
Sona mengenakan gaun terusan yang berlengan panjang dan semata kaki. Tapi nyatanya hal itu tidak bisa menepiskan perasaan deg-degan di hatinya. Sona pun sering meniup tangannya sendiri. Ia bak kedinginan di petang ini. Jun pun mengecilkan volume AC mobilnya. Tapi tetap saja Sona deg-degan.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat lucu sekali." Jun menoleh ke arah Sona.
"Aku takut. Bagaimana nanti jika mereka tidak menyukaiku?" Sona amat cemas.
Jun tersenyum seraya menyetir mobilnya. Malam ini ia tampak formal dengan mengenakan kemeja. Jun pun mencoba menyakinkan Sona.
"Aku akan memberi pengertian kepada mereka. Jaga khawatir, Sona." Jun meyakinkan.
Sona pun mengangguk dengan senyum terpaksa. Hatinya masih harap-harap cemas menanti pertemuan malam ini. Lalu pada akhirnya mereka pun sampai di sebuah perumahan yang ada di sana. Jun segera memberi tahu jika ini adalah perumahan ayahnya. Sontak saja Sona semakin deg-degan seketika.
__ADS_1
Ya Tuhan, aku khawatir mereka tidak menyukaiku karena keadaanku ini. Tapi malam ini harus kulalui dengan baik. Tolong aku, Tuhan.
Lantas Sona pun berharap agar pertemuan malam ini dapat berjalan lancar. Ia pun menarik napas dalam-dalam sebelum tiba di kediaman orang tua Jun. Lalu pada akhirnya rumah yang dituju pun telah berada di hadapannya. Saat itu juga Sona mencoba mengatur laju napasnya. Ia berharap semuanya baik-baik saja.
Makan malam...
Jun mengenalkan Sona kepada ayah dan ibunya. Tentu saja Sona segera diajak ke meja makan untuk menyantap makan malam bersama. Tampak ibu Jun yang memerhatikan Sona makan. Sona pun diam saja jika tidak ditanya. Pada akhirnya Jun mencoba memecah suasana. Ia mengutarakan niatnya.
"Ibu, Ayah, aku berniat mempersunting Sona secepatnya."
"Jun, kau serius? Bukannya Sona masih kuliah?" tanya ibu Jun.
__ADS_1
Jun mengangguk. "Benar, Bu. Tapi tak apa bukan jika aku mempersiapkannya dari sekarang?" tanya Jun dengan yakin.
Ayah Jun berdehem. Ia meneguk air minumnya. "Kau harus siap secara finansial sebelum melamar seorang gadis, Jun." Sang ayah mengingatkan. "Lagipula Sona ingin pesta yang seperti apa? Kau juga harus memikirkannya," terang ayah Jun.
Sona pun merasa ter-notice sang calon mertua. Ia kemudian menjawabnya, "Paman, Sona ingin pesta yang biasa-biasa saja. Sona juga tidak keberataan jika ingin dipercepat. Sona yakin pasti bisa mengatur waktunya serambi kuliah." Sona meyakinkan.
Tampak Jun yang terkesima dengan penuturan Sona. Namun, tidak bagi ibu Jun. Sang ibu seperti kurang menyetujuinya.
"Sona, ibu tidak melarang jika kalian ingin menikah. Tapi Jun baru saja bekerja. Tak bisakah menunggu satu sampai dua tahun lagi agar Jun bisa menabung lebih banyak untuk masa depan kalian?" tanya ibu Jun. Ia berusaha bijak menanggapi keinginan putranya.
"Ya. Ayah sepertinya setuju dengan pendapat ibu. Kalian persiapkan diri dulu, baru menikah. Karena nyatanya pernikahan itu tidak mudah. Jadi harus disiapkan secara matang. Kami berharap Sona juga tidak keberataan." Sang ayah memaparkan dengan jelas.
__ADS_1
Jun tersenyum. "Baik, Yah. Tapi tolong beri kepercayaan kepada kami untuk belajar mandiri." Jun pun meminta.
Saat itu juga kedua orang tua Jun tampak mengerti apa yang dimaksudkan. Mereka kemudian lekas-lekas menyelesaikan makan malamnya.