
Seharian Udin mengikuti prosedur pendaftaran universitas swasta tersebut.
Sebenernya satu sisi,ia merasa malu berkuliah si umur yang sudah mendekati 27 tahun.
Tapi satu sisi, ia juga butuh pendidikan untuk meraih cita-citanya dan membuktikan pada orang-orang jika ia bisa sukses.
Drt....Drt Drt...
(halo pak)
(Halo Din, masih lama gak disana, ini saya kewalahan gak ada kamu) ujar Edi membuat Udin kaget.
(Kewalahan gimana pak, Faisol nakal kah atau rewel?) tanyak Udin mengingat putranya yang begitu aktif sekarang,pasti membuat Indri dan Edi kewalahan.
(Gak kok bukan itu, kerjaan saya maksudnya.Saya jadi gak ada istirahatnya karena kamu gak ada.
Pengen liatin anak kamu aja susah,ini kerjaan numpuk)jawab Edi membuat Udin menggaruk tengkuknya sekilas
(Em...iya deh pak, ini antri soalanya saya udah capek juga ini, begitu selesai saya langsung ke kantor.)ucap Udin sambil berjalan menuju meja berkas.
(masih lama banget?)
(Gak tau nih pak, saya kan calon pendaftar baru jadi gak tau dari mana kemana rutenya ini pak.
Jadi nanya-nanya dulu----
Bruk!!!!
Udin tidak sengaja menyenggol lengan seorang perempuan, membuat perempuan itu menoleh.
Bisa hati-hati gak sih Kak kalau jalan." ucap perempuan tersebut,sambil memunguti kertanya yang berhamburan
Ma--maaf maaf, saya gak sengaja."ujar Udin,lalu ia berjongkok membantu perempuan itu.
Begitu perempuan itu mendongak,ia melihat Udin memegang berkas.
"Mahasiswa baru?" tanya perempuan itu membuat Udin ikut mendongak, ia bahkan sudah tidak tau telepon masih tersambung atau tidak.
"Calon Bu" jawab Udin membuat perempuan itu menganga.
Apa kamu bilang?Bu? Setua itukah muka saya?" tanya Dini dengan kesal membuat Udin gelagapan.
'Perasaan aku ngomong gitu biar sopan dech, kok marah sih?' ucap Udin dalam hati
"Ehh maaf...Saya buru-buru sekali lagi maaf Bu.lanjut Udin,lanjut berdiri kemudian meninggalkan Dini yang masih menahan kesal.
"Tunggu!!!
Udin kembali berbalik, membuat Dini langsung berjalan cepat mendekati Udin.
"Denger baik-baik ya calon mahasiswa baru.saya ini senior kamu dan jika kamu terpilih jadi mahasiwa.
Saya pastikan, saya yang akan ospek kamu,simpan!" tegas Dini, lalu ia pergi meninggalkan Udin
"Kenapa sih marah-marah mulu, cewek sekarang aneh dech,padahal uda minta maaf." gumam Udin lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sampai ruangan BEM,Dini langsung melempar tasnya ke karpet membuat teman-temanya bingunng.
"Kenapa lagi sich,Dini?Masih siang loh," tanya Eky si ketua BEM
"Pahamlah pres,kayak gak paham dini aja,kan udah siang biasanya kambuh.celetuk bagus
"Berisik tau gak! Ini kepalaku lagi pusing di tambah lagi ada bocah tengil yang manggil aku Ibu, kalian bayangin aja." ucap Dini dengan esmosinya membuat semuanya menoleh.
'Berani juga itu bocah manggil Dini ibu, belum tau aja dia kalau marah,' ucap Bagus dalam hati sambil menahan tawanya.
"Lahh...Emang iya gak sih." timpal Eky membuat Dini melotot selalu melemparkan berkas di depan Eky.
"Hahaha.... Bagus tidak kuat menahan tawanya, begitu melihat ekspresi Dini
Melihat itu dini langsung tersenyum miring,lalu ia memgambil berkas yang tadi.
"Ok gak apa-apa kalian begitu, hari ini sekertaris Dini cuti ya.
Tolong bapak BEM aja yang meriksa semua data data ini." ujar Dini lalu meletakan di dekat Eky membuat Eky melotot.
"Ya...ya gak gitu caranya." ucap Eky yang tidak di hiraukan oleh Dini.
"Gerah press, saya balik duluan ya uda jam 3 juga." lanjut Dini lalu keluar begitu saja membuat Eky menghembuskan nafas panjang.
