
Jun membuka pintu ruangan. Saat pintu terbuka saat itulah detak jantung Sona tidak beraturan. Ia sebenarnya cemas bertemu dengan Tito kembali. Tapi saat ia masuk ke dalam, hatinya pun jadi tak tega seketika. Sona melihat sendiri tubuh Tito yang terbalut perban dan tidak bisa digerakkan. Selang infus dan udara itu pun tersambung di tubuhnya.
Ya Tuhan ....
"Jun?" Kai dan Vio yang berada di ruangan pun segera menghampiri Jun.
"Di mana ayah dan ibunya?" tanya Jun segera. Ia merasa aneh dengan keadaan seisi ruangan.
"Paman dan bibi sedang pergi ke luar negeri. Mereka baru kembali nanti malam. Itu juga jika tidak terjadi keterlambatan penerbangan. Sehingga kami yang duluan kemari," terang Vio kepada Jun.
"Lalu siapa yang menemaninya semalam sampai kalian datang?" tanya Jun lagi.
__ADS_1
"Angel. Yang datang ke rumah sakit saat mengetahui Tito kecelakaan. Dia orang pertama yang melihat Tito." Kai menambahkan.
"Astaga ...." Sontak Jun pun merasa miris mendengar hal ini.
Selama ini Tito selalu menghindari Angel. Bahkan bisa dikatakan ia tidak menginginkan Angel. Cinta Angel bertepuk sebelah tangan kepada Tito. Tapi Angel pulalah orang yang pertama kali menemani Tito di rumah sakit. Jun tidak habis pikir bagaimana perasaan Angel saat itu. Pastinya Angel merasa sangat sedih sekali.
"Jun ...." Sona pun menegur Jun yang terdiam di sisinya.
Pada akhirnya mereka menunggu kabar dari dokter atas keadaan Tito. Sedang kedua orang tua Tito belum bisa dipastikan kapan akan datang. Kai dan Vio bersama Jun dan Sona pun berbincang sebentar di ruangan. Mereka membahas bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.
Pukul satu siang waktu perbatasan dan sekitarnya...
__ADS_1
Dokter baru saja mengecek kondisi Tito. Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan, akhirnya kondisi Tito bisa diharapkan untuk lekas tersadar. Saat ini Angel pun sudah datang dan menemani proses pemeriksaan. Tampak Angel yang kurang tidur karena menjaga Tito semalam.
"Bagaimana, Dok?" Angel pun segera menanyakan keadaan Tito selepas dilakukan pemeriksaan.
Dokter tampak melepas maskernya. "Hari ini pasien mengalami kemajuan yang sangat pesat. Diperkirakan tidak lama lagi dia akan tersadarkan. Detak jantungnya sudah berangsur normal, tekanan darahnya juga sudah stabil. Kemungkinan dua atau tiga jam lagi dia akan tersadarkan. Nanti kami akan kembali lagi ke sini." Dokter menjelaskan.
Angel tersenyum semringah. "Baik, Dok. Terima kasih." Angel pun ceria kembali saat mendengar Tito akan siuman.
Angel merasa senang dengan kabar ini. Begitu juga dengan Jun, Kai dan Vio. Mereka turut bergembira dengan prediksi yang diberikan sang dokter. Sona juga ikut senang setelah mendengar kabar itu. Ia berharap yang terbaik untuk Tito.
Syukurlah dia akan tersadarkan. Tito, aku harap kejadian ini bisa menyadarkanmu jika tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain. Aku berharap yang terbaik untukmu. Tampaknya Angel juga dengan penuh kerelaan menjagamu. Mungkin Angel lah yang terbaik untukmu. Berbahagialah bersamanya.
__ADS_1
Sona berdoa yang terbaik untuk Tito. Ia berharap setelah kejadian ini Tito bisa tersadar dari sikapnya yang suka memaksakan kehendak kepada orang lain. Pada akhirnya teman-teman Tito pun bersuka cita dan memanjatkan syukur atas kabar yang diberikan dokter. Mereka berharap Tito bisa lekas siuman sebelum jam yang diprediksikan oleh dokter.