PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Pembayaran Utang


__ADS_3

Saat mendengar kalimat itu, saat itu jugalah hati sang ibu menjadi tenang. Tapi walaupun begitu, sang ibu tetap merasa tidak enak hati kepada pemuda yang baru saja ditemuinya. Namun, karena ketulusan Tito, akhirnya sang ibu merelakan menitipkan anaknya kepada Tito. Dan Tito pun menerimanya dengan senang.


"Tunggu sebentar. Aku telepon pamanku."


Lantas Tito pun segera menelepon pamannya untuk mengantarkan ibu beserta adik Sona pulang ke rumah. Sedang semua biaya rumah sakit telah ia lunasi. Tito juga akan menjaga Sona malam ini. Karena nyatanya Sona mengalami gangguan pernapasan setelah dibekap oleh orang-orang Edo. Dan Tito akan menjaga Sona dengan sepenuh hati.


Sore harinya...


Tito datang sendirian ke rumah si lintah darat. Dengan bantuan beberapa kenalannya, ia akhirnya menemukan di mana rumah Edo berada. Tito pun menanyakan perihal apa yang menjadikan Edo begitu berani terhadap Sona dan ibunya. Sontak percakapan dingin terjadi di antara mereka.


"Jadi karena itu ...." Tito menghadap Edo yang dibawa oleh anak buahnya menggunakan kursi roda.


"Berani sekali kau datang sendiri ke rumah ini, Pemuda!" Edo berkata-kata dengan kepala yang dibalut perban.

__ADS_1


"Aku datang ke sini untuk membayar semua utang keluarga Sona. Ini!" Tito pun melemparkan amplop berisi uang pembayaran utang keluarga Sona.


"Aku tak menyangka jika kau akan berbaik hati untuk menolong keluarga miskin itu." Edo masih angkuh bicara walau lehernya sudah sulit untuk digerakkan.


"Utang keluarga Sona sudah lunas. Jadi jangan lagi kau datang ke sana. Atau jangan salahkan aku jika kepalamu itu putus di tempat!" seru Tito sambil beranjak pergi meninggalkan Edo.


Sontak saja ucapan yang singkat itu membuat Edo terdiam. Ia merasa takut akan ancaman pemuda itu. Sambil menatap kepergian Tito, Edo pun meminta para pengawalnya untuk menghitung jumlah uang yang dibayarkan.


"Cepat hitung berapa uangnya!"


"Cepat cari tahu siapa lelaki tadi yang membayarkan utang keluarga Sona!" perintah Edo kepada anak buahnya.


"Siap, Bos!" Mereka pun menjawab dengan serempak.

__ADS_1


Ternyata Edo tertarik dengan keberanian Tito yang menghampiri kediamannya sendirian. Sedang Tito segera melaju pergi, ia berniat kembali ke rumah sakit untuk menjaga Sona.


Esok paginya...


Cuaca cerah pagi ini mengantarkan Jun menuju ke sebuah rumah berdinding bata yang ada di desa terdekat ibu kota. Ia mengendarai mobil merahnya untuk sampai ke sana. Ia datang sendiri dengan membawa beberapa buah tangan. Jun pun segera memarkirkan mobilnya begitu sampai. Tampak Jun yang menghela napasnya sebelum keluar dari mobil.


Sona, aku datang.


Jun mengembuskan napasnya. Sudah sebulan ini ia tidak bertemu Sona. Hatinya pun deg-degan bukan kepalang. Ia lantas mengambil beberapa buah tangan yang ia bawa. Terdiri dari satu plastik besar berisi roti dan juga satu keranjang buah-buahan. Jun lantas melangkahkan kakinya menuju rumah Sona.


"Permisi."


Sambil menjinjing kedua buah tangan yang ia bawa, Jun pun menunggu dibukakan pintu. Tak lama kemudian seorang gadis kecil membukakan pintu untuknya. Ialah Mina, adik bungsu dari Sona.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Mina dengan polosnya.


Jun tersenyum. "Halo, Adik. Apakah ada kak Sona? Aku Jun, teman kak Sona." Jun memperkenalkan dirinya.


__ADS_2