PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN

PENYESALAN MAJIKAN TAMPAN
Menyesal


__ADS_3

Jun merasa gara-gara Tito lah semua kesalahpahaman ini terjadi. Gara-gara Tito lah Sona masuk rumah sakit dan sampai mengalami koma. Jun tidak terima. Sangat tidak terima dengan apa yang Tito lakukan kepada Sona. Sedang melaporkan ke polisi belum mempunyai bukti yang kuat untuk menjatuhkannya. Sona masih koma. Ia belum bisa memberikan keterangan atas kejadian yang telah berlalu.


Sona, lekaslah tersadar. Dan buat orang itu menyesal.


Pada akhirnya Jun harus puas memberi Tito satu kali tinjuan dari tangannya sendiri. Tito pun segera pergi berlalu dari hadapan Jun dengan wajah tak suka. Keduanya menjadi musuh dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi Jun tidak mempermasalahkannya. Tak lain demi membela kehormatan Sona semata. Seorang gadis yang Jun cintai di dalam hatinya.


Malam harinya...


Langkah kaki itu terlihat begitu pelan saat memasuki sebuah ruang rawat yang ada di rumah sakit. Bak tak berdaya, bak tak bertenaga. Lemas dan sedih bercampur satu di dalam hatinya. Ialah Jun yang datang ke ruang rawat Sona malam ini.


"Jun?"


Seorang ibu menyambut kedatangannya yang merupakan ibu dari kekasihnya sendiri. Jun pun tampak menyerahkan bingkisan yang dibawanya untuk ibu beserta kedua adik Sona. Ia lalu meminta ibu Sona untuk beristirahat saja. Jun akan bergantian menjaga Sona malam ini.

__ADS_1


Sona masih dalam keadaan koma. Ia mengalami pendarahan di kepalanya. Dokter akan menindaklanjuti jika dalam tiga hari Sona belum juga tersadarkan. Operasi besar akan dilakukan.


Sona ....


Jun menarik kursi. Ia lalu duduk di sisi pembaringan Sona. Raut wajahnya tampak sedih tersorot lampu ruangan. Matanya pun mulai berkaca-kaca karena menahan rasa sesak di dada. Gadis yang dicintainya itu kini tengah terbujur tak berdaya. Sona masih dalam keadaan koma.


"Bintang di langit itu indah sekali."


Teringat kenangan saat bersama Sona malam itu. Dimana keduanya baru saja selesai melakukan permainan kecil mereka. Jun pun membiarkan Sona merebahkan kepala di dadanya. Keduanya tampak lelah. Jun pun mengusap-usap lengan Sona sambil tidur di teras lantai dua rumahnya.


Sona tersipu malu. Ia pun menggigit dada Jun. Saat itu juga Jun kesakitan. Ia mengusap-usap dadanya sendiri.


"Sayang, jangan digigit, sakit." Jun pun menahan rasa sakit karena digigit Sona.

__ADS_1


Sona tertawa kecil di sisi Jun. Ia merasa bahagia setelah melewati pergantian hari bersama prianya. Malam itu akhirnya mereka putuskan untuk memandangi langit yang dipenuhi bintang berkilauan. Lalu pada akhirnya Jun pun mengangkat Sona ke dalam kamarnya. Jun merebahkan Sona di atas kasurnya.


.........


Sona ....


Tanpa terasa air mata itu jatuh membasahi pipi Jun. Setetes demi setetes yang membuat gemuruh di dalam hatinya semakin besar. Jun merasa menyesal karena telah meninggikan egonya. Tanpa peduli dengan penjelasan yang Sona berikan. Dan malam ini ia hanya bisa terdiam di dalam kesedihannya. Jun menyesal dengan perbuatannya.


Esok harinya...


Mentari belum terbit. Jun pun tampak tertidur di sisi pembaringan Sona setelah menangis semalam. Tampak jari-jemari yang lentik itu mulai bergerak pelan. Napasnya pun berangsur normal seperti sediakala. Ialah Sona yang mulai tersadar dari komanya.


"Jun ...."

__ADS_1


Suaranya terdengar sangat lemah. Namun, nama yang pertama kali disebutkannya adalah nama pria yang dicintainya. Jun pun merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia lalu membuka mata untuk melihat keadaan Sona. Jun pun melihat tangan Sona mulai bergerak. Sontak wajah Jun jadi semringah.


"Sona?!"


__ADS_2