PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Tangis Duka


__ADS_3

Kenapa Sona tidak memberi tahuku setelahnya?


Sampai akhirnya Jun bercakap-cakap lewat telepon dengan salah satu anggota BEM yang dikirimi foto Sona. Sontak Jun marah besar. Ditambah lagi dengan penjelasan anggota BEM itu yang mengatakan jika Sona masuk ke motel bersama Tito. Meluap-luaplah amarah di hati Jun.


"Katanya sih pulang ke rumahnya yang di desa, Kak. Tapi katanya juga ke motel. Aku kurang tahu pastinya. Kakak temui saja temanku yang ada di mobil itu. Ini nomornya."


Begitulah yang dikatakan oleh salah satu anggota BEM yang menerima kabar Sona pulang mendadak ke desa. Jun pun jadi geram karenanya. Ia jadi mengait-ngaitkan hal yang terjadi di rumah Haruka waktu itu. Jun merasa telah dibohongi oleh Sona.


.........


Sona, maafkan aku ....


Pada akhirnya kata maaf itu terucap di hatinya. Jun menyesali apa yang terjadi. Ia kemudian memegang tangan Sona yang terbujur lemas di atas kasur rumah sakit. Jun harus mengetahui yang sebenarnya dan tidak hanya mendengar dari salah satu pihak.

__ADS_1


Lantas Jun pun segera menarikkan selimut untuk Sona. Ia membiarkan Sona beristirahat dalam alam bawah sadarnya. Sedangkan ia segera keluar dari ruangan lalu menelepon seseorang.


"Kai, Vio. Aku butuh bantuan kalian."


Jun akhirnya menelepon teman masa kecilnya untuk membantunya dalam memecahkan masalah ini. Jun ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Esok harinya...


Jun mau tak mau memberi kabar sedih ini kepada keluarga Sona di desa. Karena ialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas keselamatan Sona. Tapi kini Jun tidak bisa menjaga amanah. Ia terbelenggu emosi sehingga tidak lagi bisa memakai akal sehatnya. Dan sesuatu itupun terjadi pada Sona.


"Kakak!"


"Kak Sona!"

__ADS_1


Begitu sampai di ruangan, kedua adik Sona pun segera menghambur ke kakaknya yang sedang terbujur lemah tak berdaya. Mereka menangis terisak di sisi pembaringannya. Jun yang baru saja keluar dari kamar mandi pun tampak terkejut dengan kedatangan kedua adik Sona pagi ini. Mentari belum saja terbit, tapi mereka sudah datang. Begitu juga dengan ibu Sona yang menyusul kedua anaknya.


"Jun."


Ibu dari Sona itu masuk ke ruangan dan melihat Jun yang terdiam di tempatnya. Pada akhirnya Jun harus berterus terang tentang apa yang terjadi pada Sona. Ia pun mengajak ibu Sona keluar dari ruangan dan membiarkan Yana dan Mina di dalam menemani kakaknya. Jun pun segera mengutarakan apa yang terjadi sesungguhnya.


"Maaf, Bibi."


Kata-kata itulah yang Jun ucapkan saat berada di kursi luar ruangan. Keduanya duduk dengan raut wajah sedih yang tidak bisa ditutupi. Ibu Sona pun tampak berusaha sekeras mungkin untuk menerima kenyataan tentang putrinya. Tapi hati seorang ibu itu tidak bisa dipungkiri. Ia sedih yang menjadi-jadi karena keadaan anaknya yang sedang koma.


"Maaf. Aku tidak bisa menjaga amanah, Bibi." Jun pun meminta maaf kembali.


Rumah sakit tampak sepi pagi ini. Belum banyak pengunjung yang datang untuk menjenguk. Sehingga suasana terasa hening sekali. Sampai-sampai sesak di dada karena menahan isak tangis itu terdengar. Ibu Sona menahan kesedihan akan keadaan anaknya. Sedang Jun tampak tak berdaya untuk melanjutkan ucapannya. Ia merasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2