dulu ya. Jangan ngomong dulu."
"Aku merem dulu ya sebentar. Aku matiin dulu telponnya ya."
"Iya Mas gapapa."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Aku pun juga tertidur karena sudah kelelahan. Dan aku tidak makan malam. Karena aku tertidur sampai pagi. Sampai keesokan paginya, Wina mengabariku.
"Ri. Robert Ri."
"Kenapa Win? Robert kenapa?" Balasku dengan cepat.
"Robert semalem kritis, gue baru dikasih tau sama Mamanya ini lewat chat line. Terus pagi ini Robert udah gak adaa...."
"Hah? Apasih Win. Jangan bercanda!"
"Gue lemes banget ini nangis terus."
__ADS_1
"Ya Allah Winn. Duh gue mau nanya sama Satria gak mungkin. Dia aja belum inget Robert."
Seketika tubuhku lemas saat mendengar kabar itu, apakah ini mimpi? Mustahil Robert meninggal. Padahal yang keadaannya lebih baik - baik saja adalah dia. Sedangkan Satria sudah sangat parah sekali. Aku merasa ini tidak nyata.