
Lantas Sona pun tidak jadi menghubungi Jun. Ia kemudian menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Ia segera mencuci pakaian untuk mengalihkan pikirannya dari rasa khawatir. Sona khawatir Tito mengejarnya sampai ke rumah. Ia lupa atas jasa Tito kepada keluarganya. Karena yang Sona tahu Jun sudah mengikatnya.
"Baiklah. Aku isi kegiatanku saja sambil menunggu Jun pulang." Ia nikmati kesendirian di rumah sebesar itu sambil mengisi waktu dengan belajar dan merapikan rumah.
Esok harinya...
Sona datang ke kampus dengan diantarkan oleh Jun. Seperti biasa ia tidak bisa bertemu lama dengan Jun. Keduanya mulai disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Tampak mobil Jun yang baru saja tiba di depan gerbang kampus Sona.
"Jun, terima kasih." Sona pun berucap terima kasih padanya.
"Hanya sekedar terima kasih?" Jun pun mencandai Sona.
Sona tersipu malu sendiri. "Em, aku malu." Sona menjawab jujur.
__ADS_1
Jun tersenyum. "Baiklah. Lekaslah masuk ke dalam kelas." Jun pun mengusap kepala Sona.
Sona mengangguk. "Sampai nanti." Sona segera berpamitan.
"Sampai nanti." Jun pun melepas kepergian Sona. Sedang Sona melihat Jun sebelum berangkat bekerja.
"Hati-hati di jalan." Sona pun melambaikan tangannya.
Jun mengangkat tangannya. Ia lalu meminta Sona masuk terlebih dahulu ke kampusnya. Sona pun mengangguk. Ia kemudian berjalan masuk ke kampusnya. Tapi, ia berbalik lagi untuk melihat Jun di sana. Jun pun masih menunggu Sona masuk ke kampusnya. Pada akhirnya ia segera melajukan mobilnya ke kantor setelah memastikan Sona bertemu teman-temannya.
Tanpa Jun sadari, ternyata Tito melihat keduanya dari belakang. Tito memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang kampus. Tepat beberapa meter dari mobil Jun. Dan ya, hati Tito pun kesal bukan main. Ia merasa Sona seperti membuangnya.
"Ini benar-benar keterlaluan!" Tito pun kesal mengetahuinya. "Sona, kau harus membayar semua utangmu dulu. Kau berutang banyak padaku. Apakah kau mampu membayarnya? Utang keluargamu dan juga biaya rumah sakitmu!" Tito merasa geram.
__ADS_1
Pada akhirnya Tito tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kesempatan untuk bertemu Sona. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju kantor sang ayah. Tito akan bekerja hari ini lalu pergi ke kampusnya. Tetapi dengan keadaan hati yang terluka. Tak lain tak bukan karena Sona seorang.
Pukul dua belas siang di kampus Sona...
Sona keluar dari kelas. Saat itu juga seseorang sudah menunggunya. Seseorang yang beberapa hari ini berusaha ia hindari.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya seseorang berkemeja hitam itu.
Sona pun sontak berhenti melangkahkan kaki. Ia tahu benar suara siapa itu. Ia pun tidak mungkin lari karena sudah kepergok. Sona akhirnya mau tak mau menghadapinya. Ia membalikkan badan ke orang itu. Ialah Tito yang menyempatkan diri untuk menemui Sona siang ini.
"Tito?" Sona pun bingung harus bagaimana.
Tito berjalan mendekati Sona. Semakin lama semakin dekat dengan raut wajah yang dipenuhi amarah. "Kau masih mempunyai utang padaku, Sona. Mengapa kau menghindar dariku? Tak inginkah kau melunasinya lebih dulu?" Tito pun mulai mengungkit pemberiannya.
__ADS_1
Sungguh saat itu juga hati Sona terkejut seketika. Ia tersadar dengan kesalahannya yang berusaha menghindari Tito. Karena nyatanya Sona masih berutang banyak pada Tito. Jadi pantas saja jika Tito marah kepadanya.
"Ma-maaf." Sona pun hanya bisa berkata seperti itu.