
"Kau baik-baik saja, Sona?" Jun pun segera mengambilkan air minum untuk Sona.
"Em, iya." Sona tampak segera meminum air pemberian dari Jun.
Sungguh Sona tak percaya jika Jun ingin mempertemukan dirinya dengan kedua orang tua Jun sendiri. Hal itu tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Sona. Yang mana membuat Sona merasa bersalah kepada Jun. Jun berusaha untuk selalu terbuka padanya, tapi ia sendiri belum bisa jujur atas semuanya. Sona merasa bersalah.
Sona bukanlah wanita pertama bagi Jun. Ia pernah berpacaran sebelumnya. Tapi baru dengan Sona lah Jun merasakan getaran yang berbeda. Yang mana ia ingin serius ke jenjang berikutnya. Jun sebelumnya suka berhura-hura dengan uang pemberian dari ayahnya. Tapi kini ia lebih berhemat untuk Sona. Tak lain tak bukan karena cinta di hatinya.
"Sudah lebih baik?" tanya Jun kepada Sona.
Sona mengangguk.
"Baiklah setelah ini kita pulang." Jun pun tersenyum kepada Sona.
__ADS_1
Lantas malam ini menjadi saksi atas kedekatan keduanya yang lebih intens. Jun pun secara terang-terangan ingin mempersunting Sona. Tapi, apakah hal itu bisa segera diraihnya? Terlebih Sona bukanlah dari golongan orang kaya. Apakah Jun mampu membuktikan kepada ayah dan ibunya jika cinta itu tidak memandang kasta?
Esok harinya...
Hujan menyambut pagi. Cuaca mendung juga menyertai. Kini pewaris tunggal dari kekayaan ayah dan ibunya itu masih bergumul dengan selimutnya. Sona pun mendekati. Ia datang ke kamar Jun pada pukul tujuh pagi. Namun, sesuatu kemudian terjadi.
"Jun, bangunlah. Kau tidak bekerja hari ini?"
Rasa malas itu masih menyelimuti si majikan tampan yang satu ini. Ia masih berada di alam mimpi yang indah dengan frekuensi penuh cinta. Sona pun mencoba untuk membangunkannya. Tapi, saat itu juga Sona dibuat kaget oleh prianya. Jun menarik Sona agar berada di bawah selimut yang sama.
Sona terperanjat kaget. Kini tubuhnya sudah berada di samping Jun. Jun dengan cepat menarik tubuhnya untuk tidur bersama. Sona pun berusaha menolaknya. Tapi sepertinya aroma tidur itu membuat Sona mulai menikmatinya. Bagaimana hangat napas yang tercampur aroma parfum. Sona pun tersenyum kala melihat wajah Jun yang masih tertidur. Ia mencoba membelai wajah pria tampan itu.
Dia memang tampan.
__ADS_1
Sona menghadapkan dirinya ke Jun. Ia pun memerhatikan apa yang ada di wajah mantan majikannya. Betapa bibir itu merekah dan seolah menarik dirinya agar segera meraih apa yang Jun punya. Sona pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jun. Ia mengecup bibir itu. Ia melakukan sepenuh hatinya. Saat itu juga Jun tersadarkan dari alam mimpinya. Ia membuka kedua mata lalu melihat apa yang Sona lakukan padanya. Jun pun membiarkannya.
Rasa ketertarikan itu begitu besar kala keduanya berdekatan. Sona pun mengecup bibir Jun. Kecupan kecil yang membangkitkan seluruh saraf sensorik di tubuhnya. Pelan tapi pasti Sona menyapu seluruh permukaan bibir Jun. Hingga akhirnya Jun pun memegang tangan Sona. Saat itu juga Sona tersadar dari apa yang dilakukannya.
"Jun?"
Kedua bola mata Sona berkelap-kelip melihatnya. Jun pun memerhatikan wajah Sona dengan penuh tanda tanya.
"Kau menginginkannya?" tanya Jun dengan pelan.
Sona terdiam. Ia merasa bingung harus menjawab apa. Mungkin suasana pagi ini ikut mendukung untuk menjawab iya. Hujan begitu deras turun hingga menimbulkan sensasi nyaman pada alam pikirannya. Sona pun tampak malu menjawabnya.
Jun mencubit pipi Sona. Cubitan lembut yang membuat Sona merasa dimiliki olehnya. "Jika terdiam tanpa jawaban seperti itu, kau terlihat amat menggemaskan, Sona." Jun pun berkata.
__ADS_1
Sona merasa malu. Ia tertunduk. Jun pun semakin gemas kepada Sona. Tapi sesaat kemudian Jun dikagetkan olehnya. Sona naik ke atas perutnya yang mana membuat jantung Jun berdegup kencang seketika.
Sona, kau?!!