
"Angel?" Jun pun melihat siapa gerangan yang meneleponnya.
"Siapa?" tanya Sona yang memberanikan diri untuk bertanya pertama kalinya.
"Angel. Dia masih kerabatnya Tito. Sebentar ya." Jun pun mengangkat telepon itu di depan Sona.
Sona terdiam mendengar percakapan mereka. Tak lama pelayan pun datang membawakan minuman untuk keduanya. Sona pun segera meminumnya. Ia mencoba merasakan bagaimana rasa dari vanila blue yang sebenarnya. Dan Sona belum terbiasa.
Rasanya sedikit aneh. Apakah karena belum terbiasa?
Sona pun kembali menunggu Jun selesai bicara di teleponnya.
"Aku tidak bisa banyak membantumu, Angel. Kau harus berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Aku juga punya kehidupan yang harus kujalani. Berjuanglah untuk masa depanmu." Jun berbicara seperti itu kepada Angel yang meneleponnya. "Baik. Sampai nanti." Jun pun segera memutuskan sambungan telepon itu.
__ADS_1
Sona terdiam di depan Jun. Gadis cantik bak mutiara itu kini menunggu Jun bicara. Ia ingin tahu apa isi pembicaraan Jun dan orang yang meneleponnya.
"Angel meminta bantuanku untuk mendapatkan Tito. Sedang aku dan Tito bukan teman dekat." Jun menuturkan.
Sejenak Sona memikirkannya. "Angel menyukai Tito?" tanya Sona lebih lanjut.
Jun mengangguk lalu menyeruput minumannya. "Angel adalah gadis kaya. Ayahnya penambang emas di luar kota. Bisa dibilang dia adalah anak seorang konglomerat ibu kota. Tapi dia menyukai Tito yang masih berada di bawahnya." Jun menjelaskan.
"Kau tahu banyak tentang Tito?" Sona menanyakannya lagi.
Seketika itu juga Sona menyadari kesalahannya. "Maaf. Aku hanya merasa kesal jika kau menerima telepon dari wanita lain," tutur Sona kepada Tito. Saat itu juga senyum Jun mengembang di wajahnya. Ia merasa senang dengan pengakuan Sona.
Sona, aku yang lebih cemburu jika Tito mendekatimu. Aku harap kita bisa bersama selamanya.
__ADS_1
Pada akhirnya sang majikan itu jatuh hati kepada pembantu rumah tangganya. Kenangan demi kenangan akan sikap dinginnya kepada Sona pun mulai teringat kembali di benaknya. Dari tidak menghiraukan kehadiran Sona, tidak memedulikan perhatiannya, bahkan Jun juga pernah membentak Sona agar keluar dari kamarnya. Semua itu terbayang kembali di benak Jun. Tapi kini sang majikan telah berubah. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Sona.
Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka? Dan apa yang akan Jun lakukan agar Sona tetap berada di hatinya?
Sore harinya, di pelabuhan ibu kota...
Suara burung berkejaran dengan ramainya di langit pelabuhan muatan kapal ikan. Tampak seorang pria tua berusia sekitar lima puluh tahun sedang mengawasi jalannya pengisian muatan ke kapal besar. Yang mana muatan-muatan itu berisi ikan segar yang siap untuk dipasarkan. Baik ke dalam maupun ke luar negeri.
Pria itu kemudian mendapat pemberitahuan dari anak buahnya jika ada seseorang yang datang. Ia pun lekas meninggalkan pengawasan dan meminta anak buahnya yang menggantikan. Pada akhirnya pria tua itu pergi menuju sebuah pondokan yang sengaja dibangun di sana. Seorang pemuda pun menyambut kedatangannya. Ialah Jun yang datang menemui ayahnya.
"Kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemui ayah atau memuluskan rencanamu?" tanya pria tua itu lalu duduk di samping Jun.
Jun pun tertawa. Ia merasa malu saat niat kedatangannya sudah diketahui oleh sang ayah.
__ADS_1
"Apa kabar, Yah? Sudah lama tidak pulang ke rumah. Apakah kalian akan benar-benar menetap di sini?" tanya Jun, berbasa-basi sebelum menuju ke inti pembicaraan.