
Malam ini Jun membiarkan kedua adik Sona untuk memilih kamar mana saja yang mereka suka. Ibu Sona pun tampak tidak enak hati kepada Jun karena terlalu baik pada kedua putrinya. Tapi Jun menjelaskan itu semua tidak ada apa-apanya. Jun tidak perhitungan kepada keluarga kekasihnya.
"Jun."
"Hm?"
"Maafkan aku." Akhirnya Sona pun berkata kepada Jun.
Sona ....
Jun pun merasa bersalah pada dirinya. Ia merasa egois sekali. Tidak seharusnya membuat Sona seperti ini.
Untungnya saja Sona tidak sampai mengalami hilang ingatan karena berguling di anak tangga. Ia hanya harus menjalani beberapa perawatan selama satu minggu ke depan. Yang mana tentunya perawatan itu tidak memakan biaya yang sedikit. Jun harus mengeluarkan kocek yang besar untuk kesembuhan Sona.
"Sona, kau tidak perlu meminta maaf padaku."
__ADS_1
Sona pun masih terbalut perban di kepalanya. Ia mengalami gegar otak pada bagian sisi kepalanya. Yang mana hal itu berdampak besar pada psikologis Sona. Sehingga Sona harus mendapatkan dukungan moral yang juga sama besar. Dan tentunya hanya Jun lah yang bisa melakukannya.
"Kau sudah tidak marah padaku? Aku kepikiran," kata Sona lagi.
Sontak Jun meletakkan mangkuk buburnya ke atas meja. Ia tak percaya jika Sona akan mengatakan hal ini. Padahal dirinya lah yang telah bersalah kepada Sona. Tak layak Sona meminta maaf padanya.
Lantas Jun pun memeluk Sona. Ia peluk tubuh itu yang sedari tadi duduk di hadapannya. Sona pun hanya bisa diam karena tangannya masih sakit untuk digerakkan. Dan tanpa Sona sadari, Jun meneteskan air matanya. Ia diliputi perasaan bersalah akan keegoisannya.
Kau tidak harus menanggung semua ini, Sona. Maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu egois sampai tidak lagi bisa berpikir sehat atas kejadian itu. Kau pantas menghukumku, Sona. Maka hukumlah aku. Tapi aku ingin mendengar janji kesetiaan darimu. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku.
Jun berharap Sona bisa selalu setia kepadanya. Menerima apa adanya dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Jun adalah pria yang ingin dicinta kekasihnya.
Menjelang dini hari...
Dering ponsel menyadarkan Jun yang baru saja tertidur. Jun pun lekas mengangkat telepon masuk di ponselnya. Ia meraba-raba meja yang ada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Halo?" Ia pun menjawab telepon itu.
"Jun, Tito kecelakaan." Suara seseorang terdengar mengabarkan berita kepadanya.
"Apa?!" Jun pun seperti salah mendengarnya.
"Dia di rumah sakit yang ada di perbatasan kota. Mobilnya terbalik saat ingin menyeberangi jembatan. Kau ingin menjenguknya?" tanya seseorang dari seberang.
Jun pun mencoba memastikan siapa yang meneleponnya. Ia melihat layar ponsel dengan mata yang masih mengantuk.
"Nanti aku akan mengabarimu, Kai. Besok pagi-pagi kuberi tahu. Karena sekarang aku mengantuk sekali." Jun pun menuturkan.
"Em, ya. Baiklah. Kalau begitu sampai besok, Jun. Selamat beristirahat." Teman dari Jun pun mengakhiri sambungan teleponnya.
Tiba-tiba saja kabar tidak mengenakkan tentang Tito terdengar. Jun pun terperanjat dengan apa yang didengarnya. Ia tak menyangka jika semesta akan segera menghukum pria yang telah berani mencoba menodai kekasihnya. Lantas apakah Jun akan menjenguknya bersama Sona?
__ADS_1