Penipu Cinta

Penipu Cinta
Bab 47. Hancur


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu Satria kritis, tapi tidak untuk Robert. Dari awal dia tidak koma sama sekali, hanya bermasalah di kaki saja. Kecuali Satria, dia benar - benar kena kepala dan kaki. Padahal aku sudah mulai sibuk masuk koas lagi, padahal aku harusnya fokus belajar tapi juur saja fokusku hilang dengan tau keadaan Satria yang seperti ini. Apalagi Satria belum memberikan respon sama sekali cerita dari Mamanya.


"Ri, Satria gimana? Tanya Ka Rina penasaran.


"Masih belumm sadar Ka.. Mamanya dari tadi chat aku aja ini lewat WA." 


"Yaudah lo harus da terus buat kesembuhan Satria yaa.. L uga haarus fokus tapi. Lo tau kan kita farmasi ini banyak hafalan dan susah." "Iyaa Ka.."


Ka Rina yang selalu khawatir dengan keadaanku saat Satria sedang keadaan seperti ini. Bahkan dia yang selalu mensupportku agar au tidak stress. 


"Ka.. HP lo bunyi tuh.." Kata Ria saat aku sedang duduk melamun. 


Aku pun segera mengambil ponselku dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata Satria yang menelponku, dan saat aku angkat tidak ada suaranya. Tapi membalas di chat.

__ADS_1


"Ini Mama... Mama mau Riri jadi semangat buat Satria, supaya ada pergerakan. Jadi Mama telpon RIri dari HP Satria. Gapapa kan?" 


Aku pun merasa lega karena Mama Ayu yang menelpnku, walaupun sama anehnya tidak ada suara sama sekali dan membalas lewat chat.


"Iya Ma... Aku seneng kalo bisa kasih spirit ke Mas Satria." Jawabku di telpon.


"Ini speaker HP Satria gak bisa ada suara, mungkin karena kemarin jatuh dari kecelakaan. Jadi Mama balas di chat yaa Nak." 


"Iyaa gapapa Ma.." 


"Ri.. Doain Satria yaa.." Kata Mama Ayu di chat. 


"Pasti Ma.. Aku pasti doain Mas.. Ma.. Ini dokterku udah dateng. Aku tutup dulu telponnya yaa.. Nanti kalo ada waktu kosong aku kasih tau yaa Maa.. Siapa tau bisa telpon aku." 

__ADS_1


"Yaudah semangat ya Nak.." 


"Iyaa Ma.. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." 


***


Hari - hariku tanpa Mas Satria saat itu, rasanya hancur. Hancur sekali, lebih banyak diam dan menangis diam - diam. Aku tidak mau menunjukkan di depan banyak orang jika aku menangis. Aku tidak mau orang juga ikut menangis jika melihatku, apalagi teruntuk kedua orang tuaku. Aku selalu berusaha tegar di depan mereka. Walaupun jadi terlihat tidak sedih sama sekali terkesannya, tapi aku lebih baik seperti itu. Daripada melihat Bapak dan Mama sedih melihatku menangis. Untungnya selalu ada keluarga, teman dan Ka Gaida yang mendukungku dan menghiburku supaya aku tidak terlalu memikirkan keadaan Satria yang tak kunjung sadar hampir satu bulan lamanya. 


Mungkin kalau dikatakan aku sudah hampir gila saat itu ya, memang aku sudah di tingkat depresi. Tapi aku berusaha kuat karena aku percaya Allah tidak akan memberikan cobaan melewati batas.


"Riri.. Lo harus kuat yaa.." Itu kata - kata beberapa teman - temanku saat aku sedang dalam keadaan hancur. 

__ADS_1


Bahkan aku juga harus mendukung sepupuku Wina, karena mental dia lebih lemah dibandingkan aku. Bahkan dia hampir setiap hari menangisi Robert yang belum sembuh, tapi untungnya dia jadi komunikasi dengan Mamanya Robert. Tapi dia masih tetap menangis setiap hari.


__ADS_2