PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Menagih Utang


__ADS_3

Tito tersenyum sinis. " Jangan kira aku tidak tahu jika kau berusaha menghindariku. Apa kau tidak mempunyai itikad baik untuk melunasi utangmu?"


Kata-kata yang menyakitkan itupun terdengar di telinga Sona. Tito melampiaskan amarahnya dengan berkata buruk tentang Sona.


"Maaf. Aku tahu punya utang. Tolong beri aku waktu untuk melunasinya." Sona pun tertunduk malu.


Tito memasang raut wajah kesalnya. "Baiklah. Kuberi kau satu minggu. Total semua uang yang sudah kukeluarkan adalah tujuh juta. Jadi cepat cari uang untuk membayarnya. Atau kalau tidak, aku akan mengambil paksa apa yang kau punya!" Tito mengancam Sona.


"Ap-apa?!" Saat itu juga Sona terkejut seketika.


Tito tersenyum sinis. Ia kemudian segera pergi meninggalkan Sona. Ia ingin membayar rasa sakit hatinya kepada Sona. Sedang Sona sendiri mulai menitikkan air matanya. Ia malu dengan semua ucapan Tito.


Sona merasa malu karena telah berusaha menghindari Tito. Tapi nyatanya ia masih mempunyai utang kepada Tito. Ia juga merasa sakit dengan semua perkataan Tito. Tapi ia sadar jika apa yang dikatakan oleh Tito adalah benar. Sona tidak bisa menolaknya.


Lantas apa yang akan Sona lakukan untuk melunasi utang-utangnya? Akankah ia meminta bantuan dari Jun lagi?

__ADS_1


Malam harinya...


Malam telah datang. Langit cerah berbintang dengan bulan purnama yang bersinar terang. Di sana, di depan meja makan tampak Sona yang diam saja sedari tadi. Tidak ada kata, tidak ada bicara kepada Jun yang duduk di hadapannya. Jun merasa sesuatu telah terjadi pada Sona.


"Sona, kau baik-baik saja?" tanya Jun kepada Sona.


Sona hanya menunduk yang membuat Jun penasaran. Tak lama kemudian sebuah dering ponsel pun menyadarkannya. Jun pun segera mengangkat telepon itu.


"Tito?"


Ia tak menyangka jika Tito lah yang akan meneleponnya. Sona pun yang mendengarnya terkejut seketika.


"Jun, pembantumu berutang tujuh juta padaku. Aku harap kau melunasi secepatnya. Jangan sampai membiarkanku mengejarnya hanya karena utang itu," tutur Tito dari seberang telepon.


Jun pun menoleh ke arah Sona yang diam sedari tadi. "Baik. Berikan nomor rekeningmu. Aku akan melunasinya," kata Jun kepada Tito.

__ADS_1


Tito tersenyum simpul di sana. "Baguslah. Aku akan mengirimkan nomor rekeningku padamu." Tito mengakhiri sambungan teleponnya.


Jun akhirnya mengetahui alasan dibalik Sona diam saja. Ia pun menanyakan kepada Sona untuk mendapat kepastian lebih. Tentang apa yang terjadi pada Sona hari ini.


"Sona." Jun menegur Sona. "Tito meneleponku dan mengatakan kau mempunyai utang padanya. Apakah itu benar?" Jun memastikan.


Sona mengangguk.


"Nominalnya tujuh juta. Kalau boleh tahu, untuk apa sajakah uang itu?" tanya Jun lagi.


Sona menunduk sedih. Ia merasa segan untuk mengatakannya. "Uang itu ... uang itu untuk membayar utang ibuku ke seorang rentenir yang ada di desa. Sedang sisanya untuk membayar biaya rumah sakit waktu itu. Dan juga pembayaran listrik yang menunggak selama beberapa bulan." Sona menceritakan.


Jun menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Jadi karena hal ini kau diam saja?" tanya Jun lagi.


Sona mengangguk malu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan melunasi semua utangmu. Tapi ada syaratnya," kata Jun lagi.


Sontak Sona mendongakkan kepalanya, melihat Jun yang duduk di hadapannya. Raut wajahnya pun seolah menanyakan apa syaratnya. Jun kemudian tersenyum kepada Sona. Ia merasa tak tega mendengar Sona ditagih utang. Ia lantas mencandai Sona untuk menghiburnya.


__ADS_2