PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Layangan Cinta


__ADS_3

Sona tersenyum. Ia lantas mengikuti ke mana arah angin sambil membawa layangan di tangannya. Setelahnya ia pun mengangkat tinggi-tinggi layangannya agar Jun bisa menerbangkannya. Dan akhirnya layang-layang itu naik ke angkasa.


"Sona, cepat kemari! Layangan ini ternyata berat sekali!"


Jun berseru dari jauh, sekitar sepuluh meter dari tempat keberadaan Sona. Sona pun segera berlari ke arah Jun untuk memegang layangan itu.


"Benar, kah?" Sona ingin ikut menerbangkan layangannya juga.


"Kau mau coba?" tanya Jun.


Sona mengangguk. Ia pun melihat layang-layang itu sudah tinggi. Entah berapa meter dari permukaan laut. Yang jelas benang kasur layangan itu sudah hampir habis. Sona pun bergantian memegang benangnya.


Benar terasa berat.


Pada akhirnya keduanya menghabiskan waktu bersama sebelum jam makan siang tiba. Jun pun akhirnya menyerahkan sepenuhnya layangan itu kepada Sona. Sona pun bisa memainkan layangan mereka. Namun, tak berapa lama kemudian sesuatu terjadi.

__ADS_1


Jun?!


Tiba-tiba saja Sona merasakan tubuhnya hangat sekali. Dan ternyata Jun memeluknya dari belakang. Seketika itu juga Sona merasa geli sendiri.


"Biarkan aku memelukmu, Sona." Ternyata Jun memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk Sona dari belakang. Sona pun tak berdaya untuk menolaknya.


Sepuluh menit kemudian...


Layangan itu masih berada di angkasa. Diam karena didadung oleh Jun di sebuah bebatuan besar. Sedang sang pemilik layangan mengajak Sona untuk duduk bersama. Mereka duduk di bebatuan pantai sambil melihat ombak yang berkejaran. Jun pun melempar kerikil ke lautan. Ia melihat bagaimana percikan air itu muncul ke permukaan. Sona pun memerhatikannya.


"Aku ingin sekali memperkenalkanmu dengan kedua orang tuaku, Sona." Jun berkata seperti itu.


Jun?!


"Tapi entah mengapa masih ada yang mengganjal di hatiku. Apakah semua baik-baik saja?" tanya Jun kepada Sona.

__ADS_1


Sona pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Jun. Tapi ia merasa sungkan untuk membicarakannya lebih lanjut. Ia khawatir membuat Jun marah.


"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Tapi entah mengapa hatiku ini selalu saja gelisah saat mengetahui dia masih mendekatimu. Aku juga tidak mungkin marah padanya karena seorang perempuan. Dia teman dari teman baikku. Aku kadang bingung terhadap perasaanku sendiri." Jun mengungkapkan isi hatinya.


Sona tertunduk. Ia mengerti. Tapi ia tidak bicara apapun. Hanya mendengar Jun bicara dan mengatakan semuanya.


"Sona, apakah ada sesuatu hal yang dapat meyakinkan aku jika kau hanya milikku?" tanya Jun kemudian.


"Jun?"


"Maksudku apakah kau bisa mengatakan langsung padaku bagaimana isi hatimu yang sebenarnya? Tidak diam saja saat bersamaku? Aku ingin kau lebih banyak bicara dariku, Sona. Bisakah begitu?" Jun akhirnya mengeluarkan unek-unek dari hatinya.


Sona mengambil napas dalam. Ia tahu jika banyak diam di hadapan Jun yang sekarang. Sedang Jun menginginkan keceriaan. Tapi Sona masih membutuhkan waktu untuk merubah sikapnya. Bayang-bayang akan sikap dingin Jun dulu sering terlintas di benaknya. Dan tidak mudah bagi seorang wanita untuk melupakan sesuatu. Termasuk kenangan buruk sekalipun. Sona masih membutuhkan waktu untuk bersikap lebih luwes kepada Jun.


"Aku akan mencobanya." Sona pun mengecup pipi Jun tanpa aba-aba sebelumnya.

__ADS_1


Sona?!


Saat itu juga Jun terperanjat seketika. Ia tak percaya jika Sona akan menciumnya. Sedang Sona tampak tersipu malu sendiri di hadapan Jun.


__ADS_2