"Batu...batu...punya anggota gini banget sih." gumam Eky ,Bagus yang melihat Èky mulai mendumel langsung memakai earphonenya.
' presiden sama sekretaris sama aja," ucap dalam hati mulai memejamkan matanya.
****
"Sial....!ini kenapa lagi padahal kemaren dia baik-baik saja..."
Tiba-tiba Udin mendengar suara perempuan marah-marah ia berjalan memcari asal suara itu.
Begitu ia melihat itu tidak lain adalah wanita yang tadi,Udin buru-buru bersembunyi lalu kembali ke motornya.
"Si ibu-ibu galak." ujar Udin lalu ia mulai memakai helm lalu menyalakan motornya
Dini yang mendengar ada suara motor, langsung buru-buru berlari mencari motor tersebut.
"Eh...ehhh...Bentar saya nebeng ya sampe depan aja,mobil saya gak bisa nyala." ucap Dini belum melihat jelas wajah Udin karena ia sudah memakai helm.
Begitu Udin membuka helmnya Dini langsung melotot
Kamu?"
"Iya Bu,saya."jawab Udin datar membuat Dini kembali harus menahan kesal.
"Huhhh...ok sekarang saya nebeng sampe depan, mobil saya rusak," ucap Dini dengan cuteknya membuat Udin menaikan alisnya sebelah.
"Bukan urusan saya sihhh bu
"Uda...udahh gak usah banyak cingcong ayo!" lanjut Dini membuat Udin memilih diam.
"Iya ya udah." ujan Udin mengalah percuma juga melawan senior seperti Dini.
__ADS_1
"Gak usah modus yaa, ngerem-ngerem mendadak."ucap Dini memperingati lagi-lagi Udin hanya bisa menghela nafas panjang.
"Jadi mau nebeng gak sih Bu?saya telat ini di tungguin anak saya," kesal Udin membuat Dini heran.
"Udah yok berangkat." lanjut Dini lalu mereka berangkat
"Eh...Stop-stop saya di sini aja."
Udin menghentikan motornya membiarkan Dini turun.
"Dini....!" panggil seseorang membuat Dini menoleh detik kemudia ia kaget.
Udin yang melihat ekspresi Dini langsung bingun,namun ia tidak peduli.
Saya dulu bu---
"Et...wait...wait." cegah Dini memegangi tangan Udin.
"Apa kabar? Lama kita gak ketemu.ucap laki-laki tersebut membuat Dini menarik nafas dalam-dalam.
"Bisa gak kamu gak usah sok baik, muak tau gak." jawab Dini dengan tangan yang masih setia memegang lengan Udin.
"Alah....Gak usah sok jual mahal lah sayang kamu kan sayang banget sama aku."
Plak!
"Jangan pernah memanggilku sayang,dan satu lagi aku udah punyak pacar,ini." tegas Dini sambil menunjuk Udin otomatis kaget.
"Ini pacar kamu?"
"Iya,kenapa?Gak suka?" jawab Dini membuat laki-laki itu bingun.
"Ayo sayang kita berangkat." ucap Dini pura- pura romantis, lalu ia kembali naik ke motor.sedangkan Udin malah planga-plongo dengan ucapan Dini barusan."Mau kemana lagi Bu? Saya buru-buru ini." tanya Udin begitu motor sudah melaju lumayan jauh.
"Ealah...stop-stop saya turu sini aja." jawab Dini lalu ia turun
"Makasih."ucap Udin tiba- tiba lalu ia melajukan motornya sebelum Dini mengamuk.
Ishh....kenapa sih semua orang gak ada yang beres hari ini!" umpatnya,lalu ia menyembrang karena melihat cafe.
Disisi lain begitu sampai di kantor, Udin kembali tergiang-ngiang suara Dini yang penuh dengan emosian.
"Tuh orang kenapa ya, putus cinta apa ya sampe ngaku-ngaku saya jadi pacarnya kan aneh." gumam Udin lalu naik ke atas.
"Woy dari mana aja, uda mau jam 5 baru balik." tanya Robi saat berpapasan.
"Eh itu dari kampus,kamu mau kemana?" tanya Udin
"Kamu gak lihat apa, ini jam berapa! Jawab Udin mengangguk.
"Maklum abis capek seharian ngurus ini itu."jawab Udin membuat Robi mangut-mangut.
Semagat, aku balik dulu." lanjut Robi yang di balas anggukan oleh udin.
"Hati-hati."
__ADS_1