PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Dibekap


__ADS_3

Sona tersenyum. Ia kemudian beranjak berdiri. "Kalau begitu kejar aku sekarang." Ia pun mulai menebarkan keceriaan yang Jun inginkan.


Lantas saja Jun pun semringah seketika. Ia lalu mengejar Sona yang berusaha menghindarinya. Pantai pun menjadi saksi mereka yang berkejaran. Hingga akhirnya keduanya terjatuh di pasir pantai. Saat itu juga mereka menyadari jika sama-sama menginginkan kebahagian.


"Jun."


"Sona."


Sona terjatuh di atas tubuh Jun. Di tengah pasir pantai yang bersih dan di dekat air laut yang jernih. Keduanya bertatapan dengan jarak yang dekat sekali. Seolah tidak ada penghalang lagi di antara keduanya. Saat itu juga detak jantung Sona dan Jun bak pacuan kuda. Berdetak keras dan melaju kencang. Hingga akhirnya Sona melakukan sesuatu untuk prianya.


Sona mendekatkan wajahnya ke wajah Jun. Saat itu juga Jun menyadari apa yang akan Sona lakukan. Sona pun menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. Ia memerhatikan apa yang ada di wajah Jun. Bibir peach itu seolah sudah menunggunya di sana. Sona pun mulai meraihnya. Merasakan hangat napas yang bercampur padu. Mata Jun pun berkelap-kelip menunggu Sona menciumnya. Hingga akhirnya Sona mendaratkan bibirnya di bibir Jun.

__ADS_1


Sona ....


Saat itu juga aliran listrik begitu cepat tersambung. Getaran itu begitu kuat mereka rasakan. Jun pun memegang wajah Sona dengan kedua tangannya. Berharap ciuman itu tidak dilepaskan secepatnya. Pada akhirnya pantai pun menajdi saksi ciuman pertama mereka.


Sona, aku mencintaimu ....


Jun merasakan betapa lembut bibir Sona yang menciumnya. Menyapunya hingga menimbulkan sensasi tersendiri saat bibir itu bergesekan. Jun pun membalas ciuman Sona. Hingga tak sadar lagi sedang berada di mana mereka. Hari ini keduanya habiskan waktu bersama. Dalam suka, dalam cinta. Mereka pun mengikat janji untuk berpacaran setelah waktu yang memisahkan. Jun resmi berpacaran dengan Sona.


Festival musik mulai berlangsung di kampus Sona. Babak penyisihan pun segera dimulai. Sona dan Lina tampak kompak menjadi panitia pelaksana. Keduanya berdiri di tengah penonton sambil memerhatikan band yang tampil di sana. Tampak Sona dan Lina yang mengenakan tanda pengenalnya.


"Lina, aku ke kelas dulu sebentar." Sona pun berpamitan. Ia ingin kembali ke kelasnya.

__ADS_1


"Oke. Tapi jangan lama ya. Aku sendirian di sini." Lina pun mengiyakannya.


Sona mengangguk. Ia pun segera meninggalkan Lina. Sona segera pergi menuju kelasnya.


Suasana kampus tampak ramai dengan suara musik yang menggema. Banyak mahasiswa yang berkumpul di sekitaran area lomba untuk melihat festival musik yang sedang berlangsung. Sehingga kelas-kelas terlihat sepi saat ini. Sona pun masuk ke kelasnya. Ia berniat mengambil tas di sana. Namun, sesuatu kemudian terjadi padanya.


"Diam!"


Seseorang pun membekapnya. Sona dibekap obat bius sehingga lemas dan tak sadarkan diri. Ia tak lagi sempat berteriak untuk meminta pertolongan. Seseorang itupun lekas membawa Sona pergi, tanpa ada yang melihatnya. Sedang Lina sendiri masih menunggu Sona di area lomba. Tapi Sona tak kunjung kembali juga. Lina pun mulai curiga. Ia segera ke kelasnya.


"Sona!"

__ADS_1


Lina datang ke kelas selang sepuluh menit berlalu. Dan ia tidak melihat ada siapapun di sana. Ia lalu segera menghubungi Sona. Namun, ternyata nomor ponsel Sona tidak aktif seketika. Lina pun jadi semakin cemas. Ia kemudian segera mencari Sona di kampusnya. Namun ternyata, tidak ada orang yang melihat Sona.


__ADS_2