
Aku, Wina dan Ka Gaida keluar dari Bandara. Karena Satria juga sudah berangkat. Selama di perjalanan aku hanya diam dan meratapi isi chat Satria. Aku seperti sedih sekali saat berpisah dengannya lama dan jauh. Aku belum pernah merasakan LDR sebelumnya dan kali ini aku merasakan jatuh cinta yang sejatuh jatuhnya pada Satria.
"Ri.. Udah... Jangan nangis terus.. 2 tahun gak berasa kok.." Kata Wina sembari menenangkanku.
"Gue sedih banget Win, masa sampe gini aja gak dipertemukan sih... Apa emang gue sama Satria ini gak jodoh ya?" Jawabku pelan dan masih meneteskan air mata.
"Jangan ngomong gitu Ri... Yaa mungkin emang gak dipertemukan aja tadi." Sahut Ka Gaida pelan.
"Iyaa Ri.. Tadi juga rame banget kan soalnya Ri.. Terus si Satria pasti kebingungan juga nyari lo dan gak ada signal juga.." Jawab Wina.
"Udah kita makan aja dulu deh yuk.." Ajak Ka Gaida.
"Iya deh Ka. Mending kita makan dulu... Laper juga gue.." Sahut Wina.
"Iyaa gue juga nih udah laper..." Jawab Ka Gaida.
Akhirnya kami melipir ke mall untuk makan malam.
"Yaelah ke mall sini nih Ri.. Inget siapa nih Ri?" Ledek Wina.
"Siapaa? Adi?" Kata ku kesal.
"Hahahaha.. Yah di sebut lagi si bencong." Ledek Wina.
"Siapa Adi?" Tanya Ka Gaida penasaran.
"Adi tuh mantannya Riri Ka yang dulu sebelum sama Satria... Katanya sih dia yang bangun ini Mall.." Sahut Wina.
"Yaa emang dia insinyurnya.. Udah ah ngapain sih bahas dia." Jawabku kesal.
__ADS_1
"Ohhh.. Iya? Hahaha yaah inget dong." Kata Ka Gaida.
"Gak..." Jawabku agak ketus.
Ka Gaida dan Wina pun tertawa dan terus meledekku saat itu, mungkin untuk menghiburku juga yang sedang sedih.
Setelah makan, aku, Wina dan Ka Gaida pun pulang. Aku sudah mulai tidak terlalu sedih saat itu karena sudah di hibur Wina dan Ka Gaida. Aku berharap komunikasiku dengan Satria lancar walaupun hubungan kami beda waktu.
***
Kurang lebih 16 jam penerbangan Satria ke Belanda bersama Mama dan Papanya, sesampai di Belanda Satria langsung menghubungiku.
"Aku udah sampai yaa sayang."
"Alhamdulillah." Balasku singkat.
"Kamu dimana?"
"Oh aku kira udah balik ke kampus. Disini Alhamdulillah lagi musim semi nih..."
"Iyaa... Semoga lancar yaa sekolahnya disana Mas."
"Amiiin.. Kamu jangan lupa makan yaa... Disini masih subuh. Aku mau istirahat dulu yaa sayang.."
"Iya Mas. Selamat istirahat.."
Jujur saat itu aku agak dingin dengan Satria karena aku agak kesal karena kejadian semalam. Kita benar - benar tidak bisa bertemu sama sekali. Bahkan aku menangis semalaman sembari mendengarkan lagu cover yang dia nyanyikan untukku.
Setelah kegiatan Puskesmas selesai, aku langsung kembali ke kampus dan kuliah lagi di kelas.
__ADS_1
"Ka.. Gimana kemarin?" Tanya Ria yang tiba - tiba datang menghampiriku.
"Gak gimana - gimana." Jawabku singkat.
"Lah. Kan kemarin Ka Satria berangkat ke Belanda. Gimana???"
"Yaa gue gak ketemu sama Satria. Udah ah gue males ceritanya." Jawabku kesal.
"Loh kok bisa Ka?" Sahut Cita.
Cita itu adalah salah satu juniorku juga yang dekat denganku.
"Yaa kita tuh gak ketemu aja gitu kemarin Cit. Udah ah gak usah di tanya - tanya yaa please. Gue sebel kalo ditanyainnnn."
Semua menanyakanku bagaimana kemarin bagaimana kemarin, membuatku kesal saja. Penuh drama jika aku harus menceritakannya ke mereka.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Satria saat aku sedang menunggu dosen datang,
"Aku lagi nunggu dosenku. Kamu udah bangun?" Balasku cepat.
"Iyaa aku kebangun gara - gara habis mimpiin kamu.. Aku kangen sama kamu."
Kata - kata Satria selalu membuatku luluh, seorang laki - laki biasanya akan gengsi mengutarakan kata - kata kangen atau rindu seperti itu. Tapi tidak dengan Satria. Bahkan dia selalu romantis, mengirimkan lagu, kata - kata dan terkadang dia akan mengirimkan makanan kesukaanku ke rumah.
"Aku boleh telpon kamu gak?"
"Emang speaker kamu udah bener?"
"Belum.. aku mau denger suara kamu. Nanti aku benerin speaker aku.. Aku mau telpon kamu dulu."
__ADS_1
"Yaudah sebentar aja yaa.. Nanti taktutnya dokternya dateng."
Lalu Satria pun langsung menelponku dan ya tanpa aku bisa mendengar suaranya, ku bicara tapi dia membalas bicaraku lewat chat. Aku sudah seperti orang tidak waras. Gila karena cinta. Bahkan aku menerima itu. Hubungan komunikasi Aku dan Satria sering seperti ini dan aku hanya diam dan mengalah karena dia selalu bilang tidak sempat membetulkan speakernya yang rusak. Terkadang aku terus menyalakan telpon dari Satria selama berjam - jam. Bahkan belasan jam. Jadi dia bisa mendengarkan kegiatanku disini tanpa aku tau kegiatannya di Belanda. Tapi aku selalu percaya karena Satria selalu jujur. Yaa aku selalu percaya omongan Satria. Tidak pernah curiga sedikitpun.