
"Ya, benar. Kami juga sudah menanyakan Angel mengapa Tito bisa menyukai Sona. Dan ternyata alasannya karena Sona mirip dengan mendiang pacarnya." Kai menjelaskan.
Jun terdiam. Ia memikirkannya sejenak.
"Aku rasa kita harus segera meminta klarifikasi dari Tito sendiri. Kita harus menghampirinya agar dia tidak lagi mengulang kesalahannya." Vio berpendapat.
"Kau benar. Aku setuju. Kami sebelumnya juga ingin meminta maaf kepadamu Jun karena telah mengajak Tito ke rumahmu waktu itu. Maafkan kami." Kai menimpali.
Jun mengangguk. Ia tampak berlapang dada menerima jalan takdirnya. "Kalau begitu kapan kita akan menemuinya?" tanya Jun lagi.
"Tito mengambil kuliah malam hari ini. Mungkin kita bisa ke sana segera. Apa kita ke sana sekarang?" tanya Vio kepada Jun.
Jun mengangguk. "Baik. Aku bereskan pekerjaanku dulu. Tunggu aku." Jun pun lekas-lekas membereskan pekerjaannya.
__ADS_1
Saat ini jam di dinding ruangan menunjukkan pukul empat sore. Ketiganya pun setuju untuk menemui Tito di kampusnya. Yang mana Tito mengambil kuliah malam hari ini. Jun pun segera bersiap-siap sebelum berangkat ke sana. Ia memebereskan pekerjaannya terlebih dulu sore ini. Jun akan menemui Tito segera. Tak lain tak bukan untuk meminta klarifikasi atas Sona. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Di kampus Tito...
Pukul setengah enam sore menjadi saksi kedatangan Jun dan kedua temannya di kampus Tito. Jun pun menunggu Tito datang dengan mengobrol-ngobrol sebentar di kantin kampus yang dekat dengan parkiran. Tak lama yang ditunggu pun datang. Jun pun segera menghampiri Tito sebelum masuk ke kelasnya.
"Tito!"
Jun berjalan cepat ke arah Tito bersama Kai dan Vio. Tentu saja kedatangannya itu membuat Tito terkejut. Terlebih kedua temannya juga ikut datang. Jun pun segera mengutarakan tujuannya datang ke kampus ini.
Tito memasang raut wajah tak percayanya saat mendengar kalimat itu. "Ada apa dengan Sona? Kenapa kau ingin menanyakannya padaku?" tanya Tito balik.
"Kau ingin tahu? Baiklah."
__ADS_1
Jun pun segera meninju Tito di tempat. Sontak saja Tito yang tidak punya persiapan itu tidak bisa menghindari tinjuan Jun yang cepat. Tito pun terjatuh. Sedang wajah Jun sudah memerah. Jun marah kepada Tito.
"Kuperingatkan padamu untuk tidak menganggu Sona lagi! Aku bisa saja melaporkan hal ini ke polisi. Tapi aku masih menghargaimu sebagai temanku. Maka jangan sia-siakan kesempatan dariku!" Jun meluapkan kekesalannya.
Tito pun mengusap darah yang sedikit keluar dari sudut bibirnya. Ia kemudian beranjak berdiri. "Jadi kau sudah mengetahui semuanya?" Tito menanyakannya.
"Tito, kau membuat kami malu. Mengapa kau melakukan hal ini kepada Sona?" Vio menanyakannya kepada Tito.
Tito melihat ke arah Vio. "Sona cantik. Dia juga masih sendiri. Apa salah jika aku menyukainya?" Tito terpancing untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kau keterlaluan!" Jun pun ingin meninju Tito lagi.
"Jun!" Sontak Kai dan Vino menahannya agar tidak menimbulkan keributan.
__ADS_1
Tito tersenyum tipis. "Jangan salahkan aku. Aku hanya seorang lelaki. Tapi salahkan wanitanya karena memberi harapan padaku. Dan kau, Jun. Silakan laporkan aku ke polisi. Aku tidak takut. Tidak ada bukti otentik yang dapat menguatkan. Jadi berpikirlah sebelum bertindak."
Tito pun tampak tidak ingin banyak bicara. Ia segera masuk ke dalam kelasnya. Saat itu juga Jun semakin marah menjadi-jadi.