PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Cumbu Rayu


__ADS_3

"Kau tampan malam ini." Sona memuji Jun. Ia lupa akan bicara apa tadi.


"Ap-apa?" Jun pun seolah tidak percaya apa yang Sona katakan padanya.


"Kau tampan, Jun. Andai aku bisa mengungkapkan hal ini sedari dulu. Tentunya kita bisa bersama lebih cepat." Dan untuk yang pertama kalinya Sona mulai berani mengungkapkan isi hatinya.


Jun tersenyum. Ia merasa malu dipuji Sona. Ia tertunduk lalu menatap Sona kembali. Ia perhatikan wajah kekasihnya itu.


"Kau juga cantik, Sona. Melebihi dugaanku."


Ujung jari telunjuk Jun pun menyentuh ujung hidung Sona. Saat itu juga saraf permukaan kulit mereka bertemu, seolah meminta untuk meneruskan hal ini.


Sona memeluk Jun. Ia memeluk Jun tanpa ragu lagi. Ia rasakan betapa hangat tubuh itu yang tercampur dengan aroma parfum menenangkan. Jun pun tersenyum. Ia mengusap-usap lengan Sona. Sampai akhirnya ia menyadari jika usapan tangannya langsung mengenai permukaan kulit Sona.

__ADS_1


Sona memakai gaun yang terbuka di bagian bahunya malam ini. Jun pun menghentikan usapannya. Ia khawatir semakin banyak mengusap, hasrat itu semakin berkobar di jiwanya.


Astaga, jantungku deg-degan sekali.


Jun mulai kehilangan kendali atas dirinya saat merasakan betapa halus permukaan kulit Sona. Sedang Sona tampak menyadari hal itu. Ia kemudian mengecup pipi Jun tanpa ragu lagi.


"Muach!"


Satu kecupan itu sudah mampu untuk memberi tanda kepada Jun akan apa yang terjadi selanjutnya. Jun pun menatap Sona dengan pandangan cintanya. Jantungnya berdegup kencang, aliran darahnya ikut melaju deras. Hormon ketertarikan itu begitu kuat mengikat dirinya. Seolah menginginkan kebersamaan ini selamanya. Sona pun ingin membayar budinya.


Sona mulai mendorong Jun. Jun pun terjatuh di atas lantai teras dengan kedua kaki yang masih tertekuk. Sedang Sona...


"Aku mencintaimu, Jun." Ia mengungkapkan bagaimana perasaannya.

__ADS_1


Sona kemudian mulai naik ke atas perut Jun. Ia melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jun pun dibuat terpana olehnya.


"Sona ...."


Pada akhirnya Sona merendahkan tubuhnya di atas tubuh Jun. Lekuk buah ranum itu pun dapat terlihat di mata Jun. Membuat api di dalam tubuh Jun semakin bergejolak. Sona pun menyampirkan rambutnya. Ia kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Jun. Mulai mengecup lalu merasakan setiap sapuan yang membakar tubuhnya. Jun pun terbawa suasana. Ia menahan Sona agar tidak melepaskan ciumannya. Ia memegang erat lengan Sona agar tidak mengakhiri ciuman ini secepatnya.


Esok harinya...


Cuaca cerah menyinari langit ibu kota pagi ini. Terlihat sang mentari yang baru saja terbit di ufuk timur. Jun pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat Sona yang masih terlelap di sampingnya.


Jun tersenyum. Ia kemudian mencium Sona. Diingatnya apa yang terjadi semalam itu membuat Jun semakin menyayangi Sona. Ia pun beranjak bangun dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjangnya saja. Malam yang panjang baru mereka lalui bersama.


Jun lekas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia harus bekerja pagi ini. Masih banyak urusan yang harus ia selesaikan di kantornya. Apalagi Jun sudah mulai menguasai administrasi yang ada di sana. Ia pun bersemangat bekerja untuk meraup pundi-pundi uang yang lebih banyak lagi. Semua tak lain karena Sona yang ada di hatinya.

__ADS_1


Semalam keduanya lalui dengan cumbu rayu yang menggelora. Hingga akhirnya hasrat itu tidak bisa ditahan lagi, harus dituntaskan segera. Tak ayal keduanya semakin terikat dalam gejolak asmara.


__ADS_2