PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Gembira


__ADS_3

Betapa senang hati Jun saat melihat Sona mulai tersadarkan. Ia pun segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan Sona. Ibu dan kedua adik Sona yang tertidur di sofa ruangan juga ikut terbangun dari tidurnya. Ia melihat Jun yang memanggil dokter keluar.


"Kakak?"


Kedua adik Sona pun segera berlari mendekati kakaknya. Yana dan Mina melihat sendiri Sona yang mulai tersadarkan. Air mata kebahagiaan itu akhirnya menetes di pipi mereka. Di hari ke tiga ini ada kabar baik untuk Sona. Sona telah tersadar dari komanya.


Belasan menit kemudian...


"Bagaimana, Dok?" tanya Jun kepada dokter yang baru saja memeriksa Sona.


Dokter mengangguk pelan. "Nona Sona sudah mulai kembali normal seperti sediakala. Hanya saja kita harus melakukan pemeriksaan yang lebih dalam. Scan otak harus segera dilakukan begitu juga dengan rontgen ke seluruh tubuhnya. Tapi itu semua tidak bisa dilakukan secara bersamaan. Tubuhnya belum pulih sempurna. Nona Sona masih lemas." Dokter mengatakan kepada Jun.

__ADS_1


"Tidak apa, Dok. Aku akan menunggu kesembuhan Sona sepenuhnya. Adakah yang perlu kulakukan untuk mempercepat kesembuhannya selain tindakan medis dari rumah sakit?" tanya Jun lagi.


Dokter mengerti kekhawatiran yang melanda hati Jun. "Kemungkinan selama satu minggu ini nona harus menggunakan kursi roda untuk mempercepat proses pemulihannya. Dan selama itu juga dia harus mendapatkan dukungan moral yang lebih. Karena saya lihat nona tadi terus menyebut Anda. Sepertinya hanya Andalah yang bisa memberikan semangat padanya," kata dokter lagi.


Jun mengerti. "Baik, Dok. Saya siap."


Perasaan bersalah itupun membuat Jun siap menanggung konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Dokter kemudian memberikan resep obat untuk ditebus oleh Jun nanti. Mereka kemudian mendiskusikan nutrisi yang terbaik untuk Sona agar lekas pulih kembali. Jun akan izin tidak bekerja selama beberapa hari ini. Semua tak lain karena cinta di hati.


Sore harinya....


"Rumahnya luar biasa ya, Mina. Pantas saja kak Sona betah bekerja di sini."

__ADS_1


Yana berceloteh saat melihat-lihat isi rumah Jun. Sedang ibu Sona menemani Jun mengantarkan Sona ke dalam kamarnya.


"Benar, Kak. Rumah kak Jun ini seperti istana. Nanti kak Sona akan jadi putrinya dan kak Jun jadi pangerannya." Mina pun menimpali dengan lugunya.


"Kakak juga ingin dapat seperti kak Sona, ah. Tapi apa bisa ya?" Yana yang pubertas pun mulai berandai-andai mendapatkan pria seperti Jun.


"Hihihi. Kak Yana mengkhayal." Mina pun menertawakan kakaknya.


Kedua kakak-beradik itu lalu berjalan-jalan menyusuri rumah Jun yang besar. Pada akhirnya sang ibu datang lalu memanggil mereka. Ibu Sona akan masak di rumah Jun hari ini. Tugas-tugas Sona semua ia yang akan menggantikannya. Sedang Jun akan menemani Sona beristirahat di kamarnya. Jun ingin menebus kesalahannya.


Malam harinya...

__ADS_1


Jun membantu Sona makan malam. Tampak Jun yang menyuapi Sona dengan sepenuh hatinya. Jun pun tersenyum menatap gadisnya. Senyum tulus yang baru bisa ia berikan setelah bertengkar.


"Ayo tambah lagi, ya." Jun pun kembali menyuapi Sona.


__ADS_2