PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Menuturkan Niat


__ADS_3

Sona tersenyum malu.


"Kau sudah tahu bagaimana aku, Sona. Enam bulan terakhir pasti aku ini sangat menyebalkan di matamu." Jun pun mengajak Sona ke lantai dua rumahnya.


Sona hanya menunduk malu. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia hanya dapat menikmati perjalanan hidup yang dipenuhi lika-liku kehidupan. Kadang suka, kadang duka. Dan tampaknya Jun pun mengerti mengapa Sona bersikap malu padanya. Selama ini Jun selalu tidak memedulikannya.


"Baiklah. Beristirahatlah terlebih dahulu. Besok kita bicara lagi."


Jun pun meminta Sona untuk segera beristirahat. Tentunya di kamar yang dulu Sona tempati. Sona pun mengangguk, keduanya lalu berpisah. Mereka kemudian masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dari lelahnya kehidupan. Jun dan Sona kembali tinggal dalam satu atap yang sama.


Esok harinya...

__ADS_1


Hari ini bisa dibilang hari yang baru bagi Jun dan Sona. Bagaimana tidak, keduanya kini bak sepasang suami istri yang berlaku mesra. Membuat sarapan pagi bersama lalu duduk di di depan meja makan yang sama. Seperti tidak ada lagi kesenjangan sosial di antara mereka. Jun yang meminta sendiri kepada Sona untuk bersikap biasa saja.


"Hari ini aku akan menemanimu ke salon," tutur Jun seraya menunggu Sona menghidangkan nasi goreng untuknya.


"Ke salon? Untuk apa?" Sona pun tampak terheran dengan perkataan Jun.


Jun tersenyum. Senyum manis yang hampir tak bisa dipercaya akan didapatkan oleh Sona hari ini. Bagaimana paras tampan Jun memenuhi kedua bola mata hitamnya. Seolah tidak ada yang lain lagi di bumi ini. Namun, Sona masih menyimpannya di hati.


Sona terdiam. Ia mencoba menerima setiap perkataan Jun. Pikiran buruk yang datang tentang maksud dari perkataan itu pun ia coba tepiskan. Sona berusaha berprasangka baik terhadap Jun. Seorang pria yang dahulu bersikap dingin padanya.


"Tapi aku tidak mempunyai uang untuk membayar salon." Sona pun dengan polos mengatakannya.

__ADS_1


Jun tertawa mendengar perkataan itu. Sona pun segera menyajikan nasi goreng untuknya. Ia masih menunggu Jun bicara kembali. Jun pun mengambil napas dalam agar bisa menjelaskannya kepada Sona dengan baik.


Jun menatap Sona. "Sona, mulai sekarang bersikaplah seperti pasanganku. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukan ini dan itu di rumah ini. Dan juga semua keperluanmu, aku yang akan menanggungnya," kata Jun yang membuat Sona terbelalak seketika.


"Tap-tapi, Tuan—"


"Satu lagi." Jun menyela. "Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Panggil saja Jun. Usia kita juga tidak berbeda jauh. Mulai sekarang aku bukan bosmu." Jun menegaskan.


Saat itu juga senyum Sona mengembang di wajahnya. Ia merasa senang dengan sikap Jun yang sekarang. Ia juga bahagia karena akhirnya penantiannya itu terbalaskan.


Aku tidak bisa membohongi hatiku jika aku menyukainya. Tapi aku hanyalah pembantu rumah tangga. Tidak mungkin menggapai bintang di langit dengan mudah. Aku hanya gadis desa. Jika dia tidak pernah memulainya, maka akan terus kupendam perasaan ini. Karena aku tidak mempunyai pilihan lagi.

__ADS_1


Sejujurnya Sona menyimpan rasa kepada Jun selama enam bulan terakhir ini. Siapa gadis yang tidak tertarik pada Jun? Pastinya mustahil sekali. Apalagi Jun merupakan orang kaya di ibu kota. Pastinya semua kebutuhan akan terpenuhi jika bersamanya. Sekalipun Jun belum bekerja.


__ADS_2