
Sekalipun tidak melakukan hubungan intim, tetapi tetap saja sentuhan dan kecupan itu membuat keduanya melayang ke angkasa. Hingga akhirnya Jun dan Sona merasa lelah. Dan mereka pun tertidur bersama.
Sayang, jangan pernah khianati aku.
Lantas Jun lekas-lekas menyikat gigi lalu menghidupkan shower airnya. Pagi ini ia harus berangkat ke kantor untuk menyelesaikan urusannya. Sedang Sona ia tinggalkan di atas kasurnya. Jun pun lekas bergegas ke kantornya. Bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pasangannya.
Dua jam kemudian...
Sona terbangun dari tidurnya dan melihat Jun sudah tidak ada. Ia pun lekas mengambil ponsel lalu melihat pesan dari Jun. Sona pun tersenyum membacanya. Prianya itu ternyata begitu romantis kepadanya. Ucapan sayang pun tak segan diungkapkannya. Lantas Sona segera beranjak dari tidurnya.
Hari ini Sona akan kembali ke kampus setelah satu bulan tidak masuk. Hal itu dimaksudkan agar apa yang terjadi sebelumnya bisa terlupakan. Sona meminta izin kepada dosen untuk cuti selama sebulan. Dan dosennya pun mengabulkan. Tentunya dengan sama-sama saling melupakan apa yang pernah terjadi waktu itu. Sona tidak ingin membahasnya.
__ADS_1
Kini Sona pun sedang bersiap-siap menuju kampusnya. Ia lekas mandi lalu berdandan rapi. Sona akan pergi dengan menaiki taksi. Tentunya dengan tanpa lupa membawa tas dan ponselnya yang baru. Berharap hari ini menjadi hari yang terbaik baginya. Tidak lagi mengungkit masa lalu.
Sesampainya di kampus...
Angin segar menyambut kedatangan Sona di kampusnya. Cuaca cerah dengan sinar mentari menghangatkan tubuhnya. Ia pun turun dari taksi lalu segera masuk ke kampus. Sona berjalan sendiri untuk menemui dosennya terlebih dahulu. Namun, sebelum sampai di ruangan, Sona bertemu dengan Lina di dekat pintu rektorat. Sontak Lina pun segera mengejar Sona.
"Sona!"
Lina berlari mengejar Sona. Sona pun memberhentikan langkah kakinya. Ia menoleh ke sumber suara dan ternyata melihat Lina yang berjalan cepat ke arahnya. Sona pun menunggunya.
"Lina, apa kabarmu?" tanya Sona kepada Lina. Keduanya berdiri di dekat pintu rektorat kampus.
__ADS_1
Lina mengusap kepalanya. "Sona, kau membuatku khawatir saja. Kau menghilang tanpa kabar dan meninggalkan tas beserta ponselmu di dalam kelas. Kami panik, Sona." Lina pun tergopoh-gopoh menceritakannya.
Sona merasa harus mengetahui hal yang terjadi di kampus saat itu. "Lina, kita bicara di taman saja, ya." Sona pun mengajak Lina bicara di taman kampus mereka.
Entah mengapa Sona merasa percakapan ini harus diteruskan sampai tahu efek apa yang ditimbulkan. Hatinya pun harap-harap cemas terhadap apa yang akan Lina ceritakan. Tapi Sona tidak ingin sampai kepikiran. Hingga akhirnya keduanya sampai di taman kampus. Keduanya pun duduk di atas kursi panjang yang ada di sana.
"Coba ceritakan pelan-pelan padaku apa yang terjadi saat itu?" Sona pun meminta.
Lina mengangguk. Ia kemudian menceritakan semuanya. "Sona, ponsel dan tasmu tertinggal di kelas dan aku yang merawatnya. Ponsel dan tasmu itu sekarang berada di rumahku." Lina menuturkan.
Sona mengangguk.
__ADS_1
"Kau tahu, aku segera melapor ke pihak kesiswaan atas hilangnya dirimu," tutur Lina kembali.
Saat itu juga jantung Sona berdegup kencang. "Lalu?" Ia merasa khawatir pihak kesiswaan akan memberitahukannya kepada Jun. Sona pun merasa cemas dengan apa yang didengarnya.