
Tito pun memukul setir mobilnya. Rasa kesal melanda hatinya kala hal itu terjadi. Ia ingin melampiaskan amarahnya. Tapi ia sadar jika sedang berada di zona kampus orang lain. Sehingga Tito terpaksa menahan kesalnya.
Tito pun mulai melajukan mobilnya. Ia berusaha mengejar Sona. Sesampai di lampu merah, ia masih dapat melihat motor yang membawa Sona. Tapi sayang, saat lampu hijau Tito kehilangan Sona. Lina ternyata mengambil jalan tikus agar cepat sampai ke rumah Sona. Sontak Tito pun tersinggung dengan sikap Sona padanya. Ia merasa Sona mempermainkannya.
Sona, setelah apa yang kulakukan untukmu, kau membalasnya seperti ini?
Tito pun kesal kepada Sona. Ia kemudian terus melajukan mobilnya, menuju kediamannya. Tito tak percaya jika Sona akan bersikap seperti ini kepadanya. Setelah apa yang Tito lakukan untuk dirinya dan juga keluarga Sona. Lantas jika sudah begini, bagaimana akhirnya?
Setengah jam kemudian...
Tito pulang ke rumah dengan raut wajah yang kesal. Ia membanting tas kuliahnya ke atas kasur kamar. Ia mengusap kepalanya seperti orang frustrasi. Tak terima dengan sikap Sona kepadanya. Bagaimana gadis yang sudah dibantunya itu malah menghindarinya. Sisi lain dari Tito pun mulai memenuhi pikirannya. Ia kesal terhadap Sona.
"Sona! Kau keterlaluan!!!"
__ADS_1
Ia geram dan kesal dengan apa yang baru saja terjadi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Sona akan bersikap seperti ini padanya. Setelah apa yang ia lakukan untuk Sona dan keluarganya.
Bisa-bisanya dia menghindariku setelah aku membantunya membayar utang dan juga membayar semua biaya rumah sakitnya! Dia benar-benar keterlaluan!
Pikiran jahat itupun mulai merasuki hatinya kala tidak mendapat perlakuan baik dari Sona. Ia kesal. Begitu kesal. Tito pun terduduk di pinggir kasurnya sambil memikirkan cara bagaimana agar dapat membuat Sona tersadar dari sikapnya. Tito tak terima Sona menghindar darinya.
"Kau pikir kau siapa bisa memperlakukanku seperti ini, Sona?! Kau membuatku kesal! Kau harus membayar semuanya!" Tito pun melampiaskan amarahnya.
"Ibu?" Tito pun segera membukakan pintu kamarnya. Sedang sang ibu sudah menunggunya di depan pintu.
"Tito, ayah Angel datang. Dia ingin bicara padamu," kata sang ibu yang membuat hati Tito semakin kesal saja. Tanpa sang ibu sadari Tito pun mengepalkan tangannya.
Keadaan ini benar-benar tidak adil bagiku.
__ADS_1
Dan setelah memberi tahu putranya, sang ibu pun segera kembali ke ruang tamu. Yang mana ternyata ayah Angel sudah menunggunya di sana.
Lantas apa yang akan Tito lakukan nantinya? Hatinya terluka dan butuh diobati segera, sedang masalah lain kembali datang menerpanya. Akankah ia mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan semuanya?
Sementara itu...
"Hah, untung saja."
Sona baru saja sampai di rumahnya. Lina yang mengantarkannya pun tak percaya jika Sona tinggal di rumah sebesar ini. Sona pun hanya tersenyum pada Lina. Ia seperti orang yang ketakutan dan ingin cepat-cepat menghindari sesuatu. Lina pun memakluminya. Ia segera berpamitan lalu pergi melaju. Sona kemudian masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu.
Kini gadis cantik itu kembali ke kamarnya dan segera meletakkan tas kuliahnya di atas meja. Ia duduk di depan meja belajar lalu segera mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Jun segera.
"Aku harus memberi tahunya. Tapi saat ini dia sedang bekerja. Apakah tidak akan mengganggunya?" Sona ingin memberi tahu Jun tentang Tito.
__ADS_1