
"Syaratnya kau harus mau menciumku dan membiarkanku lebih dekat denganmu. Apakah kau keberatan?" tanya Jun dengan wajah yang semringah.
Saat itu juga detak jantung Sona tak karuan seketika. Ia merasa bingung harus menjawab apa.
"Tapi perlahan-lahan ya." Sona pun menunduk malu.
Jun tertawa mendengarnya. Ia merasa Sona mengatakan hal yang di luar pikirannya. "Dasar." Ia pun mengusap kepala Sona lalu melanjutkan makannya. Sedang Sona sendiri masih segan untuk melihat Jun yang berada di hadapannya.
Bagaimanapun Sona belum pernah terjamah. Ia belum pernah dekat dengan lelaki sebelumnya. Dan perkataan Jun ini seolah meminta dirinya. Sona pun meminta Jun agar melakukannya perlahan-lahan. Yang mana membuat Jun tertawa dalam senyumnya.
Dia benar-benar masih polos. Haruskah aku meracuninya?
Esok harinya...
__ADS_1
Jun akhirnya mendapatkan hari libur dari sang ayah. Momen ini segera ia gunakan untuk bersama Sona. Ia mengajak Sona berjalan-jalan ke pantai. Tampak keduanya yang baru saja sampai.
Jun mengenakan kaus oblong putih dengan rompi kemeja santai bercorak lautan. Sedang Sona menggunakan dres tanpa lengan dan membawa tas hitamnya. Ia bak wanita sosialita masa kini. Jun telah membuktikan jika ia berhasil merubah penampilan Sona 180°. Sona pun merasa berutang budi kepada Jun. Jun memberi Sona tanpa perlu diminta lagi.
Awan putih berarak menemani langkah kaki mereka yang keluar dari mobil lalu berjalan bersama menuju pesisir pantai. Jun pun meraih tangan Sona. Ia memegangnya erat. Sona pun tampak tidak keberataan dengan apa yang dilakukan Jun. Ia berusaha mengikutinya.
Deru ombak berkejaran seolah menjadi saksi akan perasaan yang ada di hati mereka. Burung-burung berterbangan pun mengiringi langkah kaki keduanya. Pada akhirnya mereka berhenti di keramaian yang sedang menikmati hari. Keduanya pun mencoba berbaur bersama yang lain di tepi pantai ini.
Jun tampak menyukai seorang anak kecil yang sedang bermain pasir di sana. Ia menunjukkan jika dirinya seorang penyuka anak kecil. Jun adalah pria idaman Sona. Sona pun merasa bahagia bersama Jun. Karena Jun akhirnya bisa berada di sisinya.
Sontak Jun terperanjat. Ia pun berpikir ulang akan tawaran anak kecil itu. Beberapa saat kemudian ia baru tahu apa maksudnya.
"Baiklah. Kita ke sana."
__ADS_1
Jun pun akhirnya menurutinya. Sedang Sona tampak tersenyum saja. Mereka berjalan bersama menuju kedai yang menjual layang-layang. Jun pun membelikan anak kecil tersebut layang-layang. Tampak si anak kecil yang riang.
"Terima kasih, Paman."
Pada akhirnya sang anak kecil segera kembali ke ayah ibunya dan menceritakan kebaikan hati Jun yang telah membelikan layang-layang. Ayah dan ibu anak kecil itupun berterima kasih pada Jun. Jun pun hanya mengangguk dari jauh. Ia kemudian membeli satu layang-layang kembali. Tak lain tak bukan untuk dirinya sendiri. Jun akan bermain layang-layang hari ini.
Menjelang siang ini Jun menikmati waktu kebersamaanya dengan Sona. Ia membeli layang-layang yang belum ada gambar atau tulisannya. Jun membeli layang-layang polos lalu menuliskan nama Sona dan nama dirinya di layang-layang tersebut. Sontak saja Sona tersipu malu sendiri melihatnya. Ia merasa Jun seorang pria yang romantis.
"Sekarang kita terbangkan layangannya, ya."
Jun menggunakan spidol permanen untuk menuliskan namanya dan nama Sona. Ia ternyata sudah membawa spidol itu sejak awal. Jun benar-benar berniat membahagiakan Sona. Sona pun diminta untuk membantunya.
"Sona, angkat layangan ini tinggi-tinggi ya." Ia meminta kepada Sona.
__ADS_1
"Aku harus ke mana?" tanya Sona sambil menerima layangannya.
"Ikuti saja arah anginnya." Jun pun meminta kepada Sona. Ia lantas bersiap menerbangkan layangannya.