
Sebagai seorang pewaris tunggal, tentunya Jun bisa membeli apa saja yang ia inginkan tanpa perlu bekerja keras. Tapi kehidupan Sona di desa menyadarkannya jika masih banyak orang yang membutuhkan pekerjaan hanya untuk menyambung hidup. Jun pun mulai mengisi hari-harinya dengan bekerja. Ia berharap Sona dapat melihatnya sebagai sosok pria yang bertanggung jawab. Karena tak mungkin Jun memenuhi kebutuhan Sona dengan selalu menggunakan uang kedua orang tuanya. Jun harus bisa mandiri di atas kaki sendiri.
Ternyata cukup rumit perjalanan nota penjualan ini.
Jun mulai memahami alur pengeksporan ikan dari penangkapan sampai pengiriman ke luar negeri. Yang mana semua itu memakan biaya yang tidak sedikit. Sehingga para pekerja pun harus seefisien mungkin dalam mengeluarkan biaya, agar gaji mereka tidak terkena imbasnya.
Ayah Jun lebih menerapkan meminimalisir biaya dan meninggikan gaji karyawan daripada membesarkan biaya pemasaran tapi gaji karyawan terbengkalai. Karena hal itulah semua karyawan di pelabuhan saling mengingatkan agar tidak boros dalam menggunakan uang. Tak lain tak bukan agar semuanya dapat menikmati gaji yang tinggi dari perusahaan.
"Baiklah. Sepertinya aku mulai mengerti."
Pada akhirnya Jun mulai menyusun semua nota penjualan selama ini. Ia kemudian mulai membukukannya lewat sebuah program khusus yang dimiliki perusahaan. Jun akan mencoba mengetahui keuntungan bersih tahun sebelumnya, sebelum ia mengerjakan nota penjualan di tahun ini. Berharap bisa menemukan selisih agar bisa segera ditindaklanjuti.
__ADS_1
Jun begitu bersemangat dalam mengais rezeki. Tak lain untuk Sona semata. Seorang gadis yang berhasil mencuri hatinya dengan segala kesederhanaan dan kesabaran yang ia punya. Dan Jun menyayangi Sona.
Sementara itu di kampus Sona...
Sona mulai terbiasa dengan aktivitas kampus yang ramai. Ia yang tadinya tidak menyukai keramaian akhirnya memiliki teman. Sona masuk kampus melalui jalur eksklusif. Ia tidak lagi mengikuti ospek atau hal sejenisnya. Sona langsung masuk kelas dan bertemu dosennya.
Siang ini pun ia mengakhiri mata kuliah ke duanya. Sona bertekad untuk serius kuliah sebagai tanda terima kasihnya kepada Jun. Bagaimanapun biaya kuliah tidaklah sedikit. Dan Sona menyadari hal itu. Maka dari itu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Jun kepadanya. Sona akan serius kuliah. Ia pun mendapat teman baru di sana.
"Hai." Sona pun menjawabnya.
"Kau terlihat diam saja saat sesi tanya jawab tadi. Apakah menemui kesulitan?" tanya temannya itu.
__ADS_1
Sona tersenyum. "Aku masih belum terbiasa dengan tanya jawab yang begitu cepat," jawab Sona kepada temannya.
Teman Sona itu bernama Lina. Ia dua tahun lebih muda dari Sona. Keduanya sama-sama mahasiswi baru di perguruan tinggi. Tapi karena Sona dua tahun tidak melanjutkan kuliahnya, Sona pun berusia lebih dewasa dari Lina. Tapi sepertinya dalam pertemanan itu tidak mengenal segalanya.
"Aku pulang mengendarai motor. Mau pulang bersamaku nanti?" tanya Lina kemudian. Keduanya berjalan bersama menuju taman kampus.
"Terima kasih." Sona pun mengangguk. Ia masih kaku untuk bercakap lebih lanjut.
Lina tertawa. "Hei, sudahlah. Aku tahu kau seorang introvert. Tapi bersikap biasa saja. Anggap kita sudah kenal lama. Bukankah itu lebih baik?" Lina pun meyakinkan Sona.
Sona mengangguk. Lina pun merangkul Sona agar bersikap lebih luwes lagi. Tidak kaku ataupun malu-malu saat berteman dengannya. Keduanya kemudian menuju taman kampus bersama. Beristirahat sebentar sebelum mata kuliah ke tiga diterima. Mereka bak teman lama yang bertemu kembali. Lina pun banyak memberi tahu Sona bagaimana kehidupan perkampusan yang sebenarnya.
__ADS_1