
Seketika Tito pun terdiam kala mendengar nama itu. Hatinya seakan tertusuk pisau yang sangat tajam.
"Jun?"
Ia tersadar seketika. Ia kemudian melepaskan Sona lalu beranjak pergi dari kasur, tempat di mana Sona berada. Tito pun berjalan menuju sofa yang berada di pojokan kamar itu. Ia kemudian mengambil sebatang rokok lalu mulai menghisapnya. Sedang Sona masih terdiam sambil mengatur napasnya.
Aku harus lari. Tapi bagaimana caranya?
Sona beranjak bangun. Ia kemudian berpikir kembali bagaimana agar bisa melarikan diri. Ia tahu persis jika pintu itu dikunci oleh Tito, dan Sona tidak tahu di mana keberadaan kunci itu. Satu-satunya cara untuk keluar adalah mengambil kunci itu dari Tito sendiri. Sona tidak mempunyai jalan lain.
Tito pun masih menghisap rokoknya. Ia terus diam sambil mencoba menenangkan hasratnya. Sedang Sona berusaha merapikan bajunya yang sudah tidak karuan. Ia ingin lekas pergi dari sana.
"Sona, kau mencintainya?" tanya Tito kepada Sona.
Sona diam. Ia mengangguk pelan karena takut Tito melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
__ADS_1
"Jadi begitu." Tito pun berusaha memahaminya.
"Tito—"
"Jun telah membayar semua utangmu padaku. Dia begitu baik padamu." Tito mengembuskan asap rokoknya.
Sona terdiam. Ia tidak berani banyak berkata-kata karena khawatir Tito akan mencelakainya.
"Maaf, Sona. Mungkin aku yang salah. Pergilah!" Tito pun mematikan puntung rokoknya.
Saat mendengar kata itu, saat itu juga jantung Sona berdetak kencang bukan kepalang. Ia takut tiba-tiba Tito berlaku kasar padanya.
Sona terdiam. Ia harap-harap cemas jika membuka pintu kamarnya. Khawatir Tito akan melemparnya dengan sesuatu.
"Cepat pergi!"
__ADS_1
Tito pun membentak Sona. Saat itu juga Sona segera mengambil kunci lalu membuka pintunya. Dengan rasa takut, Sona berlari sekuat tenaga keluar dari kamar itu. Ia pun terus berlari sampai keluar dari tempat tersebut. Sona kemudian menyadari dirinya sedang berada di mana. Ia ternyata sedang berada di sebuah motel dekat pantai yang jauh dari ibu kota.
Astaga, aku harus ke mana?!
Sona pun panik. Ia tidak mungkin kembali ke kamar motel untuk menemui Tito. Ia pun berjalan menuju parkiran motel untuk meminta tolong kepada satpam yang berjaga. Tapi saat itu juga tiba-tiba rasa sesak melanda dadanya. Sona pun terjatuh. Ia tak sadarkan diri seketika.
Beberapa jam kemudian...
Malam telah tiba. Langit pun tampak menampilkan awan mendungnya. Di suatu tempat yang asing, sosok gadis berambut hitam itu mulai tersadarkan dari pingsannya. Ia pun melihat keadaan sekitarnya yang berupa gubuk anyaman bambu, sebagai tempat berlindung dari dinginnya malam. Sona pun mencoba bangun untuk mencari pertolongan. Tapi saat itu juga seseorang membuka pintu kamarnya.
"Nona, selamat malam." Seorang wanita berambut pendek membawakan Sona segelas teh hangat.
Sona merasa bingung. "Anda siapa?" Sona pun segera bertanya.
Wanita itu duduk di dekat Sona lalu meletakkan apa yang ia bawa ke meja. "Kau sudah siuman?" tanya wanita itu kepada Sona.
__ADS_1
Sona pun memandangi dengan saksama wanita tersebut. Dan tiba-tiba saja ia terkejut saat melihat perut wanita itu. Ternyata wanita itu sedang hamil. Sona pun bingung sedang berada di mana.
"Namaku Haruka. Aku sedang mengandung bayiku yang berumur enam bulan. Selamat datang di gubuk kecilku, Nona. Suamiku telah menemukanmu di parkiran motel terdekat dari sini." Haruka memperkenalkan dirinya kepada Sona.