PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Koma


__ADS_3

Namun, Sona terus mengejar Jun. Yang mana tanpa sengaja kakinya terpleset salah satu anak tangga itu. Lalu kemudian...


"Jun!!!"


Sona pun terjatuh. Ia kehilangan keseimbangannya. Sona berguling-guling di atas anak tangga itu. Sontak Jun pun segera menyadari apa yang terjadi. Ia menoleh ke belakang dan melihat Sona yang terguling. Jun pun segera mengejarnya.


"Sona!!!"


Pada akhirnya Jun menemui Sona dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kepala Sona berdarah karena jatuh dari anak tangga. Jun pun segera memeluk Sona dan berusaha menyadarkannya. Tapi Sona sudah tidak sadar lagi. Jun pun berteriak histeris kala melihat darah itu melumuri tangannya.


Malam harinya...


Cairan infus dan selang udara itu masih terhubung dengan seorang gadis yang terbalut perban di kepalanya. Di sampingnya ada seorang pria yang sedang menunggunya tersadar. Tapi gadis itu belum juga tersadar. Ia masih dalam keadaan koma.

__ADS_1


Ya, Sona koma pasca jatuh dari anak tangga di kediaman Jun yang besar. Sona kehilangan keseimbangan saat ingin melangkahkan kakinya untuk mengejar Jun. Pegangan pada sisi anak tangga itupun seolah tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Hingga akhirnya insiden itu terjadi dan membuat Sona harus menanggung semuanya. Jun pun merasa bersalah.


"Apa yang kau dengar itu tidak benar. Akulah yang menjadi korban. Tito hampir saja memperkosaku!"


Teringat kembali apa yang Sona ucapkan saat berusaha untuk menjelaskan semuanya. Jun pun menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang sedang bergemuruh. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Ia seorang diri di sana, di rumah sakit menemani Sona yang koma. Ia merasa bersalah, tapi juga tidak ingin semakin memperburuk suasana.


Jun adalah tipikal pria yang perasa. Ia cemburu manakala mendengar cerita tentang Sona yang pergi ke motel bersama Tito. Ia begitu geram dan ingin sekali melampiaskan amarahnya. Bak ada peperangan di hatinya. Jun tidak bisa terima kala mengetahui Sona dan Tito pergi ke sana. Hatinya pecah dan tak berbentuk lagi.


Tadi saat jam makan siang...


"Dosen Lang, Anda kemari?" Jun pun yang saat itu sedang ingin makan siang bertemu dengan sang dosen.


Dosen Lang adalah dosen fakultas teknik yang merangkap koperasi di universitas Sona. Tentu saja pertemuan mereka itu menjadi awal mula Jun marah. Bagaimana ia mengetahui kabar tentang Sona yang sebenarnya.

__ADS_1


"Apakah Sona sudah pulang ke rumah? Aku belum sempat menanyakan kabarnya," tutur dosen itu.


"Maksud Dosen?" Jun pun bingung.


Dosen itu tampak terheran sendiri. "Em, apakah tidak ada yang melaporkan kepada Anda insiden hilangnya Sona waktu itu?" tanya Dosen Lang lagi.


"Insiden? Hilangnya Sona?" Jun pun terkejut seketika.


Dosen itu mengangguk. "Benar. Waktu festival musik diadakan di kampus, teman Sona mengabarkan kepada pihak kesiswaan jika dia hilang. Lalu para anggota BEM pun segera mencarinya. Setelah itu aku tidak tahu lagi." Sang dosen menjelaskan.


Astaga! Jadi?!


Saat itu juga Jun jadi bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Dosen Lang, bisa berikan padaku nomor ketua BEM Anda? Aku ingin menanyakan hal ini lebih lanjut," pinta Jun kemudian.

__ADS_1


"Oh, tentu."


Sang dosen pun memberikannya. Pada akhirnya jam makan siang itu tidak Jun gunakan untuk bersantap, melainkan meminta kepastian atas kabar hilangnya Sona.


__ADS_2