PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Menutupi


__ADS_3

Pukul sembilan malam waktu sekitarnya...


Jun akhirnya bisa membawa Sona pulang kembali. Setelah berbincang sebentar dengan Haruka dan suaminya, membuat Jun semakin bertanya-tanya mengapa Sona bisa sampai ada di rumah itu. Namun, Jun hanya mendengarkan cerita Haruka saja. Barulah saat di perjalanan ia mulai menanyakannya kepada Sona.


Sona sendiri masih tampak menutupi apa yang terjadi. Ia tidak ingin membuat Jun khawatir apalagi sampai berkelahi dengan Tito. Sona begitu menjaga pertemanan mereka walau nyatanya ia hampir menjadi korban hasrat terlarang Tito. Tak lain tak bukan agar membuat Jun tenang. Sona tidak ingin Jun khawatir padanya.


"Sebenarnya aku masih belum percaya dengan alasanmu mengapa bisa sampai di rumah itu. Tapi aku tidak ingin memaksamu untuk berkata jujur padaku."


Pada akhirnya Jun pun mengakhiri pembicaraan tentang mengapa Sona bisa berada di rumah Haruka. Walau nyatanya ia masih menyimpan seribu tanda tanya ke Sona. Namun, Sona tetap belum mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kita mampir sebentar ke restoran terdekat dari sini ya. Aku lapar. Di rumah tidak ada yang memasaknya." Kembali Jun pun seolah memberi kode agar Sona mengatakan apa yang terjadi. Tapi Sona tetap diam saja tanpa mengatakan yang sebenarnya.


Maafkan aku, Jun. Aku khawatir kau marah dan berkelahi dengannya. Lagipula tidak terjadi apa-apa denganku. Jadi aku tidak ingin mempermasalahkannya.


Pola pikir Sona masih terlalu polos untuk menerima hal-hal yang tidak biasa. Ia pun bersikukuh untuk tidak bercerita. Sampai akhirnya mereka tiba di restoran yang ada di perbatasan ibu kota. Jun pun mengajak Sona untuk makan ke dalamnya. Mereka akhirnya makan malam di sana.


Sepuluh menit kemudian...


Sona dan Jun menyantap hidangan laut bersama. Tampak Sona yang mulai menunjukkan kemesraannya pada Jun. Jun pun tersenyum kala bibirnya diseka menggunakan tisu oleh Sona. Jun pun tersenyum kepada gadisnya.

__ADS_1


"Rasanya aku ingin menambah lagi. Apakah aku sangat lapar?"


Jun pun bertanya-tanya sendiri. Pria berkaus hijau lumut itu tampak menikmati makan malam di bawah sinar lampu restoran. Sona pun mencoba mencicipi saus tiram kepunyaan Jun. Ia tidak malu-malu lagi.


"Ini terlalu pedas, Jun." Sona pun segera meneguk air minumnya.


"Benar, kah?" Jun pun mengambil udang rebus lalu dicelupkan ke saus tiram tersebut. Dia lalu mencicipinya sendiri.


"Bagaimana?" Sona pun menanyakannya kepada Jun.


Jun tampak meresapi makanannya. "Sedikit pedas. Mungkin karena terlalu banyak jahenya." Jun mengira. Saat itu juga Sona tertawa.


Jun tampak berpikir. "Em, aku sering memerhatikanmu saat memasak di rumahku. Dan aku sering melihat benda itu." Jun mengingat seruas jahe yang pernah digeprak oleh Sona di dapur lalu dimasukkan ke dalam sop yang dibuatnya.


"Hahahaha." Sona pun tertawa sambil menutup mulutnya. Ia tak menyangka jika Jun memerhatikannya.


"Sona."


"Hm?"

__ADS_1


"Lusa ikut aku makan malam ya?" pinta Jun.


"Makan malam?" Sona pun menyuap mulutnya lagi dengan udang yang sudah dibaluri saus tiram.


"He-em." Jun mengangguk. "Aku ingin membicarakan pernikahan kita dengan ibu dan ayah." Jun berterus terang.


"Ap-apa?! Uhuk! Uhuk!"


Saat mendengarnya, saat itu juga Sona tersedak makanannya sendiri. Ia tak percaya jika Jun akan mengatakannya. Sona tak menyangka jika Jun akan segera menikahinya. Rasanya ia seperti ingin pingsan saja.


.........


...Sona...



...Jun...


__ADS_1


__ADS_2