PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Ingin Melampiaskan


__ADS_3

Ini gawat!


Lina kemudian segera melaporkan hal ini kepada pihak kesiswaan. Tak lama berselang anggota BEM pun segera mencari Sona ke sekeliling kampus. Tentunya tanpa menimbulkan keributan. Hal ini bertujuan agar lomba tetap berlangsung dengan meriah. Dan akhirnya pencarian pun terus dilakukan.


Satu jam kemudian...


Sona tersadarkan dari pengaruh obat bius itu. Ia pun membuka matanya perlahan lalu mulai melihat keadaan sekitar. Ternyata ia tengah berada di sebuah kamar yang cukup luas namun tidak banyak perabotan. Sona pun menyadari jika dirinya diculik seseorang.


"Di mana aku?" tanyanya masih lemah tak bertenaga.


Kedua tangannya terikat, hanya kakinya saja yang masih dapat leluasa bergerak. Ia pun mencoba bangun dari tempat tidurnya lalu mencari jalan keluar dari ruangan yang asing baginya. Sona menuju pintu kamar, tapi ternyata pintunya terkunci. Ia pun berteriak.


"Tolong! "Siapapun yang di luar sana, tolong aku!" teriaknya sambil berusaha menggerakkan gagang pintu dengan posisi tangan yang terikat.


Seseorang pun muncul dari ruangan lain, seperti kamar mandi. Sosok yang ia kenal pun tampak bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang menutupi daerah pribadinya. Sontak Sona pun terperanjat seketika.


"Tito?!" Sona melihat Tito sehabis mandi.

__ADS_1


Tito hanya tersenyum kepada Sona. Ia kemudian berjalan mendekati Sona lalu menyandarkan tubuh Sona di dinding pintu kamarnya.


"Selamat datang, Sona." Tito pun mulai membelai wajah Sona.


"Tito! Lepaskan aku!" seru Sona yang mendorong tubuh Tito agar menjauh darinya.


"Sona, kau benar-benar membuatku kesal!"


Tito mendapat penolakan terang-terangan dari Sona. Sontak saja hal itu membuatnya kesal. Ia kemudian memanggul Sona ke punggungnya.


"Tito, Lepaskan! Aku akan melaporkanmu ke polisi!" teriak Sona saat berada di punggung Tito.


"Pergi!" Sontak saja Sona berteriak lalu menendang area pribadi Tito.


"Akkhh!"


Tito pun lemas, ia sulit bergerak seketika. Sedang Sona segera berlari untuk mencari jalan keluar. Ia ke jendela dan melihat jika kamar yang ia tempati cukup tinggi. Sona pun tidak berani untuk melompat keluar. Pada akhirnya ia terus berlari, kembali ke pintu kamar lalu mengobrak-abriknya dari dalam.

__ADS_1


"Tolooongg!!!" teriaknya semakin menjadi-jadi. "Siapapun di luar sana, tolong akuuu!!!"


Sona mulai menangis. Ia takut, sangat takut sekali. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Rasa panik itu mulai memenuhi seluruh pikirannya. Tito pun bangun dari duduk lemasnya.


"Sona, hari ini adalah milik kita. Jadi mari kita nikmati bersama."


Tito mulai mendekati Sona kembali. Sontak jantung Sona pun berdebar kencang. Ia terus berpikir bagaimana cara agar bisa menyelamatkan diri dari Tito. Sona berharap Jun segera datang untuk menolongnya.


Ya Tuhan, tolong aku ....


Sona ketakutan, ia terpojok. Mustahil baginya untuk melarikan diri dari cengkraman Tito saat ini. Ia pun terus berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang yang dapat mendengarnya.


Tito yang melihat Sona berusaha untuk membuka pintu pun segera berlari lalu menarik Sona kembali ke tempat tidur. Kaus yang dipakai Sona pun robek di bagian bahu karena tenaga Tito yang begitu kuat menariknya. Tito pun ingin mencumbu Sona.


"Jangan!"


Sona masih berusaha menahan Tito agar tidak menyentuhnya. Tapi Tito bak sudah kerasukan. Ia tidak ingat lagi jika hal itu tidak boleh dilakukannya. Ia pun lantas merendahkan tubuhnya untuk meraih bibir Sona. Tapi, saat itu juga...

__ADS_1


"Jun, tolong aku!" Sona berteriak seraya berusaha menahan dada Tito agar tidak menciumnya.


__ADS_2