
Aku harap cara ini efektif untuk menghilangkan prasangka buruk kenapa aku tidak sampai membukakan pintu.
Dan ternyata benar saja. Tito pun melihat ke kaca jendela yang ada di rumah Jun. Ia memastikan ada orang di dalam atau tidak. Dan tak lama kemudian ia melihat ada seorang gadis yang sedang tertidur di dalam sana. Seorang gadis yang memang berniat untuk dia temui secepatnya. Tito pun mencoba mengetuk kaca jendela itu lagi. Tapi tidak ada jawaban dari Sona.
Mungkin dia benar-benar terlelap.
Tito menelepon Jun untuk membicarakan permasalahan yang berkaitan dengan mereka. Yaitu tentang Sona dan juga Angel. Tapi sayangnya Jun tidak bisa dihubungi. Ia kemudian mencoba ke rumah Jun langsung. Tapi sesampainya di sana ia malah melihat keberadaanku Sona. Sontak Tito pun ingin segera menyelesaikan masalahnya.
Tito merasa risih dengan apa yang dialaminya dua minggu ini. Entah apa yang terjadi padanya, ia ingin sekali cepat menyelesaikan masalahnya. Tapi kini Tito tidak bisa bertemu dengan Jun ataupun Sona. Tito harus datang lain hari ke rumah Jun. Karena Sona tidak membukakan pintu untuknya. Gadis itu sedang tertidur di dalam sana.
Lantas apa yang akan Tito lakukan untuk menyelesaikan masalahnya? Lalu apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Tito ingin menemui Jun secepatnya?
__ADS_1
Lusa kemudian...
Jun baru saja pulang dari asrama tempatnya mengikuti ujian percepatan. Dan tentu saja kepulangannya disambut baik oleh Sona. Sona pun segera menyiapkan makan siang untuk Jun. Jun pun segera duduk di depan meja makan bersama Sona. Mereka melepas rindu setelah dua minggu tak bertemu. Tapi tidak dengan melakukan apa-apa, melainkan hanya tersenyum saja.
"Bagaimana kabarmu, Sona." Jun pun mulai meneguk air minum yang Sona hidangkan untuknya.
"Aku baik. Bagaimana dengan ujianmu?" tanya Sona kemudian.
Jun menghela napasnya. "Ternyata tidak mudah. Aku sempat menemui kesulitan di sana." Jun menceritakan.
Jun mengangguk. "Aku langsung pulang saat ujian berakhir. Sudah lama sekali tidak pulang ke rumah. Apakah ada cerita untukku?" tanya Jun yang seperti merasakan firasat tak enak saat meninggalkan Sona sendirian di rumah.
__ADS_1
Sona tersenyum. Ia ingin sekali menceritakan hal yang terjadi kemarin. Tapi ia menahannya agar Jun tidak kepikiran. "Semuanya baik-baik saja. Aku hanya mengisi waktu dengan membaca buku dan menelepon ibu." Sona menjawabnya sambil menyerahkan sepiring nasi untuk Jun.
Jun mengangguk. "Kau punya niat untuk menjadi seorang penulis, Sona?" tanya Jun yang mulai menyantap makan siangnya.
Sona terkekeh sendiri. Ia merasa geli dengan pertanyaan Jun. "Aku tidak punya bakat di bidang itu. Lagipula ijasah-ku hanya SMA. Apa boleh jadi seorang penulis?" Sona dengan lugu menanyakannya.
Jun pun segera meneguk air minumnya. "Menjadi seorang penulis tidak harus bergelar sarjana. Kau bisa memulainya dengan menuliskan apapun yang ada di pikiranmu. Dan semua itu bisa dilakukan asal rutin melatih kemampuan. Kalau kau ingin, kau bisa memakai laptopku." Jun menawarkan.
Sona berpikir.
"Oh, ya. Kau juga bisa melanjutkan kuliahmu nanti selepas aku bekerja di perusahaan ayah. Kau mau bukan?" tanya Jun lagi.
__ADS_1
Ap-apa?!
Sontak saja Sona terkejut mendengar perkataan Jun. Ia merasa Jun terlalu banyak menolongnya. Sona tidak mungkin menerima pemberian Jun begitu saja. Tanpa ada imbalan apapun darinya.