
Gadis cantik itu mulai berani. Atau mungkin lebih tepatnya ia pasrah dengan segala apa yang akan terjadi. Terlebih Jun banyak sekali membantu hidupnya, sehingga ia merasa berutang budi. Tapi haruskah hal itu terjadi sebelum mereka mengikat janji suci? Jun pun tampak bingung sendiri. Ia ragu untuk melakukannya bersama Sona.
Apakah dia telah teracuni?
Sebagai insan biasa pastinya saat bertemu dengan pasangannya mempunyai rasa ketertarikan yang begitu besar di hati mereka. Yang memicu untuk lebih dekat dan dekat lagi. Ingin memiliki satu sama lain dan tidak ingin membagi ke lain. Begitu juga dengan hal yang dialami Sona. Yang mana sejak awal memang sudah jatuh cinta kepada Jun. Tapi Sona cukup sadar siapa dirinya. Ia pun memendam perasaannya.
Kini impiannya itu sudah terwujud. Jun pun telah menunjukkan keseriusannya. Tak ada lagi yang perlu Sona khawatirkan dari cintanya. Ia hanya perlu menikmati setiap proses kehidupannya. Tanpa ragu ataupun pusing memikirkan hal lain. Tapi apakah ayah dan ibu Jun bisa mengerti keadaannya? Sungguh masih ada ketakutan besar di dalam hati Sona.
"Jun, ajari aku."
__ADS_1
Lantas Sona pun meminta Jun untuk mengajarinya. Mengajari sesuatu yang tidak perlu diajarkan. Jun yang mulai memasuki fase nyaman itu pun seperti tidak bisa berpikir jernih. Ia tergoda untuk melakukan sesuatu dengan Sona pagi ini. Sona pun tampak membiarkan Jun menyentuhnya. Pada akhirnya sesuatu itupun terjadi. Tak lain tak bukan untuk membalas budi.
Beberapa jam kemudian....
Hujan masih turun rintik-rintik membasahi bumi. Cuaca cerah kala pelangi itu terlukis indah di angkasa. Sona pun terbangun dari tidurnya yang sesaat. Ia juga menemukan dirinya tengah tertidur di kasur Jun. Siapa lagi kalau bukan mantan majikannya sendiri. Yang mana pria itu tidak berada lagi di tempatnya.
Sona memerhatikan dirinya. Ia melihat corak merah ada di lehernya. Saat itu juga ia menyadari apa yang telah dilakukannya bersama sang mantan majikan. Dan entah mengapa Sona pun tersenyum sendiri. Ia lekas-lekas menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Dan sesampainya di sana ia segera membaca pesan dari mantan majikannya. Yang mana isinya begitu membahagiakan hatinya.
/Sayang, aku berangkat. Nanti aku pulang sore dan kau sudah siap ya./
__ADS_1
Begitulah pesan dari Jun untuknya. Di mana Jun menyebutnya dengan kata sayang yang membuat Sona melayang ke angkasa. Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta. Dan cintanya itu begitu besar kepada mantan majikannya. Ia pun teringat dengan apa yang dilakukannya tadi. Di mana bibir Jun itu menyusuri lekukan lehernya dengan kecupan yang amat lembut sekali. Sona pun menginginkannya lagi.
Jun, jangan tinggalkan aku.
Mereka belum melakukan hubungan intim. Tapi sentuhan demi sentuhan yang dilakukan membuat Sona merasa terikat oleh Jun. Ia pun lantas bergegas untuk merapikan rumah lalu menyiapkan segala keperluan sebelum Jun menjemputnya nanti. Sona akan bertemu dengan kedua orang tua Jun malam ini. Lalu apa yang akan terjadi?
Menjelang petang...
Deg-degan, itulah yang Sona rasakan saat menuju ke kediaman kedua orang tua Jun di dekat pelabuhan. Tangannya dingin dan tubuhnya terasa menggigil. Padahal ia sudah mengenakan pakaian yang sopan dan juga panjang petang ini. Jun pun memerhatikannya. Dan entah mengapa ia malah tertawa melihatnya. Sona terlihat imut di matanya.
__ADS_1